Kenyataan Berkesinambunagn

Januari 22, 2010

(Sambungan dari Akibat Lapar)

YA, purnama masih saja menatap bulat. Matanya menyapa setiap apa yang ada di atas hamparan tanah. Meski sesekali awan dan mega menelan langit, tetap saja kekuatan cahayanya tak mampu dibendung; berkelit dan menerobos menyapa elegi bumi. Dini hari memuntahkan embun guna menyapa rerumputan. “Malam Minggu yang indah,” gumam Jhoni. Seharusnya, malam Minggu seperti ini tak dihabiskan bersama laki-laki. Apa lagi memperbincangkan kekuasaan yang tak ada ujungnya. Rasanya suntuk dan hambur kata-kata.

Semestinya. Ya, semestinya, malam Minggu seperti ini dihabiskan dengan sang tambatan hati, kekasih tercinta yang baru jadi harapan serta hanya baru angan-angan; belum mampu untuk dengan tegas mengatakan isi hati. Merajut kasih berdua, menyulam janji di bawah saksi purnama yang tak pernah jalir, menatap hari depan yang indah; masa yang lebih besar dari sekedar memangku jabatan. Masa di mana setiap sudut ruang kehidupan dihiasi kekuatan tiada tara; cinta.

Ah, hati Jhoni membatin. “Hari gini masih memikirkan cinta?” kata-kata kebanyakan orang itu hadir di kening Jhoni. Meski demikian, mungkin juga sedikit ketinggalan zaman, Jhoni masih yakin akan kekuatan cinta. Hanya cinta, ya, hanya cinta yang mampu meyuguhkan aslinya tawa, mengikis sebesar apa pun perbedaan warna kulit, usia, keyakinan, kakayaan, dan segala macam musabab petaka menyapa pergaulan manusia. Hanya cinta, yang tak butuh rekayasa.

Asap rokok mengepul dari masing-masing apitan jemari kedua lelaki di pinggir kali itu, menyapa mata rerumputan liar, hingga perih dan menjatuhkan isak kristal pucat; dingin. Lonjakan cacing dalam perut dikalahkan deru angin yang kian kencang. Tak ada lagi penjajak makanan, semua telah kembali ke pangkuan ranjang di kamar masing-masing rumahnya; membawa penghasilan yang tidak merata. Ada yang untung dengan senyum menyungging di mulut. Ada yang rugi dengan kening berkerut. Ada pula yang hanya impas dengan modal dan cukup dengan bekal untuk seisi perut. Seandainya bukan karena satu hal yang bernama kewajiban berusaha, tak lah mudah bertahan dalam keambangan nasib menjadi makhluk hidup; semuanya cukup melaju dalam jalur kepasrahan dan kepatuhan.

Jhoni, yang beberapa kali memangku jabatan sebagai pucuk pimpinan dalam organisasi, kerap iri dengan keharmonisan hidup keluarga sederhana, seperti para pedagang makanan yang telah pada pulang beberapa jam silam. Setidaknya, dalam waktu-waktu ke belakang, Jhoni pernah merasakan apa yang menjadi keirian hatinya. Keluarganya yang sederhana, sebagai petani, di desa sana, di kaki gunung yang tak kan pernah terlupakan, kerap menyuguhkan kehangatan keluarga; makan nasi meski kadang sepiring berdua; rekreasi dengan menanam rempah-rempah di kebun peninggalan tetua, menyaksikan tarian pepohonan tertabrak angin, dan nyanyian burung liar yang tak tertandingi nadanya dengan musik mana pun. Sungguhpun alam memang sahabat paling bersahaja bagi kehidupan manusia.

Sayang, akhir-akhir perjalanan kehidupannya kini, sebagai pucuk pimpinan organisasi, kerap menyita kehangatan itu. Tugas, rapat, kunjungan ke tempat lain, dan urusan mengurus anggota organisasinya sangat menyita waktu. Sulit menemukan waktu untuk sekedar pulang ke halaman kampungnya, pada masa libur studi sekalipun.

Jhoni sadar, dalam hidup, selain membutuhkan modal pinansial, juga terpenting menanamkan berkah dari orang tua. Itulah musabab kenapa bersikukuh menolak jalur politis guna menopang karir hidupnya. Hanya mereka yang memiliki tempat pulang yang mampu mengenyam hidup berbahagia. Tiada rasa sakit yang paling akut daripada tak memiliki tempat pulang sama sekali.

