Qurban Bersama Korban

November 25, 2009

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahakan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qabil) berkata: ‘Aku pasti membunuhmu!’ berkata Habil: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa’,” (Q.S. Al-Maidah: 27).

Daerah saya, Tasikmalaya, adalah salah satu daerah korban bencana gempa Jawa Barat beberapa bulan lalu bersama Bandung dan Cianjur. Memang sudah agak lama, tapi masih menyisakan puing-puing kerusakan rumah, kehilangan mata pencaharian, dan kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Muncullah ungkapan keluh-kesah dan hawatir dari lisan para korban gempa, “akan kah kita menikmati daging qurban tahun ini?”

Biasanya, seperti yang biasa saya saksikan, idul adha merupakan instrument gegap gempita masyarakat di sela-sela ibadah kepada Allah SWT. Kaum berpunya mempersembahkan korban sembelihan untuk dibagi-bagikan sebagai tanda syukur akan nikmat-Nya, kaum miskin menerima daging qurban dengan bahagia disertai doa syukur akan nikmat-Nya, dan terutama anak-anak yang riang gembira melantun takbir sambil mengibaskan kipas membakar sate daging qurban; itulah suasana masyarakat yang tergambar secara kasat mata.

Sementara dalam kedalaman suasana itu ada hal yang tersembunyi bernama semangat pembebasan. Dalam kata lain, segala penderitaan, kesusahan, dan kesulitan hidup masyarakat “disembelih” seiring dengan disembelihnya hewan qurban. Di sinilah Allah mengingatkan bahwa derajat manusia sama tinggi, sama rendah. Si kaya dan si miskin sama-sama menikmati kebahagiaan akibat terbebasnya segala bentuk penderitaan; dalam simbol sama-sama berbagi mencicipi daging qurban dari satu hewan yang sama.

Dalam belantara bencana yang mengguncang –hampir seluruh dunia — dewasa ini, sejatinya semangat pembebasan itu kian menebal. Sebab penderitaan, kesusahan, dan kesulitan hidup sudah pasti menghunjam mental setiap masyarakat, terutama bagi kaum miskin yang terhimpit dalam lingkaran ekonomi global dan para korban bencana alam. Ungkapan keluh-kesah dan hawatir dari lisan para korban gempa, “akan kah kita menikmati daging qurban tahun ini?” adalah bukti penderitaan itu nyata adanya. Dan, kiranya ungkapan itu pantas ada karena jangankan untuk berkurban, memikirkan tempat tinggal yang luluhlantak saja sudah pusing tujuh keliling.

Maka, supaya sebagai rasa syukur dan semangat pembebasan itu lebih mengena, alangkah lebih baik jika ibadah qurban –kaum kaya dan pejabat Negara— dilaksanakan di lokasi-lokasi yang terkena gempa; seperti Cigalontang-Tasikmalaya, Pangalengan-Bandung, sebelah selatan Cianjur, dan daerah-daerah lainnya di Padang sana. Dalam kata lain, kita berqurban bersama korban bencana alam. Dengan demikian, setiap manusia bisa berbagi kebahagiaan dan yang terutama adalah merasakan bagaimana jadi korban gempa. Qurban, bukan amalan seremonial atau pemenuh kewajiban semata tanpa pesan sosial dan moral mulia di dalamnya!

Q.S. Al-Maidah (27) yang saya kutip di atas mengisyaratkan bahwa syariat qurban itu sudah ada semenjak pertama kali ikatan kemasyarakatan diciptakan. Habil dan Qabil – anak Adam dan Hawa — adalah masyarakat pertama yang memanifestasikan pesan semangat pembebasan dari Tuhan. Dalam ayat di atas juga secara tegas diterangkan adanya pesan sosial dalam pelaksanaan qurban; hanya bentuk persembahan terbaik (baca: takwa) yang bakal diterima baik oleh manusia apalagi oleh Allah seperti yang dilaksanakan oleh Habil.

Lebih hebat lagi adalah fenomena qurbannya Nabi Ibrahin a.s. Saking besarnya kepatuhan dan tebalnya ketakwaan Ibrahim a.s. kepada Allah, ia rela mempersembahkan puteranya, Ismail, untuk disembelih (baca: diqurbankan). Tapi, sesungguhnya Allah ingin mengingatkan bahwa setiap apa yang dipersembahkan kepada-Nya dengan penuh kepatuhan dan ketakwaan, akan ditebus dengan yang lebih besar dari rezeki-Nya. Dan Kami (Allah) tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar,” (Q.S. As-Syafaat: 107). Maka, berbahagialah bagi mereka yang berqurban!.

