Gunung Hawu Inggis Kari Lebu

Mei 28, 2010

Ku AMIN R. ISKANDAR

Rubrik Bujangga Manik, Majalah Cupumanik, Taun VII No. 10 Mei 2010.

SAPANJANG jalan raya dibenteng ku batu warna bodas. Pabrik ngajejer nepi ka daerah Citatah. Hawa karasa panas. Sabab cahaya matahari dibalikeun deui ku warna bodas tina batu campur jeung haseup nu ngelun tina hawu pabrik.

Kencaeun jalan ngajurungkunung gunung. Saliwat mah euweuh anu aneh. Saestuna gunung, di mana-mana ge sarua. Tapi mun ningali tukangeun gunung, rea jalma anu keur ngulangkeun martil mekprekan batu. Malah aya beko, dipake keur ngabongkar batu kapur. Baca entri selengkapnya »


Kenyataan Berkesinambunagn

Januari 22, 2010

(Sambungan dari Akibat Lapar)

YA, purnama masih saja menatap bulat. Matanya menyapa setiap apa yang ada di atas hamparan tanah. Meski sesekali awan dan mega menelan langit, tetap saja kekuatan cahayanya tak mampu dibendung; berkelit dan menerobos menyapa elegi bumi. Dini hari memuntahkan embun guna menyapa rerumputan. “Malam Minggu yang indah,” gumam Jhoni. Seharusnya, malam Minggu seperti ini tak dihabiskan bersama laki-laki. Apa lagi memperbincangkan kekuasaan yang tak ada ujungnya. Rasanya suntuk dan hambur kata-kata.

Semestinya. Ya, semestinya, malam Minggu seperti ini dihabiskan dengan sang tambatan hati, kekasih tercinta yang baru jadi harapan serta hanya baru angan-angan; belum mampu untuk dengan tegas mengatakan isi hati. Merajut kasih berdua, menyulam janji di bawah saksi purnama yang tak pernah jalir, menatap hari depan yang indah; masa yang lebih besar dari sekedar memangku jabatan. Masa di mana setiap sudut ruang kehidupan dihiasi kekuatan tiada tara; cinta.

Ah, hati Jhoni membatin. “Hari gini masih memikirkan cinta?” kata-kata kebanyakan orang itu hadir di kening Jhoni. Meski demikian, mungkin juga sedikit ketinggalan zaman, Jhoni masih yakin akan kekuatan cinta. Hanya cinta, ya, hanya cinta yang mampu meyuguhkan aslinya tawa, mengikis sebesar apa pun perbedaan warna kulit, usia, keyakinan, kakayaan, dan segala macam musabab petaka menyapa pergaulan manusia. Hanya cinta, yang tak butuh rekayasa.

Asap rokok mengepul dari masing-masing apitan jemari kedua lelaki di pinggir kali itu, menyapa mata rerumputan liar, hingga perih dan menjatuhkan isak kristal pucat; dingin. Lonjakan cacing dalam perut dikalahkan deru angin yang kian kencang. Tak ada lagi penjajak makanan, semua telah kembali ke pangkuan ranjang di kamar masing-masing rumahnya; membawa penghasilan yang tidak merata. Ada yang untung dengan senyum menyungging di mulut. Ada yang rugi dengan kening berkerut. Ada pula yang hanya impas dengan modal dan cukup dengan bekal untuk seisi perut. Seandainya bukan karena satu hal yang bernama kewajiban berusaha, tak lah mudah bertahan dalam keambangan nasib menjadi makhluk hidup; semuanya cukup melaju dalam jalur kepasrahan dan kepatuhan.

Jhoni, yang beberapa kali memangku jabatan sebagai pucuk pimpinan dalam organisasi, kerap iri dengan keharmonisan hidup keluarga sederhana, seperti para pedagang makanan yang telah pada pulang beberapa jam silam. Setidaknya, dalam waktu-waktu ke belakang, Jhoni pernah merasakan apa yang menjadi keirian hatinya. Keluarganya yang sederhana, sebagai petani, di desa sana, di kaki gunung yang tak kan pernah terlupakan, kerap menyuguhkan kehangatan keluarga; makan nasi meski kadang sepiring berdua; rekreasi dengan menanam rempah-rempah di kebun peninggalan tetua, menyaksikan tarian pepohonan tertabrak angin, dan nyanyian burung liar yang tak tertandingi nadanya dengan musik mana pun. Sungguhpun alam memang sahabat paling bersahaja bagi kehidupan manusia.