“Aku tak menyuruhmu menjadi raja yang menguasai negara, kawan. Aku hanya memintamu memimpin organisasi kita saja,” Jhoni dikagetkan oleh obrolan yang belum juga rampung. Lamunannya membuyar entah kapan akan menjumpainya lagi. “Tak ada Negara dan Agama yang akan kau hancurkan.”

“Ah,” Jhoni mendesah.

Sulit juga berbicara dengan politisi zaman ini. Mungkin benar, pikirnya, menjadi politisi tak butuh keluasan wawasan, ketajaman berpikir, apa lagi kepekaan perasaan. Sepertinya, kebanyakan politisi waktu ini akan sepakat; bahwa politik hanya membutuhkan banyak suara, bahkan tak masalah bila sampai harus dibeli dengan biaya mahal. Visi, misi, gagasan, serta janji, cukuplah dibingkai dengan kecerdikan menyulam keindahan senyuman penuh tipuan; selesai perkara merebut tahta. Sungguh pendirian yang sangat memuakkan benak Jhoni.

Sambil mengambil langkah pulang, Jhoni menggandeng pundak sahabatnya. “Kau coba pikirkan kembali apa yang baru saja menguap dari lisanmu, kawan,” katanya lirih namun tegas. “Jangan mentang-mentang lidah tak bertulang serta bibir tak berkerangka, kau seenaknya mengumbar kata. Kau tahu siapa aku. Kau tahu apa yang tertempel di dinding-dinding kamar tidurku. Bahkan kau tahu apa yang menjadi alas tidurku; rangkaian kata yang tiap hari menjadi makanan kajianku. Mudah untuk memahami apa yang kau katakan tadi.”

Malam hampir menjemput pagi. Biarlah sang mentari yang mengecup bumi. Dalam pikir Jhoni, tak perlu lah repot-repot menjadi saksi kemesraan mentari bersama bumi; keduanya sama-sama setia menyimpan rahasia dalam bahasa masing-masing. Hanya manusia yang sulit dipercaya. Mulutnya selalu gatal meracau mengundang suasana jadi kacau.

# $ #

KAMAR tidur kontrakan Jhoni masih menyediakan temaram saja. Bohlam berkekuatan 25 watt tidak terlalu berlebihan. Asal memberi cahaya secukupnya, tidak kegelapan laksana di gua dan jelas menyinari setiap hurup buku yang dibacanya. Seperti cahaya hatinya yang konsisten memberi cahaya semangat hidup mandiri. Bergantung pada orang lain hanya menyisakan rasa sakit saat ditinggalkan dan hanya dibekali penghianatan. Lagi pula, Jhoni telah cukup terlatih dengan yang nama pentingnya menjadi pelopor dari pada sekedar menjadi pengekor.

Bagi Jhoni, memimpin suatu organisasi sama saja dengan memimpin satu Negara. Pucuk pimpinan adalah raja. Anggota merupakan rakyat yang sejatinya diayomi, yang sakit diobati dan yang sehat cukup menghibur, bila tak memiliki kemampuan medis, diperhatikan kesejahteraan hidupnya, dibangun keterampilan pribadinya, dan didewasakan; hingga masing-masing dari mereka mampu tumbuh besar dan mandiri pada masa masing-masing jalan hidupnya. Terlebih dari itu, memimpin organisasi merupakan jenjang kepemimpinan yang suatu hari akan sampai pada puncaknya.

Hari ini boleh saja memimpin organisasi kemahasiswaan, kepemudaan, atau apa pun. Esok hari harus siap memimpin Negara secara luas. Karena itu, tak ada alasan berleha-leha dalam proses pembelajaran. Sukses membangun masyarakat dalam skala kecil adalah bekal kesuksesan membangun masyaraat luas seperti dalam konsep kenegaraan.

Kenyataan itu sifatnya berkesinambungan!!!