Sebaliknya, sesiapa orang yang hawatir dan enggan berqurban karena takut hartanya berkurang (seperti Qabil), jangankan ridla Allah menghampirinya, Rasulullah sekalipun enggan mengakuinya sebagai bagian dari ummat Nabi Muhammad. Demikian Rasulullah bersabda: Barang siapa yang sudah mampu dan berkenan tetapi tidak melaksanakan qurban, maka jangan sekali-kali ia menginjak ke mushollahku,” (al-hadist). Naudzubillah.

Alhasil, di zaman yang jauh dari masa-masanya Nabi Muhammad Saw., siapa di antara kita yang ingin menjadi sahabat Rasul, yang pasti diakui dan dipersilakan menginjak mushollahnya? Sementara kesempatan itu sudah terbuka lebar; berqurban dengan semangat membebaskan korban bencana alam dari kesulitan, kesusahan, dan penderitaan yang mengimpit kehidupan mereka. Berlomba-lombalah mendapatkan tempat di sisi Allah dan Rasul-Nya. Sebab siapa yang cepat, dialah yang dapat. Wallahualam.

AMIN R ISKANDAR


Kejujuran Kunci Entrepreuneur

November 21, 2009

Dalam pentingnya menyoal perekonomian bangsa Indonesia dewasa ini, Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (LAZIS Muh) Kota Bandung bekerjasama dengan Bank Bukopin Cabang Kota Bandung dan Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah menyelenggarakan seminar ekonomi. Seminar yang berlangsung Sabtu (21/11/09), bertempat di lantai tiga kampus STIE Muhammadiyah Kota Bandung, Jl. Karapitan. Sementara yang bertindak sebagai pemateri adalah Kepala Bank Bukopin Cabang Kota Bandung, Suroso; Staf Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Bandung, M. Murzid Hilmi Azis; dan Mahasiswa Pascasarjana UI Jakarta Program Ekonomi Keuangan Syariah, Iu Rusliana.
Acara yang dihadiri oleh kalangan pelajar, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Mahasiswa STIE Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah, dan sebagian pengusaha menengah ke bawah ini berlangsung dalam durasi tiga jam. Di buka pukul 09.00 dan ditutup pukul 12.00. Dan, saat dibuka sesi tanya jawab, suasana diskusi begitu cair dan hangat.

Iu Rusliana, pembicara pertama dalam seminar itu mengemukakan betapa lebarnya peluang setiap orang untuk menjadi pengusaha. Sebab, katanya, Indonesia begitu kaya dengan potensi; baik dalam bentuk sunber daya alam (SDA) seperti tanah, air, dan bahkan pepohonan, maupun sumber daya manusia (SDM) yang begitu banyak. “Kalau orang memiliki naluri ekonomi tinggi, melihat sepetak tanah kosong saja sudah terbayang pundit-pundi uang di sana,” ujar pria yang juga sebagai dosen Fakultas Ushuluddin UIN Bandung ini. Masalahnya, lanjut Iu, semangat entrepreuneur masyarakat Indonesia masih lemah dan lebih tertarik menjadi PNS.

Sementara, M. Murzid Hilmi Azis menambahakan bahwa seorang entrepreuneur yang benar adalah yang memiliki kemampuan mengembangkan usahanya. “Setiap orang bisa memulai membuka perusahaan. Tapi, apakah semua bisa mengembangkan usahanya?” Kata M. Murzid Hilmi Azis. “Misalnya tukang baso. Dalam waktu satu tahun punya satu pikulan. Lima tahun punya satu pikulan. Sepuluh tahun masih punya satu pikulan. Lima Putuh tahun masih juga punya satu pikulan. Apakah ini yang disebut entrepreuneur?” Lanjutnya. Menurut Murzid, hal ini terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat kita akan menegerial usaha, seperti pembukuan penghasilan. Sehingga tidak mampu mengepaluasi penghasilan apalagi menyusun target peningkatan penghasilan.

Bahkan, menurut Murzid, modal utama menjadi pengusaha itu bukanlah uang, melainkan kejujuran, keinginan, karakter atau mental, dan kreativitas-inovatif. Dengan kejujuran, setiap orang dapat mendapatkan modal dengan mudah, “contohnya adalah Rasulullah,” ujarnya. Salah satunya, Murzid memberi bocoran, datanglah ke PT. Telkom, PT. Kereta Api, dan jangan sungkan-sungkan datang ke kantornya di KADIN. “Di sana mungkin bisa mendapatkan bantuan modal,” kata pria yang merintis usahanya sejak kuliah ini.