Sayang, akhir-akhir perjalanan kehidupannya kini, sebagai pucuk pimpinan organisasi, kerap menyita kehangatan itu. Tugas, rapat, kunjungan ke tempat lain, dan urusan mengurus anggota organisasinya sangat menyita waktu. Sulit menemukan waktu untuk sekedar pulang ke halaman kampungnya, pada masa libur studi sekalipun.

Jhoni sadar, dalam hidup, selain membutuhkan modal pinansial, juga terpenting menanamkan berkah dari orang tua. Itulah musabab kenapa bersikukuh menolak jalur politis guna menopang karir hidupnya. Hanya mereka yang memiliki tempat pulang yang mampu mengenyam hidup berbahagia. Tiada rasa sakit yang paling akut daripada tak memiliki tempat pulang sama sekali.

“Aku tak menyuruhmu menjadi raja yang menguasai negara, kawan. Aku hanya memintamu memimpin organisasi kita saja,” Jhoni dikagetkan oleh obrolan yang belum juga rampung. Lamunannya membuyar entah kapan akan menjumpainya lagi. “Tak ada Negara dan Agama yang akan kau hancurkan.”

“Ah,” Jhoni mendesah.

Sulit juga berbicara dengan politisi zaman ini. Mungkin benar, pikirnya, menjadi politisi tak butuh keluasan wawasan, ketajaman berpikir, apa lagi kepekaan perasaan. Sepertinya, kebanyakan politisi waktu ini akan sepakat; bahwa politik hanya membutuhkan banyak suara, bahkan tak masalah bila sampai harus dibeli dengan biaya mahal. Visi, misi, gagasan, serta janji, cukuplah dibingkai dengan kecerdikan menyulam keindahan senyuman penuh tipuan; selesai perkara merebut tahta. Sungguh pendirian yang sangat memuakkan benak Jhoni.

Sambil mengambil langkah pulang, Jhoni menggandeng pundak sahabatnya. “Kau coba pikirkan kembali apa yang baru saja menguap dari lisanmu, kawan,” katanya lirih namun tegas. “Jangan mentang-mentang lidah tak bertulang serta bibir tak berkerangka, kau seenaknya mengumbar kata. Kau tahu siapa aku. Kau tahu apa yang tertempel di dinding-dinding kamar tidurku. Bahkan kau tahu apa yang menjadi alas tidurku; rangkaian kata yang tiap hari menjadi makanan kajianku. Mudah untuk memahami apa yang kau katakan tadi.”

Malam hampir menjemput pagi. Biarlah sang mentari yang mengecup bumi. Dalam pikir Jhoni, tak perlu lah repot-repot menjadi saksi kemesraan mentari bersama bumi; keduanya sama-sama setia menyimpan rahasia dalam bahasa masing-masing. Hanya manusia yang sulit dipercaya. Mulutnya selalu gatal meracau mengundang suasana jadi kacau.

# $ #

KAMAR tidur kontrakan Jhoni masih menyediakan temaram saja. Bohlam berkekuatan 25 watt tidak terlalu berlebihan. Asal memberi cahaya secukupnya, tidak kegelapan laksana di gua dan jelas menyinari setiap hurup buku yang dibacanya. Seperti cahaya hatinya yang konsisten memberi cahaya semangat hidup mandiri. Bergantung pada orang lain hanya menyisakan rasa sakit saat ditinggalkan dan hanya dibekali penghianatan. Lagi pula, Jhoni telah cukup terlatih dengan yang nama pentingnya menjadi pelopor dari pada sekedar menjadi pengekor.

Bagi Jhoni, memimpin suatu organisasi sama saja dengan memimpin satu Negara. Pucuk pimpinan adalah raja. Anggota merupakan rakyat yang sejatinya diayomi, yang sakit diobati dan yang sehat cukup menghibur, bila tak memiliki kemampuan medis, diperhatikan kesejahteraan hidupnya, dibangun keterampilan pribadinya, dan didewasakan; hingga masing-masing dari mereka mampu tumbuh besar dan mandiri pada masa masing-masing jalan hidupnya. Terlebih dari itu, memimpin organisasi merupakan jenjang kepemimpinan yang suatu hari akan sampai pada puncaknya.