Tentu tak dapat dipungkiri, bila dalam perjalanan kepemimpinan sejak dini sudah berani melaku korup, maka demikian pula di masa dewasa saat memangku jabatan dengan keberlimpahan kesempatan yang menjanjikan; memberi ruang lebar kesempatan meraup banyak kekayaan. Ya, alasan inilah, kenapa Jhoni menyarankan sahabatnya untuk kembali memikir ulang apa yang diucapkan sahabatnya.

“Maaf bila kurang nyaman. Inilah tempat tidurku, berantakan. Kita akan sama-sama merasakan bagaimana mengarungi tantangan hidup sebagai masyarakat kurang beruntung,” tutur Jhoni sambil merebahkan tubuhnya.

Lampu yang hanya temaram dipadamkan, hanya dengan mendiami ruang gelap, mata manusia bisa beristirahat secara total. Memetik bunga mimpi pun tak canggung dalam lelap tidur yang mendengkur.

(Akan terus bersambung)

AMIN R ISKANDAR


Akibat Lapar

Januari 14, 2010

(Sambungan Berdiri di Atas Kaki Sendiri)

“YANG memberatkanku adalah ketika memimpin organisasi dalam keadaan lapar. Kau tahu, laparku lebih sering daripada kenyangku,” Jhoni bertutur lagi.
Malam tetap sunyi. Sahabat Jhoni tak berkata-kata. Entah paham. Entah tidak tau apa makna yang Jhoni ucapkan. “Memimpin dalam keadaan lapar.”
Memang, kedudukan dan jabatan selalu menghembuskan angin segar akan kekayaan. Lapar bisa dimusnahkan. Tapi, keadaan perut lapar selalu menjerumuskan logika pada “kegilaan.” Tak terkecuali bagi Jhoni. Berkali-kali ia berjuang menahan kegilaan logikanya akibat lapar, berkali-kali itu pula ia hampir terjerumus ke jurang gagasan korup. Untung, amanat mendiang ayahnya selalu bersemayam dalam pribadi Jhoni; bersama benda yang dititipkan padanya: “Hiduplah selalu ingat akan waktu dan berdiri dalam bingkai kejujuran.” Malah tak jarang ayahnya muncul dalam mimpi-mimpi malam ketika amanat sebelum wafat terlanggar. Lagi pula, selama menjadi pemimpin di level rendah, tak cukup uang untuk membiayai organisasinya. Tak ada alasan untuk korupsi.
Beda level beda pendapatan. Dulu, Jhoni hanya berkuasa dalam lingkup Desa dan Kota. Kini, jabatan level Provinsi sedang menantinya. Entah apa yang jadi pertimbangan orang-orang daerah, sehingga menumpukan harapan pada Jhoni. Dalam posisi inilah Jhoni dihadapkan pada sisi dilematis; mengambil tawaran orang-orang daerah dengan mengorbankan kemerdekaannya, atau berdiri dalam garis kebebasan tanpa menghiraukan segala kekisruhan di organisasinya.
“Karena melihat perjalanan hidupmulah aku datang dan berharap kau maju dalam pencalonan ketua pada Juni yang akan datang,” sahabat Jhoni akhirnya membuka suara.
“Apa maksudmu?”
“Hanya mereka yang pernah merasakan sakitnya kelaparan, akan menanamkan kepedulian bagi orang lain. Seperti pemimpin teladan kita Muhammad saw. Ia terlahir menjadi yatim, tanpa harta, dan tanpa orang tua semenjak dini. Tapi Ia mampu mengubah semua itu menjadi positif,” sahabat Jhoni kian meyakinkan.
“Jangan pernah mengira aku tak berpikir demikian,” jawab Jhoni. “Mungkin, pikiranku lebih jauh dari apa yang kau pikirkan. Kawan, sepertinya kau lupa; siapa yang berdiri di belakang Muhammad saw. Ialah istrinya Khadijah, saudagar kaya raya yang dengan segenap hati memodali segala kebutuhan perjuangan Muhammad. Sementara aku? Siapa yang bersedia seperti Khadijah padaku; menghibahkan harta benda bagi perjuangan agama dan bangsa, tanpa mengharap diberi jabatan dan akses perusahaan? Lagi pula, ini yang jangan sampai kau lupakan. Muhammad menjadi pemimpin teladan karena bimbingan Tuhan langsung turun kepadanya melalui Jibril. Aku hanya insan bergagasan, tapi bukan berarti tak mungkin mengalami perubahan. Idealisme saja tudak cukup, kawan. Aku tetap butuh akomodasi untuk memuluskan laju idealisme. Sepertinya itu sulit dengan keadaanku seperti ini,” lanjut Jhoni panjang lebar.
