Sajak Buat Ayah

September 17, 2009

Oleh AMIN R ISKANDAR

Aku telah temukan kini karya seni paling indah

Dalam jerih payah;

Dari harum keringat mendiang ayah

Yang setiap detik pikirnya resah

“Masih bisakan anak-anakku esok masuk sekolah?”

Dengan semangat, tubuh dipaksa basah

Beserta sepasang kerbau di muka, membajak sawah

Yang luasnya tak sampai satu “H”

Dan hanya cukup hibur lara di kala senja

Aku masih teringat bagaimana kau ajarkan

Rahasia seni paling indah

Dengan tumpukan tanah basah

Akibat guyuran hujan kala pemakaman

Aku juga masih teringat

Harum angus keringat

Kita saat sama-sama buka baju di bawah panas

Sambil menyiapkan hiliran kebun tomat

Dan tak kuat dengan panas yang menyengat

Oh ayah…,

Aku kini mulai paham

Akan makna pundakmu yang lebam

Akibat puluhan tahun mencari pakan kerbau

Baik panas maupun hujan tak jadi hirau

Aku kini mulai paham

Sebab jalanmu dulu ada dalam jalanku kini

Mengukir makna seni terindah

Dalam lelah

Oh ayah..,

Ini janji sajak untukmu

Telah aku penuhkan

Sebagai tanda sama-sama pengukir seni

Terindah dalam lelah

Jakarta, 17 Oktober 2009


Maaf Bagi Ufuk

September 13, 2009

Oleh AMIN R ISKANDAR

 

Maafku bagi ufuk

yang belum mampu menggapaimu dalam senja.

 

Maafku bagi ufuk

yang belum mampu menyapamu kala pagi.

 

Maafku bagi ufuk

yang baru bisa berdiri di tengah-tengah malam

dan air mata baru sekedar berlinang

sekedarnya saja.

 

Maafku bagi ufuk

yang waktuku terlanjur habis ditelan siang

sehingga dahaga tak terhindarkan

dan kekurusan dibungkus legam warna

di sela-sela kucuran keringat.

 

Maaf…,

Ufuk!!!


Sakola Agama

September 13, 2009

Oleh AMIN R ISKANDAR

Pasosore, sarengsena adzan asar di kampung. Buruan hareupeun imah seah ku sora barudak leutik; saumuran SD. Aya kana dua puluh urang reana. Aya anu ngadon baren, aya anu galah, aya oge anu patarik-tarik lumpat dina ulin ucing-ucingan. Estu ning kaulinan barudak kampung. Euweuh anu aneh tur meakeun biaya, ari lain kacape mah. Kopeah naplok dina sirah lalaki, tiung nutupan sirah awewena. Baju taqwa ngajiripit mapaes awak barudak, baseuh ku kesang nu luat leet. Unggal poe eta barudak minuhan buruan; nunguan datangna guru sakola agama. Baca entri selengkapnya »


Riwayat Sang Maestro Pencipta Tari Pendet

September 4, 2009

I Wayan Rindi (1917-1976)

Oleh AMIN R ISKANDAR

Menekuni dunia kesenian –terutama seni tari—adalah hal yang paling menyenangkan bagi I Wayan Rindi. Ia dikenal luas oleh masyarakat Bali sebagai penari; banyak ragam tari yang ia perankan di masanya, seperti tari Legong dan tari Kebyar Duduk. Selain untuk ekspresi dirinya secara pribadi sebagai penikmat tari, bagi Rindi, kesenian juga mesti diwariskan dan menjadi khazanah milik setiap generasi. Supaya setiap orang dapat menikmati berbagai kearifan lokalnya yang kaya akan budaya. Tak urung, demi melestarikan satu macam bentuk kesenian, sekecil apa pun kesenian itu; ia gigih mengajarkan segenap apa yang dimilikinya kepada generasi muda di Bali. Baca entri selengkapnya »


Waluh Siem

September 2, 2009

AMIN R ISKANDAR

Hareupeun imah aya balong, gigireun imah aya balong. Caina ngagenclang; nyacas bodas beresih pisan. Sok sanajan langsung diuyup di mana hanaang, jigana moal kudu neupi kakaracunan. Ciciren hirup di kampung, naon bae sagala ditancebkeun di sabudeureun balong. Lain kunaon-naon, ceuk kolot mah tunda poho; di mana hayang tinggal metik, ngala maksudnamah. Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.