Negeri Khayali

Desember 10, 2009

Memang harum bau anggurmu

yang kuteguk sewaktu-waktu

Guna mengusir rasa suntukku.

Amboi…,

Serasa nikmat iringan irama lagu

sengaja kuundang ke negeri khayali.

Enyahlah bosan,

datanglah bingar!

Biar api unggun itu jadi bahan candaan.

Hanya kita yang mengerti dengan benar.

Untuk apa bersoal dengan korupsi?

Segala sedia di negeri khayali.

Cukuplah meneguk harum anggur secukupnya.

Memang harum bau anggurmu

hingga sirna dan mengelak waktu.

Untuk mengelaknya, aku sampai tak mampu.

Amin R Iskandar

Bandung, 05-12-09


Padang Duri

Desember 10, 2009

Menyusuri jejakmu

seperti meletakkan telapak hati

di padang duri.

Hanya menyisakan bintik-bintik

lebam di dinding biru.

Ada luka parah

tanpa darah.

Di balik rusuk dada kiriku,

seperti sakit tulangku yang hilang dulu.

Elegimu bertabur dusta

seribu satu dalam lisan palsu.

Tak sudilah untuk kembali menyapa

meski kau lagi suguhkan kesurgaan itu.

Amin R Iskandar

Bandung, 10-12-09




Drama Presma

November 21, 2009

(Untuk Jurnalistik UIN Bandung)

 

I

Sebanyak dua kubu yang bersyarikat datang ke kontrakan

Beradu pandangan mengadu pertimbangan

Saat malam tiba,

Kami singgah di Al-Fira.

 

Yang satu, satu strip di atas angkatan

Yang satu, dua strip di bawah angkatan

 

Waktu itu hanya sisa satu minggu

Masanya tiba generasi lama diganti yang baru

Rencananya pada Sabtu

Diganti dengan Rabu

 

Memang, berebut jabatan mesti penuh perhitungan

Membuang waswas akan kekecewaan

Tidak semudah dalam ucapan

Beberapa kali kami dapat kebencian

Mungkin akibat yang jadi kebiasaan

 

Setidaknya, kami jadi sedia

Sebab ada kepedulian yang tersisa

Satu generasi jangan jadi dua

Karena campur tangan yang tua

 

II

Cukuplah kami yang bergelut laksana thagut

Saling berebut soal dalam kabut

Sampai pada akhirnya perkara jadi kalut

Meninggalkan kesan generasi kalang kabut

 

Sebagai calon juru warta

Kami gagal berpihak sama rata

Hingga ada kata pengasingan

Dan kehilangan keseimbangan

 

Pun mereka yang jadi juru warta

Bertindak satu sisi juga

Mendengar dari satu suara

Lantas kami jadi tersangka

 

III

Malam dengan rincik hujan

Terpaksa kami tembus dengan kesungguhan

Tanpa lampu, tanpa risaukan kendaraan

Setengah jam kami tempuh perjalanan

 

Muka masam itu

Menyambut kami penuh bendu

Mungkin malu

Esok, kamilah yang jadi nomor satu

 

III

Satu pesan pada akhirnya

Berucap sekata adalah sia-sia

Ada bangga, ada cinta

Sementara luka..?

Biar milik beta saja

 

Dan tawa

Adalah titipan kami yang nyata

Hingga saat ini dan entah sampai kapan

Jabatannya tak pernah diserahkan.

 

Bandung, 20 November 2009

AMIN R ISKANDAR


Jiwa yang Terluka

November 12, 2009

Ada jiwa yang terluka

dari setiap sabda yang kueja

bersama penggalan drama

pada hari kedua.

 

Yang tua kurang bijaksana

si muda sulit terima

lampu yang sayup tak berkata

desingan senjata lirih bicara.

 

Hanya cemara tua

tubuhnya hitam terluka

terbakar kering tak bernyawa

lagi tanda binasa.

 

Tanahku tanah Sunda

Tubuhku Nusantara

Nyawaku Indonesia

Usiaku hampir senja.

 

Ada jiwa yang terluka

setiap pagi membagi tawa

bebatuan membelah raga

Batavia sembunyikan nista.

 

Apa masih ada sabda yang tersisa?

Ia keluar dari jiwa yang tak terluka.

 

Bandung, 11 Novenber 2009

Amin R Iskandar


Maaf Bagi Ufuk

September 13, 2009

Oleh AMIN R ISKANDAR

 

Maafku bagi ufuk

yang belum mampu menggapaimu dalam senja.

 

Maafku bagi ufuk

yang belum mampu menyapamu kala pagi.

 

Maafku bagi ufuk

yang baru bisa berdiri di tengah-tengah malam

dan air mata baru sekedar berlinang

sekedarnya saja.

