Cinta Terlarang

Februari 22, 2008

Oleh: AMIN RAIS ISKANDAR

Untuk kedua kalinya

Cintaku tumbang pula

Tidak dapatkan restu orang tua

 

Masih juga ada

Di era millennium ini

Cinta ditekan paksa

Seperti di era maringgi

 

Lantas untuk apa?

Pengetahuan meningkat tinggi

Jika masih kurang bijak sana

Menjeruji kebebasan privasi

 

Atas dalih kebahagiaan

Ikut-ikut tentukan pilihan

Tak timbangkan frustasi

Sifat terbunuh mati

 

Tasikmalaya, 6 Februari 2008


Cinta Puisi

Februari 22, 2008

Oleh: AMIN RAIS ISKANDAR

Harus pula aku jujur

Menaruh hati padamu; mengharap nasib mujur

Dan aku sudah berkasih

Tak perlu heran dan bersedih

 

Bukankah cinta laksana puisi?

Suara hati yang terpahat di dinding-dindingnya

Meski tak sampai dimiliki

Akan abadi terbawa di dalamnya

 

Cinta dan puisi mengalun merdu dalam hati

Seperti simponi penghibur gundah hati

Benci adalah cinta yang tertekan

Cinta adalah benci menemukan pelabuhan

 

 

Tasikmalaya, 12 Januari 2008

 


Pecundang

Februari 22, 2008

Oleh: AMIN RAIS ISKANDAR

Seperti ratapan yang tak pernah usai

Ruang kosong tak sedikitpun bisa terisi

Laksana padang pasir, lama rindukan rumput

Seperti ilalang menanti siraman air laut

 

Purnama demi purnama; hati berdiri sendiri

Bertanya pada sebatang rokok; tak jua dapat jawab

Menanti cinta secantik dewi

Masih saja hati disiram sembab

 

Dan yang jauh di sana

   Hinggap membayangi pelupuk mata

Obrolam tiap jumpa lagi-lagi belum usai

     Lagi-lagi diusir benaman matahari

 

Bak kura-kura rindukan bulan

Bak kera cari-cari pisang

Memasang tajam; mata curiga

Takut senapan menghunus; rampas usia

Secara tiba-tiba

 

                                                                                    Tasikmalaya, 12 januari 2008

 


Adu Tawar Karya

Februari 22, 2008

Oleh: AMIN RAIS ISKANDAR

Ku pasang harga karyaku

Secangkir susu + sebatang Dji Sam Soe

Asal jangan diberi anggur

Ibu takan ijinkan mengumbar dengkur

 

Aku kira karyaku dan karyamu sebanding

Toh sama-sama pengisi majalah dinding

Tanpa kutahu

Harus kubayar mahal untuk dosaku

 

Adalah salahku

Menyimpan suara hati di sembarang tempat

Tanpa maksudku

Hilangkan suara hatimu dalam kertas berlipat.

 

Tasikmalaya, 12 Januari 2008


Jawaban Rindu

Februari 22, 2008

Oleh: AMIN RAIS ISKANDAR

Bertanya pada rindu

    Rindu tiba dua hari yang lalu

Sama-sama susuri waktu

       Jalan raya bising bisu

Erat tangan menggenggam

Hasrat hilang tenggelam

Dikubur durja mata muram

     Hari hamper menjelang malam

 

Duduk santai berpandang mata

Basuh tenggorokan air kelapa.

 

                                                                                    Bandung, 07 Februari 2008

 


Simbol-Simbol Ambigu

Februari 22, 2008

oleh: AMIN RAIS ISKANDAR

Tuhan;

Kuasa-Mu beri kami simbol-simbol ambigu

Dalam kata dan benda

                                                                        Air, tanah, api, dan udara

Banyak yang hinakan padahal perkasa

                                                            Kehidupan dan kesembuhan;

Kemakmuran dan kesejahteraan;

Kesakitan dan kerusakan;

Kesejukan dan ketenangan;

Sulit kami jaga dalam keseimbangan

 

Ketumpulan akal

Yanga Kau hadiahkan sebagai anugerah

Jadi senjata saling tebas-saling jaga

Satu sama lain.

Sedikit kearifan berjuang mererai

Lagi-lagi kalah dalam pengasingan

Lagi-lagi jadi kambing hitam.

 

Bukan kuasa kami untuk menuntut

Kacuali berserah akan kuasa-Mu lewat takdir

Semua yang tersembunyi

Di balik simbol-simbol ambigu

Dalam kata dan benda

Kami masih saja berdiri

Di atas tanah-Mu terhampar luas

Di tengah putaran udara tak lagi jernih

Dan masih bergantung pada api dan air

                                                           

Kata-kata-Mu terhimpun dalam kitab suci;

Dikenal sebagai wahyu langit diturunkan ke bumi

Benda-benda-Mu tertata dalam semesta alam;

Pelipur sunyi antara siang dan malam

Lagi-lagi ketumpulan akal

Beku oleh keambiguan mengkristal

Maka tak pantas kami bersombong diri

Kecuali berserah pada Penguasa segala arti.

Tuhan;

Kuasa-Mu beri kami simbol-simbol ambigu

Dalam kata dan benda.

Sebab kami sepi dari pengerti

Alpa dari segala keaslian bermakna

Memaksa berjelaga di seberang sesat

Yang tak pandai bersyukur

Hanyut dalam nikmat sesaat

Serakah pada harta yang tampak nyata

Bangga pada ketinggian jabatan diri.  

 Tasikmalaya, 7 Februari 2008

 

 


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.