Hari ini boleh saja memimpin organisasi kemahasiswaan, kepemudaan, atau apa pun. Esok hari harus siap memimpin Negara secara luas. Karena itu, tak ada alasan berleha-leha dalam proses pembelajaran. Sukses membangun masyarakat dalam skala kecil adalah bekal kesuksesan membangun masyaraat luas seperti dalam konsep kenegaraan.

Kenyataan itu sifatnya berkesinambungan!!!

Tentu tak dapat dipungkiri, bila dalam perjalanan kepemimpinan sejak dini sudah berani melaku korup, maka demikian pula di masa dewasa saat memangku jabatan dengan keberlimpahan kesempatan yang menjanjikan; memberi ruang lebar kesempatan meraup banyak kekayaan. Ya, alasan inilah, kenapa Jhoni menyarankan sahabatnya untuk kembali memikir ulang apa yang diucapkan sahabatnya.

“Maaf bila kurang nyaman. Inilah tempat tidurku, berantakan. Kita akan sama-sama merasakan bagaimana mengarungi tantangan hidup sebagai masyarakat kurang beruntung,” tutur Jhoni sambil merebahkan tubuhnya.

Lampu yang hanya temaram dipadamkan, hanya dengan mendiami ruang gelap, mata manusia bisa beristirahat secara total. Memetik bunga mimpi pun tak canggung dalam lelap tidur yang mendengkur.

(Akan terus bersambung)

AMIN R ISKANDAR


Sajak Buat Ayah

September 17, 2009

Oleh AMIN R ISKANDAR

Aku telah temukan kini karya seni paling indah

Dalam jerih payah;

Dari harum keringat mendiang ayah

Yang setiap detik pikirnya resah

“Masih bisakan anak-anakku esok masuk sekolah?”

Dengan semangat, tubuh dipaksa basah

Beserta sepasang kerbau di muka, membajak sawah

Yang luasnya tak sampai satu “H”

Dan hanya cukup hibur lara di kala senja

Aku masih teringat bagaimana kau ajarkan

Rahasia seni paling indah

Dengan tumpukan tanah basah

Akibat guyuran hujan kala pemakaman

Aku juga masih teringat

Harum angus keringat

Kita saat sama-sama buka baju di bawah panas

Sambil menyiapkan hiliran kebun tomat

Dan tak kuat dengan panas yang menyengat

Oh ayah…,

Aku kini mulai paham

Akan makna pundakmu yang lebam

Akibat puluhan tahun mencari pakan kerbau

Baik panas maupun hujan tak jadi hirau

Aku kini mulai paham

Sebab jalanmu dulu ada dalam jalanku kini

Mengukir makna seni terindah

Dalam lelah

Oh ayah..,

Ini janji sajak untukmu

Telah aku penuhkan

Sebagai tanda sama-sama pengukir seni

Terindah dalam lelah

Jakarta, 17 Oktober 2009


Transformasi Kepemimpinan

April 18, 2009

Transformasi Kepemimpinan dan Kreativitas Format Pengkaderan; Upaya Pengembangan Organisasi Kemahasiswaan

“Dalam kerangka perjuangan, kita mesti melangkah secara santun, sopan dan waspada. Janganlah kita gegabah sampai bunuh diri, perjuangan masih panjang”

Pendahuluan

Berkali-kali saya merenungkan peristiwa akbar bangsa Indonesia, mulai dari peristiwa Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, pergolakan politik 1966 dan peristiwa reformasi 1998. Ada secuil rasa kagum dalam ungkapan “luarbiasa” di hati saya. Kemudian kekaguman itu diikuti oleh sebaris pertanyaan sederhana “mengapa dan ada apa di balik semua itu?” Setelah membaca beberapa literatur dan mendengar dari para sejarawan, muncul keterhenyakan luar biasa karena fakta yang menunjukkan bahwa aktor utama terjadinya peristiwa akbar tadi adalah kaum muda (mahasiswa) yang terhimpun dalam organisasi kemahasiswaan.

