Kurasakan Surga dari Matamu

Kurasakan Surga dari Matamu

Selayang daun kian berjatuhan

Setetes embun di pagi hari

tak pernah kutemukan surga darinya

Tak pernah ada Tanya asalnya

Mentari terbir itu sudah biasa

Mengapa justru kurasakan surga dari matamu

dan heranku pun ikut bertanya

Sehebat itukah adanya

Matamu taklukkan hati saat tatapan pertama

Sempat kumenyapa

di sela angkuh dan tanpa jawab

Ingin pula kuhiraukan

tapi tautan hati tak mau lepas

Haruskah aku bertanya pada air

tentang jalan dekati dirimu

seperti ikan persunting betina

dan aku sayangi dirimu

atau saja kubiar ini kata

jadi derita ungkap yang mengendap

Di setiap purnama

dan wajahmu selalu kutatap

Tasikmalaya, 3 Oktober 2008

Mengapa Kau Kenakan Merah Itu

Mengapa kau kenakan merah itu

semakin percantik parasmu saja

Kenapa kau selalu sembunyikan senyum

semakin kecutkan hati saja

Iri aku pada kumbang

yang tak segan menyapa merahnya

seiring senyum bunga yang terlempar

Ingin aku permanis madu

dengan menyapa merahmu

sesering kumbang sapa merahnya

Tasikmalaya, 3 Oktober 2008

Menunggu Matahari

Laksana angina

yang kurindukan setiap hembusnya

tuk dinginkan tubuh dari gerah

Laksana pasir

yang dapat dirikan bangunan

keteguhan jiwa ini

Laksana embun

yang setiap bulirnya

merajut kalung mutiara di leher

Laksana pajar

yang hangatkan pagi

dari bekunya malam

Laksana hujan

yang hidup-suburkan

tanah dari ketandusan

Adalah matahari

yang selalu kutunggu

dan terangi sepanjang hari-hariku

Tasikmalaya 4 Oktober 2008

Jumpa di Hari Jum’at

Tak kuasa kusalahkan Tuhan

pertemukan kembali kau di hari jum’at

setelah berminggu

usahaku tuk napikan rasa ini

Padahal hanya sekata

suara lisanmu yang kudengar

sungguh tak kuasa kuberdusta

suara itu masih ada

Inikah rasa yang tumbuh

dalam jiwa makhluk Tuhan

tumbuh karena pancaran

makhluk Tuhan pula

Tasikmalaya, 4 Oktober 2008

Kapan Bumi Bosan (?)

Ada debur ombak menderu

dalam samudera kalbu

burung Camar melayang membawa Tanya

Tidakkah pernah bosan

Air lumatkan buih

Tanah muntahkan api

dan tembok pecahkan pembuluh

Sampai darah banjiri tanah

Aku dipaksa Tanya

Apa yang Camar takpernah Tanya

Pada angin

yang robohkan pohon

bara hanguskan atap

dan hujan genangi desa

Apa sebab semua ada?

Sebelum debur ombak mereda

Air mata terlanjur merona

dalam jingga

Telinga tak lagi peka suara

Apa perlu kita bertanya pada asap

Kapan ia ambil bagian

dan hentikan debur ombak di kalbu

Tasikmalaya, 5 Oktober 2008

Mencari Jawaban Cinta

Kau yang sembunyikan

riang dalam sendu

Ada apa gerangan

Kau yang mengubur harap

dalam tumpukan putus asa

Kenapa gerangan

Kau yang tegakkan langkah

dalam rangkaian diam

Sampai kapan gerangan

Kau yang kelukan lidah

dengan anyaman kebisuan

apa perlu juga kutanyakan

Gerangan…..

Sudahlah….

Betapa semua kan kecewakan

Sebab adalah pelipur

Sebab adalah semangat

Sebab adalah pengantar

Sebab adalah etika

Mengapa mesti kau buang segala sebab

Gerangan…..

Tasikmalaya, 5 Oktober 2008

Mengejar Cair

Apa sehening suara laut

pada malam hari

sapamu untukku

Apa sedingin pasir pantai

dalam embun pagi

senyummu untukku

Kenapa tak seramah garamnya

menyapa setiap lidah yang menganga

Kenapa tak semerdu siul Camar

riangi seluruh penggemar

Apa sekeras karang

dalam membendung setiap ombak

hatimu untukku

Apa sederas ombak

dalam pacuan yang bergulung

Cara hindarmu dari kejaranku

Kenapa tak setenang bahtera

antarkan tujuan penumpang

Kenapa tak setulus gurita

hingga serahkan nyawa pada gurita

Tasikmalaya, 5 Oktober 2008

Berapa arwah dalam satu ruang

dari rumah yang berbeda

Mengejar pahala yang satu

dan lainnya cucikan dosa

Mengantar doa oleh sibuta

sepanjang jalan yang gulita

Tasikmalaya, 5 Oktober 2008

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s