Keduanya kembali dimakan sunyi. Hanya gemerincik air, denting jangkrik saling sahut, dan tarian angin yang sesekali membelai rambut Jhoni yang mulai kusut. Kian malam, malam Minggu itu semakin ditinggalkan oleh mereka yang memadu kasih. Entah pada pergi ke mana, entah bersembunyi dalam benda apa. Padahal satu jam yang lalu tepi sungai ini masih ramai. Tanpa sengaja, Jhoni sempat melihat mereka yang berselimut semak-semak kering, bersembunyi dalam kaca-kaca mobil yang sengaja di tutup rapat, ada juga yang kemudian pulang karena, mungkin, di rumah lebih asyik dari pada di bawah semak dan dalam mobil. Entahlah, Jhoni bosan memikirkan apa yang mereka lakukan. Hanya purnama ini, yang selalu Jhoni rindukan, seperti merindukan tambatan hatinya; menjadi saksi malam-malam bisu dengan segala dusta dan keterbukaannya.
# $ #
“Jangan terlalu khawatir. Setelah menjadi ketua nanti, kau akan mudah mendapatkan apa yang kau inginkan. Kedudukan yang tinggi setara dengan daya tawarnya nanti. Kau takan kesusahan hidup lagi,” kali ini sahabat Jhoni menghembuskan rayuan kesenangan bagi Jhoni.
“Kau ingin mengatakan bahwa aku tidak akan kelaparan?”
“Persis Jhon, dari pada kau hidup seperti ini. Tidur di kontrakan kumuh. Makan jarang. Tubuh dan hidupmu tak teratur. Orang bergagasan besar sepertimu tak sepantasnya hidup bak perilakunya para pengemis. Ayolah Jhon, aku butuh jawabanmu malam ini. Biar aku yang memobilisasi massa daerah. Aku bisa janjikan kemenanganmu dalam pemilihan enam bulan yang akan datang,” Jhoni kali ini benar-benar dipaksa.
Jhoni menatap mata lelaki di sebelahnya, dengan tatapan tajam. Setelah sekitar dua menit saling beradu tatapan, bibir Jhoni menyungging sedikit saja; senyum ironis keluar lagi untuk keduakalinya. Tangan Jhoni mulai menepuk-nepuk pundak sahabatnya. Kali ini tawanya pecah. “Kawan,” katanya sambil mengangguk-anggukkan kepala.
“Apa harus aku berbicara lebih detil supaya kau paham. Aku lebih memilih kelaparan dalam keadaan seperti ini. Kalaupun aku musnah, aku hanya menyisakan kemusnahan bagi diriku saja. Dari pada harus kelaparan dalam keadaan keberlimpahan jabatan. Sebab laparnya para raja akan memusnahkan agama dan Negara. Kau tahu apa akibat dari perilaku mereka yang korup? Mereka telah menghancurkan wibawa agama yang dianutnya. Mereka telah menelan hak rakyat sehingga menjadi sengsara dan mengemis-ngemis. Kesengsaraan melahirkan kenekatan guna mencari nafkah. Lahirlah kejahatan di mana-mana. Kau tahu apa ujung dari peristiwa ini? Negara mana pun yang dipimpin oleh raja yang lapar akan hancur di jarah kejahatan yang tak terbendungkan. Kejahatan yang sengaja diciptakan,” Jhoni semakin kukuh.
“Karena kau tahu semua itu maka kau harus menjelma menjadi pemimpin bijak dan jauh dari perilaku kelaparan. Tidak banyak yang berpikir seperti itu di kelompok kita. Manyoritas dari kita hanya mengejar kekayaan sebanyak mungkin dari jabatannya.”
“Aku tak yakin bisa melakukannya. Sekuat apa pun keyakinan akan suatu hal, tak menutup kemingkinan akan runtuh juga. Surga dari jabatan dan uang sulit sekali dibendung. Sekali saja aku terperosok ke dalamnya, aku yakin akan sulit menemukan jalan kembali. Maafkan aku, kawan. Biarkan aku terbang bebas dahulu dengan sayap-sayap kemampuan yang kumiliki. Bila tiba waktunya nanti; tak akan ada keraguan lagi bagiku untuk melakukan segala hal.”