Meski seluruh mahasiswa merupakan kelas elit intelektual yang dating dari dunia kampus yang, dalam bahasa Gamscian[1] disebut dengan istilah kaum “intelektual organik”. Namun mahasiswa sekaligus aktivis tentunya memiliki nilai lebih. Golongan terakhir ini kerap mengusung ide pembaharuan yang berdiri di atas pijakan idealisme dan moralitas. Sehingga dari kesadaran intelektual tersebut, mahasiswa dapat melahirkan dan mewujudkan gerakan kritis, independen dan humanis (sosialis)[2]. Baca entri selengkapnya »


Adu Popularitas atau Krisis Pigur?

Juli 3, 2008

Oleh AMIN RAIS ISKANDAR

Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Bandung kuliah di UIN Sunan Gunung Djati

ADU popularitas pigur politisi bangsa ini tidak henti-hentinya diungkap ke muka publik. Satu dan lainnya silih berganti. Satu tenggelam diganti oleh yang lain. Sayangnya, silih ganti nama pigur seakan tidak mau beranjak dari sosok-sosok lama (tua). Seperti tidak ada niatan melakukan transformasi kader terbaik bangsa. Lalu kapan kesempatan kaum muda untuk berperan dan berkiprah? Jika yang terjadi selalu begitu.

Betapa tidak? Menjelang pemilihan kepala Negara (baca: presiden) 2009 nanti, justeru yang muncul adalah tokoh-tokoh lama. Sebut saja Megawati, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Wiranto, Prabowo, Amien Rais, dan mungkin ada lagi. Nama-nama tadi nota bene bukan nama baru dalam arena pertarungan politik tertinggi bangsa ini. Bahkan kini orang mulai mengukur seberapa besar popularitas tokoh-tokoh politik di atas.

Yang tidak kalah menarik adalah fenomena yang menunjukkan persentase popularitas Megawati di atas Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Disebut menarik karena cukup alasan untuk dibilang unik. Mungkin kita belum lupa, satu peristiwa di mana SBY terdepak atau didepak dari kabinet Megawati periode lalu. Tiba-tiba SBY muncul sebagai calon presiden pada saat prestasi kepemerintahan Megawati sebagai presiden drastis anjlok.

Kontan popularitas SBY melesat tinggi sekaligus menyalip popularitas Megawati. Puncaknya, SBY unggul atas Mega dalam perebutan nomor satu bangsa. Kini satu momentum datang seakan membuka kesempatan untuk pembalasan. Kegamangan (unconcistensi) SBY dalam memimpin negara dimanfaatkan Megawati untuk menarik simpati rakyat yang sempat “tercuri”. Beberapa kali Megawati melontarkan kritik pedas pada pasangan SBY-JK. Termasuk ungkapan yang berisi; “pemerintah kali ini (SBY-JK) seperti penari poco-poco, maju selangkah-mundur selangkah, ke kanan selangkah-ke kiri selangkah, tidak pernah beranjak dari tempatnya”.

Kini fakta menunjukkan popularitas Megawati berada di atas popularitas SBY. Meski demikian, bukan berarti saya meramal atau berharap kalau Megawati akan kembali jadi Presiden tahun depan. Justeru yang jadi catatan, saling salip popularitas antara dua tokoh lama ini memperkuat asumsi minimnya pigur dalam tubuh bangsa ini.

Padahal salah satu pesan yang dibawa para reformis adalah munculnya pigur-pigur baru. Bukan menyaksikan berkutatnya tokoh-tokoh lama beserta mental lamanya. Tidak fair saya kira jika meningkatnya popularitas Megawati karena selalu disandingkan dengan piguritas Soekarno (alm) yang jelas jauh tidak setara. SBY pun demikian, akan sulit mendapatkan kembali kepercayaan (simpati) rakyat. Mengingat performa kepemimpinannya kian tidak membaik. Alhasil inilah saatnya muncul generasi baru jika memang berniat (?). Wallahua’lam bissawab.***


Sepercik kata Chairil

Juli 3, 2008

Pisah Minggu

Minggu….