 

Maafku bagi ufuk

yang waktuku terlanjur habis ditelan siang

sehingga dahaga tak terhindarkan

dan kekurusan dibungkus legam warna

di sela-sela kucuran keringat.

 

Maaf…,

Ufuk!!!


Kau, Sinar Fajar Pembuka Mata

Agustus 24, 2009

Oleh Rika Samui

Waktu itu, kehadiran yang mencerahkan setiap pandangan begitu dinantikan.

Kehebatan pemikiran dengan imajinasi-imajinasi tak terbatas dan tak berteori hanya menjadi sel-sel mungil yang menyempil di setiap sudut pengetahuan yang sudah kau genggam.

Aura pancaran sosok baru menyala, menangkap daya tarik yang selama ini tersembunyi. Kami yang baru saja melihat keberadaan asing, tak dapat menahan kilatan cahaya silau yang menandakan betapa berharganya kehadiran yang kau berikan.

Otak, otak yang kami miliki, hanyalah seonggok benda berlendir di dalam tempurung sempit, gelap dan pengap. Sementara itu, otak yang kau miliki, bagaikan lautan luas tak terbatas, berisi sejuta mutiara indah berkilauan.

Setiap perkataan, ucapan, dan perbuatan yang kau tunjukan, membuka setiap pintu hitam yang selama ini tertutup membungkam dan mencengkram setiap pahala yang ingin kami dapatkan.

Jilatan api neraka, semakin hari semakin mendekat. Namun kini, kau datang, menebas percikan-percikan panas dengan pedang fatamorgana kepahlawanan.

Kau.

Malaikat utusan penabur kecerdasan.

Kau.

Terlahir sebagai kunci kehidupan. Dan,

Karena kau.

Sinar fajar pembuka mata.

Penulis; Siswa SMA Muhammadiyah 2 Tasikmalaya


Mengeja Jalanmu

Agustus 21, 2009

Olah AMIN R ISKANDAR

lama aku mengeja bait demi bait jalanmu.

setiap tikungan adalah garis lampahmu.

persyarikatan bukanlah hambatan.

melainkan kesampaian tujuan adalah harapan.

sesekali dalam persimpangan,

memilih arah tekadkan pilihan.

jalanmu meski terjal kian memaksa,

menuntun arah kaki hingga ujungnya.

bukan misteri bukan pula daun,

bayangnmu hanya hadir di balik embun.

bukan misteri bukan pula aksara,

mengenangmu sepanjang jalan kereta.

lagi-lagi aku berlama mengeja jalanmu.

tidaklah mudah ternyata hingga memahami.

akibat terlalu tebal embun di hulu.

jalanmu tetaplah aku arungi.

nun jauh cakrawala,

tetap pula kutemukan jejakmu.

bukan tiga bukan pula dua,

cukuplah satu untuk bermadu.

Jakarta, 21 Agustus 2009


Semut

Agustus 21, 2009

Oleh AMIN R ISKANDAR

Dari sarangmu yang kecil itu lobangnya, ku temukan seprihan kaca.

Meski tak hingga ribuan, jarak dari gedung membuatku bertanya-tanya.

Apa sengaja kaca itu kau bawa?

Semut?

Mulutmu, memang tak lah selamanya terkatup.

Tapi rahasiamu begitu rapat tertutup.

Betapa sulit kami mengungkap.

Hanya dengan sahabatmu saling bertukar ucap.

Semut.

Hari ini, kau ajarkan aku satu alasan.

Betapa rahasia perlu selalu aku simpan.

Persetanlah segala paksaan.

Pula waspada pada pancingan.

Jakarta, 20 Agustus 2009


Paturai

Juli 19, 2009

Oleh AMIN R ISKANDAR

Tangtu kuring na hate cerik.
Estuning kudu pajauh jeung jalma,
anu lain saukur dianggap guru.
Tapi leuwih jero ti eta.
Anjeuna mangrupaning gaganti bapak.
Anu geus taunna tilaran dunya.

Ari alesan kuring miang.
Nya hayang wae mapag kala.
Anu ceuk pikir, jigana geus diguratkeun.
Boh dina daluang, boh di buku ti awang-awang.

Tangtu kuring moal sulaya, guru.
Kana ucap anu harita geus kedal.
Di babancik imah pisan.
Basa kuring seja pamitan.

Ngan hiji meureun pamenta.
Doakeun kuring tetep cageur,
tetep bageur,
tur aya dina bebeneran salawasna.
Da kapan uninga ku anjeun.
Salila ieu kuring satekah polah;
Ngalaku bageur, cageur tur Bener.


Terpaksa

Juli 19, 2009

Oleh AMIN R ISKANDAR

Terpaksa kami berdusta.
Mengatakannya ke luar kota.

Kami anggap ini satu strategi.
Melawan intruksi yang keji.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.