Oleh AMIN R ISKANDAR
“SI KABAYAN Jadi Wartawan”. Buku mungil hasil olah pikir Muhtar Ibnu Thalab (2005) tersebut mendeskripsikan keadilan dengan sederhana. Saking sederhananya, ia menguak bentuk ketidakadilan yang nyaris tak nampak di mata rakyat. Karya ini secara tidak langsung menyentil kesadaran naif, bahkan (mungkin) kesadaran magis yang menjalar pada rakyat dewasa ini.
Cerita Kabayan berawal dari kunjungan pejabat negara sebagai potret kaum borjuis yang hidup di kota, kaya raya, selalu berharap dilayani massa ke kampung imajiner Lembur Kuring sebagai potret rakyat ploretar yang tinggal di desa, kurang harta, membutuhkan perjuangan dan pelayanan dari penguasa. Disebut berharap dilayani massa karena sebelum berkunjung pejabat memesan makanan kesukaannya, pepes gurame. Rakyat pun mau-mau saja menyediakannya karena menganggap itu kehormatan. Baca entri selengkapnya »
Ditulis oleh aminrais