(Lagi-lagi bersambung; juga kapan-kapan)


Berdiri di Atas Kaki Sendiri

Januari 14, 2010

SABTU sore, langit masih cerah. Laki-laki itu masih tertidur pulas di kamar sempit. Beralaskan kardus dan Koran. Remang-remang lampu kamar selamanya menyala. Maklum, kamarnya berada dalam himpitan lingkungan kumuh, sulit untuk sinar matahari sekedar menyapa ruangan itu. Tak ada bunyi detak jam dinding, toh tidak ada jam yang menempel di sana. Hanya buku, pakaian kotor, sepatu lusuh, dan handphon out of date yang berserakan di atas lantai. Oh, ketinggalan. Ada gabus putih menempel di dinding sebelah utara. Sederet puisi warna-warni penuhi gabus itu. Tak ada seorang sahabat si laki-laki pun yang kuat membacanya. “Jiwa yang Merdeka,” adalah tulisan di gabus bagian atas.

“Jhoni..,” saat gelap malam mengecup elegi langit teriakan itu datang mengetuk pintu. Ya, Jhoni, nama laki-laki kurus berambut gimbal, masih tertidur pulas dalam kamar di atas tumpukan hurup; koran, kardus, dan buku. “Bangunlah Jhoni. Malam sudah jam Delapan,” suara dari luar kamar lagi.
“Janganlah berteriak. Masuk saja. Pintu tidak dikunci,” suara lirih Jhoni mulai terdengar. Tubuh masih terbaring, mata kuyu, dan rambut masih belum berbaris rapi. “Kau muncul dalam waktu yang kurang tepat, kawan. Baru saja aku makan satu sendok,” tutur Jhoni yang sudah mulai duduk. Sahabat yang baru datang itu pun sudah ada di samping Jhoni.
“Bagaimana kau bisa makan, sementara kau dalam keadaan tertidur?”
“Ketahuilah, kawan. Dalam seharian ini aku mencoba terapi tidur. Ingat pepatah ibu, dulu. Kalau kau lapar, sementara tak ada makanan untuk dicerna, tidurlah sampai laparmu sirna. Kita takan mati karena tak makan satu hari.”
“Bergegaslah ke kamar mandi, lalu kita akan keluyuran lagi dan mencari makan. Ingat kawan, ini malam Minggu.”
Tanpa mandi, cuma gosok gigi, cuci muka, basuh tangan hingga sikut, basahi kepala, dan bersihkan kaki hingga matanya yang sampai detik ini tidak bisa melihat. Jhoni mendirikan “hobi” menyembah Tuhan yang bersemayam dalam jiwanya. Jhoni pernah berkata kalau hobinya itu sama sekali bukan untuk mengusir lapar. Tapi amanat ayah sebelum ber-sayonara dengan dunia dan keluarga. Ayahnya bilang, “hiduplah dalam ingatan akan waktu dan bingkai perilaku dengan figura kejujuran. Di sanalah kamu akan menemukan kemerdekaan sejati.”
# $ #
Berjalan beriringan, menyusuri jejak-jejak yang tadi pagi dilewati, Jhoni dan sahabatnya menuju tempat yang tak pasti. Seperti biasa. Malam Minggu merupakan ritual para kaum muda. Merayakan masa lajang dengan ingar-senang. Percikan-percikan cahaya dari lampu jalanan, bising suara kendaraan bermotor, dan remaja-remaji yang bergandengan tangan; mengawasi langkah keduanya.
“Ke mana tujuan kita?” Tanya Jhoni.
“Jangan banyak tanya dulu. Orang merdeka tak terkungkung dengan tujuan. Setiap langkah kita adalah pengembaraan ispirasi yang terpenggal.”
“Ah.., seperti biasa kau. Jangan mengejekku dengan mengulang setiap celotehanku. Ciptakanlah kata-kata baru, jangan sekedar meniru. Itu baru kau merdeka.”
“Jangan belagu kau, Jhoni. Aku tahu, kau pun meniru dari buku yang kau lahap setiap waktu itu.”