Ada pun Suroso, meski mendapat kesempatan paling akhir, sebagai Kepala Bank Bukopin menawarkan peluang besar kerjasama antara para entrepreuneur dengan pihaknya. Sebab, bank yang berdiri pada tahun 2005 ini memiliki program di bidang tersebut. Dan, dari kesimpulan seminar tersebut, bangsa Indonesia akan sejahtera bila 2% saja dari jumlah penduduknya menjadi entrepreuneur yang berkualitas. Sementara kali ini, Indonesia baru memiliki 0,02% entrepreuneur saja.

AMIN R ISKANDAR


Drama Presma

November 21, 2009

(Untuk Jurnalistik UIN Bandung)

 

I

Sebanyak dua kubu yang bersyarikat datang ke kontrakan

Beradu pandangan mengadu pertimbangan

Saat malam tiba,

Kami singgah di Al-Fira.

 

Yang satu, satu strip di atas angkatan

Yang satu, dua strip di bawah angkatan

 

Waktu itu hanya sisa satu minggu

Masanya tiba generasi lama diganti yang baru

Rencananya pada Sabtu

Diganti dengan Rabu

 

Memang, berebut jabatan mesti penuh perhitungan

Membuang waswas akan kekecewaan

Tidak semudah dalam ucapan

Beberapa kali kami dapat kebencian

Mungkin akibat yang jadi kebiasaan

 

Setidaknya, kami jadi sedia

Sebab ada kepedulian yang tersisa

Satu generasi jangan jadi dua

Karena campur tangan yang tua

 

II

Cukuplah kami yang bergelut laksana thagut

Saling berebut soal dalam kabut

Sampai pada akhirnya perkara jadi kalut

Meninggalkan kesan generasi kalang kabut

 

Sebagai calon juru warta

Kami gagal berpihak sama rata

Hingga ada kata pengasingan

Dan kehilangan keseimbangan

 

Pun mereka yang jadi juru warta

Bertindak satu sisi juga

Mendengar dari satu suara

Lantas kami jadi tersangka

 

III

Malam dengan rincik hujan

Terpaksa kami tembus dengan kesungguhan

Tanpa lampu, tanpa risaukan kendaraan

Setengah jam kami tempuh perjalanan

 

Muka masam itu

Menyambut kami penuh bendu

Mungkin malu

Esok, kamilah yang jadi nomor satu

 

III

Satu pesan pada akhirnya

Berucap sekata adalah sia-sia

Ada bangga, ada cinta

Sementara luka..?

Biar milik beta saja

 

Dan tawa

Adalah titipan kami yang nyata

Hingga saat ini dan entah sampai kapan

Jabatannya tak pernah diserahkan.

 

Bandung, 20 November 2009

AMIN R ISKANDAR


Jiwa yang Terluka

November 12, 2009

Ada jiwa yang terluka

dari setiap sabda yang kueja

bersama penggalan drama

pada hari kedua.

 

Yang tua kurang bijaksana

si muda sulit terima

lampu yang sayup tak berkata

desingan senjata lirih bicara.

 

Hanya cemara tua

tubuhnya hitam terluka

terbakar kering tak bernyawa

lagi tanda binasa.

 

Tanahku tanah Sunda

Tubuhku Nusantara

Nyawaku Indonesia

Usiaku hampir senja.

 

Ada jiwa yang terluka

setiap pagi membagi tawa

bebatuan membelah raga

Batavia sembunyikan nista.

 

Apa masih ada sabda yang tersisa?

Ia keluar dari jiwa yang tak terluka.

 

Bandung, 11 Novenber 2009

Amin R Iskandar


Sajak Buat Ayah

September 17, 2009

Oleh AMIN R ISKANDAR

Aku telah temukan kini karya seni paling indah

Dalam jerih payah;

Dari harum keringat mendiang ayah

Yang setiap detik pikirnya resah

“Masih bisakan anak-anakku esok masuk sekolah?”

Dengan semangat, tubuh dipaksa basah

Beserta sepasang kerbau di muka, membajak sawah

Yang luasnya tak sampai satu “H”

Dan hanya cukup hibur lara di kala senja

Aku masih teringat bagaimana kau ajarkan

Rahasia seni paling indah

Dengan tumpukan tanah basah

Akibat guyuran hujan kala pemakaman

Aku juga masih teringat

Harum angus keringat

Kita saat sama-sama buka baju di bawah panas

Sambil menyiapkan hiliran kebun tomat

Dan tak kuat dengan panas yang menyengat

Oh ayah…,

Aku kini mulai paham

Akan makna pundakmu yang lebam

Akibat puluhan tahun mencari pakan kerbau

Baik panas maupun hujan tak jadi hirau

Aku kini mulai paham

Sebab jalanmu dulu ada dalam jalanku kini

Mengukir makna seni terindah

Dalam lelah

Oh ayah..,

Ini janji sajak untukmu

Telah aku penuhkan

Sebagai tanda sama-sama pengukir seni

Terindah dalam lelah

Jakarta, 17 Oktober 2009


Maaf Bagi Ufuk

September 13, 2009

Oleh AMIN R ISKANDAR

 

Maafku bagi ufuk

yang belum mampu menggapaimu dalam senja.