Hari sudah gelap

Hujan mulai turun

Aku hanya memandangnya dalam sepi

Takan lagi merasakan kehangatan itu

Canda, tawa, yang sama-sama slalu diinginkan

Hari sudah gelap

Hujan mulai turun

Hari itu angin dingin sekali

Aku masih memandangnya dalam sendu

Aku masih ingin kehangatan itu

Bersimpuh dalam dekapnya

Bernaung antara sayapnya

Bersembunyi di lembut belainya

Hujan itu

Kian berganti derai air mata

Saat pisah dan tinggalkan segala jejak langkah

Kini bukan lagi ujian cinta

Hari kian memalam

Hujan mulai reda

Angin masih saja tak kalah dingin

Aku masih memandangnya dalam bayang

Aku akan lama rindukan kehangatan itu

Saat sama-sama bersimpuh berdua

Tasikmalaya 2008

Sepercik kata Chairil

Benar kata Chairil

Nasib adalah kesunyian masing-masing

Hingga enggan berbagi nasib

Setelah sepi

Ramai pula dan menyepi

Slalu masing-masing sunyi

Aku pergi

Sendiri tanpa temani

Menghitung langkah

Mengukur jejak langkah basah

Sendiri

Setelah itu sunyi

Gemuruh angin riuh

Di atas hijau padi tumbuh baru

Setiap sore aku memandangi

Sendiri

Sepanjang sepi

Siul pipit burung

Di tangkai haur bambu tiang

Bersenang berbagi riang

Setelah itu sunyi ditelan malam berbintang

Nasib adalah kesunyian masing-masing

Setelah sepi

Ramai pula dan menyepi

Setelah itu sunyi

Tasikmalaya, 2008


“SriEvieKamdie”

Juli 2, 2008

oleh AMIN RAIS ISKANDAR

Senyum Pagi

Pakah dipahami

Cuma sedikit sulit memahami

Tiba-tiba senyum pagi

terukir di bibir srievikandie

Aku girang dan berlari

Sinar pagi

hangat bersembunyi

baju kuningnya yang terhiasi

bergambar sinar mentari

Wajah yang teramat elok;

Berbulu mata centik

Memandang, senyum nan berbalik

Sembunyikan senyum dalam tabir malu

Senyum pagi

Bibir Srieviekandi

Kapan kau kembali kan kutemui ?

Bandung, 2008

Dawai Gitar Masih Kupetik Saja

Dawai gitar masih kupetik saja

Di tengah empat dinding putih

yang menghimpit

Dinding penuh coretan akan namamu

Dua judul lagu kutembang berulang

Romantisme alunan usirkan penat

Di balik alpa akan dirimu

Sedang apa dan di mana

Inikah kekuatan cinta

Membawa angan pada ruang asa

Dan jantung berdegup tiada tara

Haruskah cinta melangkah bersama

Dalam titian satu tempat dan waktu

Meski perlu juang dan gapai harap

Dawai gitar masih kupetik saja

Iringi kata sederhana kubuat sengaja

Bagimu yang hanya satu aku puja

Adalah biasa ada canda tawa

Pula jangan dicegah setiap derai air mata

Memendam ridu bukan perkara mudah

Sebab keluh kesah adalah resah

Dawai gitar masih kupetik saja

Tembangkan mantra-mantra cinta

Bentangkan jalan ke keberadaanmu

Bandung, 2008

Senja

Pada pagi matahri terbit

Berputar bumi berkelit

Matahari tiada diam, ia pelit.

Waktu berangsur

Diam-diam meninggi

Duduk berdendang di puncak bumi

Bernama “dzuhur”

Kaki terkilir tiada diam

Lama lantas ia melingkar

Lalu sejenak tertegun

Waktu ashar mulai bangun

Di puncak bumi

Agung cahaya dipuji

Bumi terhidup dari mati

Tubuh kian berenergi

Sang fajar tumbuh tua

Merah panas bersalim rupa

Menjadi kuning indah teja

Berenang dicakrawala

Tua di ujung kulon biasa

Aku masih menunggu sepenuh cinta

Hingga cahayanya tiada

Redup datang mengundang pilu

Adam ingin bertemu Hawa

Usir rasa rindu dari satu lantas berlalu

Tasikmalaya, 2008

Lembah Cinta

Di lembah cinta

Adam dan Hawa digiring

ke penghulu desa

Yang “suci”