“Sembarangan, kau. Buku mana yang telah mengatakan ungkapanku itu. Bahkan, untuk memikirkan satu kalimat aneh saja kuhabiskan waktu satu minggu. Kau tahu itu kan?” begitulah percakapan dua sekawan, terdengar samar-samar.
Memang, Jhoni sering mengungkapkan kata-kata aneh secara tiba-tiba. Ketika sedang berkumpul misalnya, Jhoni lebih banyak terlihat termenung saja. Seakan-akan ia hanyut dalam negeri khayali yang ia ciptakan sendiri. Negeri kesunyian dalam lingkaran negara keramaian. Dalam suasana itu pula, Jhoni siap mengejutkan teman-temannya dengan kata-kata misterius. Nyaris tidak nyambung dengan alur obrolan forum tongkrongan. “Makanya, jangan terlalu banyak membaca buku. Biar kau tidak seperti orang kesurupan,” begitu biasanya olok-olok yang menohok Jhoni. Tapi, bukan Jhoni namanya kalau ia sanggup meninggalkan buku; hanya sekedar karena olok-olok sahabatnya.
# $ #
Makan sudah. Kini tinggal minun dan merokok. Meski terkesan tak senonoh, Jhoni bukanlah tipe orang pengkonsumsi alkohol. Dulu, ia tidak seperti kini. Penampilannya selalu rapi, teratur, sopan, dan berbudi luhur; kira-kira itulah gambaran orang yang baik hatinya.
Adalah bermula pada masa mahasiswa tingkat Dua, Jhoni mulai berkenalan dengan dunia aktivis. Di sini. Dalam dunia aktivis. Mata Jhoni menatap dunia labih luas. Kemunafikan, kebohongan, dan kepalsuan yang dibalut dengan niat demi rakyat, adalah musabab kejengahan hidup Jhoni mulai hadir. Seakan benar sedang melaku tindak pembangunan, padahal kerusakan dan penindasan yang sesungguhnya. Ia pun tak segan berbicara lantang. Kritik, hujat, dan kekecewaan kian deras keluar dari lisan Jhoni cukup pedas. Mata Jhoni pun kian hari kian menyala penuh kebenaran. Tapi, kebenaran seakan tertekan dengan kedustaan yang terlanjur menggurita.
“Jhoni, sengaja aku datang jauh-jauh menemuimu. Ada mandat dari daerah-daerah lain agar kau selamatkan organisasi kita,” kata sahabat Jhoni.
“Itu bisa kita usahakan. Bulan depan, ada kegiatan yang bisa memenuhi persyaratan kelayakan kau jadi pucuk pimpinan. Ayolah, mereka membutuhkanmu.”
“Apa yang harus aku selamatkan? Sementara setiap upaya melaku penyelamatan, kebencian kian hari kian menumpuk. Alih-alih menuju kondisi lebih baik, rasanya, musuhku semakin bertambah banyak saja.”
“Hai Jhoni, sadarlah. Sejak kapan kau selembek ini? Matamu selalu menyala penuh semangat. Ke mana Jhoni sahabat yang aku kenal?”
Jhoni tertegun sementara. Senyum simpul mengembang sedikit saja. Seperti biasa menandakan ada hal ironis yang ia pahami. “Ada satu hal yang belum pernah aku ucapkan padamu, kawan. Mungkin juga takan pernah terucapkan. Bila tiba dengan masanya nanti, kau akan tahu dengan sendirinya,” kata Jhoni.
“Apa maksudmu?”
“Percuma saja kau tahu. Lagi pula, takan lama dari sekarang, aku akan meninggalkan semuanya. Meski kutinggalkan, yakinlah kawan, aku takan pernah melupakannya.”
“Jadi, percuma aku datang menemuimu?”
“Bila niatmu hanya membujukku, tak lebih, maka semuanya jadi percuma. Tapi, jika kau datang padaku karena persahabatan kita, tentu tak percuma. Kau telah menyelamatkanku dari kelaparanku hari ini. Aku hanya ingin menikmati kemerdekaanku untuk masa-masa ini.”

(Bersambung kapan-kapan)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.