 

Maafku bagi ufuk

yang belum mampu menyapamu kala pagi.

 

Maafku bagi ufuk

yang baru bisa berdiri di tengah-tengah malam

dan air mata baru sekedar berlinang

sekedarnya saja.

 

Maafku bagi ufuk

yang waktuku terlanjur habis ditelan siang

sehingga dahaga tak terhindarkan

dan kekurusan dibungkus legam warna

di sela-sela kucuran keringat.

 

Maaf…,

Ufuk!!!


Sakola Agama

September 13, 2009

Oleh AMIN R ISKANDAR

Pasosore, sarengsena adzan asar di kampung. Buruan hareupeun imah seah ku sora barudak leutik; saumuran SD. Aya kana dua puluh urang reana. Aya anu ngadon baren, aya anu galah, aya oge anu patarik-tarik lumpat dina ulin ucing-ucingan. Estu ning kaulinan barudak kampung. Euweuh anu aneh tur meakeun biaya, ari lain kacape mah. Kopeah naplok dina sirah lalaki, tiung nutupan sirah awewena. Baju taqwa ngajiripit mapaes awak barudak, baseuh ku kesang nu luat leet. Unggal poe eta barudak minuhan buruan; nunguan datangna guru sakola agama. Baca entri selengkapnya »


Riwayat Sang Maestro Pencipta Tari Pendet

September 4, 2009

I Wayan Rindi (1917-1976)

Oleh AMIN R ISKANDAR

Menekuni dunia kesenian –terutama seni tari—adalah hal yang paling menyenangkan bagi I Wayan Rindi. Ia dikenal luas oleh masyarakat Bali sebagai penari; banyak ragam tari yang ia perankan di masanya, seperti tari Legong dan tari Kebyar Duduk. Selain untuk ekspresi dirinya secara pribadi sebagai penikmat tari, bagi Rindi, kesenian juga mesti diwariskan dan menjadi khazanah milik setiap generasi. Supaya setiap orang dapat menikmati berbagai kearifan lokalnya yang kaya akan budaya. Tak urung, demi melestarikan satu macam bentuk kesenian, sekecil apa pun kesenian itu; ia gigih mengajarkan segenap apa yang dimilikinya kepada generasi muda di Bali. Baca entri selengkapnya »


Waluh Siem

September 2, 2009

AMIN R ISKANDAR

Hareupeun imah aya balong, gigireun imah aya balong. Caina ngagenclang; nyacas bodas beresih pisan. Sok sanajan langsung diuyup di mana hanaang, jigana moal kudu neupi kakaracunan. Ciciren hirup di kampung, naon bae sagala ditancebkeun di sabudeureun balong. Lain kunaon-naon, ceuk kolot mah tunda poho; di mana hayang tinggal metik, ngala maksudnamah. Baca entri selengkapnya »


Kau, Sinar Fajar Pembuka Mata

Agustus 24, 2009

Oleh Rika Samui

Waktu itu, kehadiran yang mencerahkan setiap pandangan begitu dinantikan.

Kehebatan pemikiran dengan imajinasi-imajinasi tak terbatas dan tak berteori hanya menjadi sel-sel mungil yang menyempil di setiap sudut pengetahuan yang sudah kau genggam.

Aura pancaran sosok baru menyala, menangkap daya tarik yang selama ini tersembunyi. Kami yang baru saja melihat keberadaan asing, tak dapat menahan kilatan cahaya silau yang menandakan betapa berharganya kehadiran yang kau berikan.

Otak, otak yang kami miliki, hanyalah seonggok benda berlendir di dalam tempurung sempit, gelap dan pengap. Sementara itu, otak yang kau miliki, bagaikan lautan luas tak terbatas, berisi sejuta mutiara indah berkilauan.

Setiap perkataan, ucapan, dan perbuatan yang kau tunjukan, membuka setiap pintu hitam yang selama ini tertutup membungkam dan mencengkram setiap pahala yang ingin kami dapatkan.

Jilatan api neraka, semakin hari semakin mendekat. Namun kini, kau datang, menebas percikan-percikan panas dengan pedang fatamorgana kepahlawanan.

Kau.

Malaikat utusan penabur kecerdasan.

Kau.

Terlahir sebagai kunci kehidupan. Dan,

Karena kau.

Sinar fajar pembuka mata.

Penulis; Siswa SMA Muhammadiyah 2 Tasikmalaya