Hanya akibat

satu buah khuldi

berdua dikutuk Tuhannya

jajaki dunia fana

di lembah cinta

nafsu birahi merata

berdua bernafsu bangun keluarga

tanpa iman yang dibawa

di lembah cinta

Iblis cipta surga

dalam indah terpana

menggiring insan ke neraka

di lembah cinta

ladang hijau tiada berupa

semua putih bak cahaya

Di lembah cinta

Tasikmalaya, 2008

Srieviekandie

Andai harus katakan pilihan

pertama mesti ditentukan;

itu adalah sosokmu yang

timbun segudang soal

teka-teki yang sulit ku

urut dalam susunan silang.

Raut muka yang terpancar

dari warna putih kulitmu.

Meski bukan segala putih

bermakna cantik; mata dan hatiku

dengan jujur mengatakan

putih kulitmu adalah

cantik raut mukamu.

Sesekali berusaha kumenyapamu

seakan kau angkuh, luhur, dan jutek.

Tapi… aneh!! Dalam bingkai

tabir ruang-waktu

kau begitu supel nan ramah.

Walau aku rasa hanya sementara.

Andai ada kata kasih yang

harus aku bina; ingin rasanya bersamamu.

Kuobati lipur yang mengubur

setiap asa saat senjakala

tiba.

Kujadikan kau seratus persen

energi pembangkit

spirit hidup yang lama redup,

tenggelam nun hampir pupus.

Siapa pun dan apa pun itu; kujadikan

kau jagoan yang kalahkan segala.

Angin bukanlah arti,

badai pula kan kuabai.

Apa lagi hujan, biar saja

tanah menyerapnya

denga keikhlasan.

Andai dikata sah

aku gambarkan kau dalam

metafor keindahan; kau laksana altar

di belakang rumahku

di dusun sana

pada kala pagi dan sore.

Semilir angin dinginkan

segala penat pikir dan redam

segala kelenjar adrenalin sepanjang hari.

Matahari terbit nun terbenam

menyipuh kepatuhan isi

padi dengan percikan emas

lebih dari sekedar karat.

Gemerincik riak air di kolam,

sungai nan kali

adalah simponi dalam

genre klasik aluni ketegangan ati.

Seketika aku serasa dalam

wahyu Tuhan tentang surga.

Andai jarum jam memoriku

diputar kencang; akan kuhentikan

di satu digit saat ibu

berkata dalam amanat kepergian.

“Jodoh adalah satu sepanjang hayat;

salah pilih adalah salah jalan,

sekali melangkah kan sulit cari jalan kembali.

Kewajiban sejarah jangan sampai ternoda”.

Andai boleh aku berangan nun jauh

ke upuk hari tua; ingin kau

jadi induk buat seluruh

arjuna dan srikandiku kelak.

Meski aku bukan

Semar pula Arujuna

dalam legenda pawayangan.

Bandung, 10 Juni 2008

Rindu

Cahaya mega seakan kelabu

Saat kusadar kau tiada di sampingku

Aku rindu Srievikandie (?)

Namun seakan kau ragu

Dari seberang negeri

Aku datangi dengan sepucuk surat

Harapku kau dapat pandangi

Langit luas tak bertiang

Di sana berusaha aku berdendang

Jangan pernah kau ragu

dengan luapan rindu yang

bergebu gejolak darah yang

menderu dan aku rindu kepadamu

Srievikandie, aku datang

Kau menghilang

Suatu waktu kan menjelang

dan aku tektau;

ke mana terbang (?)

Kepadamu rindu

Bersamamu ingin bercumbu

…………… ?

Tasikmalaya, 2008

Untuk Srievikandie; Lagi

Di sini aku bersama mentari

Duduk bersama menghitung hari

Kuingat dan kutanyakan hari Srieviekandie

Mentari adalah setia bersamaku

Meski tetap ia bisu

Andai mentari dapat bicara

Kan kubisikan kata cinta

Untuk Srieviekandie yang kucinta

Walau mentari itu diam,

Tetap ia tak bisa digenggam

Kuingin Srieviekandie bahgia

Tapi tak tau kuharus gimana

Kucoba walau aku tak berdaya

Mentari tidak pernah berdusta

Tapi tetap tak bisa dititipi cinta

Kini berharap hari Srieviekandie tiba

Biar orang kan anggap aku gila

Kocoba sesuatu yang tak kupercaya

Bandung, 2008

Butir-butir Cinta

Butir-butir cinta

Bernyanyi bertelusur kuncup bunga

Indah dan hanya kita berdua

Disapa ramah kupu-kupu putih

Di atas kepalanya ada abu

Hitam, namun ia tak malu

Butir-butir cinta

Dengan tiba-tiba

jatuh lalu, berlalu membuka

Dan tiba-tiba disapa

Keindahan sayap-sayap kupu tua

memberi restu kupu-kupu muda

untuk menghisap madu cinta

butir-butir cinta

hanya untuk Adam-Hawa

Inderamayu, 2008

Tiba-Tiba Aku Rindu

Tiba-tiba saja aku rindu

Kala angin sore berhembus

Menembus pori-pori kulitku

Hamparan hijau luas

di atas hitam berlapis

Dan buah padi

yang kuning keemasan

itulah ladang masa kecilku

Saat terbangkan

layang-layang kehidupan

dengan benang-benang cita

semua tertinggal dalam hampa

satu-dua aku melangkah

dan sekian tahun aku tidak mengambah

ladang luas, bukit dan lembah

tempat kutemukan arti lelah

tiba-tiba saja aku rindu

kala waktu senja

datang tiada sengaja

mengabarkan waktu pulangku

Lampung, 2008

Dewi

Itu punya siapa

Perhiasan indah dunia

Bila tiba senja kala

Berdiri di pesisir sengaja

Cinta yang tulus

Di atas desir angin yang mulus

Dalam berdiri

Hanya satu yang dicari

Seorang dewi

Dewi yang hadir dari pelangi

Menuju kebeningan hati

Bandung, 2008

Beri Aku Satu Jalan Saja

Kau yang duduk

bertumpang kaki

di bawah pohon rindang kampus.

Ingin ku menyapamu dengan pelan

Seperti embun pagi mengecup bumi

Selekat tatapan ramah mata saling menyapa

Kau yang aku baru tau namamu

Beri aku satu jalan melangkah menujumu

Sebesar keramahan sungai

biarkan laju air menuju muara luas lautan

Seluas kemurahan laut

yang beribu ikan dapat

nyaman dalam naungannya

Setinggi keanggunan langit

hingga setiapnya dapat pandangi.

Kau yang duduk bertumpang kaki

Dan hanya baru kutau namamu saja

Beri aku jalan melangkah ke arahmu.

Bandung, 2008

Bersama Purnama

Bersama purnama

Aku mengingatmu

Kasih…………. (?)

Kau yang baru mudik

Dan kini kulihat kau duduk

Manis dengan temanmu, akrab

Kutulis bersama purnama

Puisi ini bernama

“Srievikandie”

Sebagai pembentang rindu

Yang lama bergebu untukmu

Sungguh tiada salah

apa yang dikata

“Hati bukan untuk dipungkiri”

Bandung, 2008

Menanti Harmoni

Masih aku dalam sendiri

menghisap asap di beranda

tak kuasa menanti harmoni

bersamamu

Sedang asa tetap menyala dalam asa

Apa perlu aku bertanya pada angin

Tentang rapuhnya barak nurani

yang kian kemari keras berteriak

itu kah kekuatan cinta ?

beribu suara bersua

dalam ke-tidak tegaan telinga

yang memaksa dengarku sedia

adalah tiada boleh orang bersangka

diri berdiam tidak pantas dikata

aku hampir kelu

seakan hampir padam bara bergebu

masih saja aku menanti harmoni

bersama segenap totalitas nurani

Bandung, 2008

Di Sela Ringkih Langkah nan Lamban

Dan masih jauh jarakmu tuk kugapai

Di sela ringkih langkah nan lamban

Mujurku ajarkan game anak tempo hari;

Mengejar setiap layang yang putus

Membidik titik dalam jarak jauh

Menarik kenyal karet merah

Dan melempar kartu keberuntungan

Pula masih aku melangkah

di bawah temaram dzubur kunang-kunang

dalam iringan lambayan kuncup daun

juga tabuhan gerincik air

apa masih pantas semedi di gunung

atau berporak di pantai

sedangkan jalan mengundang turun

di bawah temaram yang remang-remang

Bandung, 2008

Harmonimu Menyapa

Harmonimu menyapa

dengan kidung kerinduan

pada sela kerlip bintang-bintang

angkasa malam.

Pohon-pohon asmara yang

rimbun daun disusuri

terang cahaya harmonimu.

Sedangkan kidung kerinduanku

memandang lekat.

Masih dalam lingkaran harmonimu

Kucatat sajak-sajak kasmaran

Kutaburi dengan bumbu asmara

biar terasa penuh aneka aroma.

Harmonimu menyapa

dengan kidung kerinduan;

aku masih menikmati

dan menunggu sapaan kemudian.

Bandung 2008


Masihkah Ada Peduli Kita?

Maret 22, 2008

FEATURE

 “Kondisi ekonomi yang tak kunjung stabil memaksa kami tergerus pada posisi sulit. Andai kami tidak percaya pada nasib, mungkin kami akan putus asa. Zaman sekarang cari duit mesti pake duit juga”. Demikian tutur seorang pedagang keliling sambil duduk-duduk sedikit mengusir lelah.

Oleh:  AMIN RAIS ISKANDAR


Panasnya pancaran cahaya si bola api raksasa terangi pelataran Kota Bandung. Langkah demi langkah diiringinya. Juga laki-laki tua yang di pundaknya memikul beban berat. Bukan sekedar barang dagangan yang nempel di pundaknya. Melainkan istri dan beberapa anaknya telah siap menanti kedatangan sang kepala keluarga membawa laba. Tentu sederhana yang diharap, agar dapur mengepul oleh asap menanak nasi.

Laki-laki yang tidak mau dipublikasikan namanya itu sengaja mengadu nasib mengerahkan tenaga demi melanjutkan kisah hidupnya. Dengan peluh bercucuran basahi tubuh. Nampak sedikit kelelahan dan lekas beristirahat. Tatapan kosong dari matanya beradu dengan pata morgana yang memantul dari panasnya aspal jalanan. Seribu harap hidup lebih baik meski apa pun cara harus ditempuh.

Dua pekan lalu, di Taman Cilaki itu, bukan barang pertama ia beristirahat. Tapi telah bertahun-tahun usaha ia jalani. Andai saja tidak pasrah pada nasib dan percaya pada takdir. Mungkin telah lama ia tinggalkan propesi yang tidak kunjung membantu dirinya menjadi lebih kaya. Sejak kulit muda masih segar hingga tua dengan kulit keriput. Sebagai kaum urban tidak pernah berganti propesi, setia pada usaha jualan alat-alat pembersih lingkungan.

Dengan menggadaikan rasa malu, gengsi. Tak jarang berkeliling menysuri jalan-jalan sempit di tengah himpitan gedung-gedung Kota menjulang langit. Dalam hatinya ia bertutur lirih. “Betapa banyak orang beruntung. Mereka dengan mudahnya berusaha dan membangun gedung-gedung mewah. Sedangkan aku hanya berjalan kaki dan tidur dalam gubuk kumuh di pinggir kota. Nasib memang kejam, seakan tidak pernah memberi keadilan pada setiap insan”.

Di sela-sela langkah-langkah gontainya. Lelaki tua si pedagang sapu itu sekali-kali memandangi plang yang bertuliskan “PANTI LANSIA”. Masih di Taman Cilaki. Karena kerasnya atmosper dunia tidak sedikit yang frustasi dan kehilangan kesehatan akal. Orang gila bertebaran di mana-mana.

Sedikit sekali tempat berteduh kalbu bagi mereka. Sehingga dengan tidak sadar harus tidur di emperan atau trotoar. Dicaci, dimaki, dan kesana-kemari diberi cibiran dan usiran.

Tak mengenal panas juga guyuran hujan. Keringat tetap saja basah dan dingin rasanya. Himpitan unstabilitas ekonomi memaksa mereka berjuang melawan kerasnya tantangan dunia. Masihkah ada peduli kita pada nasib kita sendiri?***


Halo dunia!

Januari 4, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.