oleh AMIN RAIS ISKANDAR
Senyum Pagi
Pakah dipahami
Cuma sedikit sulit memahami
Tiba-tiba senyum pagi
terukir di bibir srievikandie
Aku girang dan berlari
Sinar pagi
hangat bersembunyi
baju kuningnya yang terhiasi
bergambar sinar mentari
Wajah yang teramat elok;
Berbulu mata centik
Memandang, senyum nan berbalik
Sembunyikan senyum dalam tabir malu
Senyum pagi
Bibir Srieviekandi
Kapan kau kembali kan kutemui ?
Bandung, 2008
Dawai Gitar Masih Kupetik Saja
Dawai gitar masih kupetik saja
Di tengah empat dinding putih
yang menghimpit
Dinding penuh coretan akan namamu
Dua judul lagu kutembang berulang
Romantisme alunan usirkan penat
Di balik alpa akan dirimu
Sedang apa dan di mana
Inikah kekuatan cinta
Membawa angan pada ruang asa
Dan jantung berdegup tiada tara
Haruskah cinta melangkah bersama
Dalam titian satu tempat dan waktu
Meski perlu juang dan gapai harap
Dawai gitar masih kupetik saja
Iringi kata sederhana kubuat sengaja
Bagimu yang hanya satu aku puja
Adalah biasa ada canda tawa
Pula jangan dicegah setiap derai air mata
Memendam ridu bukan perkara mudah
Sebab keluh kesah adalah resah
Dawai gitar masih kupetik saja
Tembangkan mantra-mantra cinta
Bentangkan jalan ke keberadaanmu
Bandung, 2008
Senja
Pada pagi matahri terbit
Berputar bumi berkelit
Matahari tiada diam, ia pelit.
Waktu berangsur
Diam-diam meninggi
Duduk berdendang di puncak bumi
Bernama “dzuhur”
Kaki terkilir tiada diam
Lama lantas ia melingkar
Lalu sejenak tertegun
Waktu ashar mulai bangun
Di puncak bumi
Agung cahaya dipuji
Bumi terhidup dari mati
Tubuh kian berenergi
Sang fajar tumbuh tua
Merah panas bersalim rupa
Menjadi kuning indah teja
Berenang dicakrawala
Tua di ujung kulon biasa
Aku masih menunggu sepenuh cinta
Hingga cahayanya tiada
Redup datang mengundang pilu
Adam ingin bertemu Hawa
Usir rasa rindu dari satu lantas berlalu
Tasikmalaya, 2008
Lembah Cinta
Di lembah cinta
Adam dan Hawa digiring
ke penghulu desa
Yang “suci”
Hanya akibat
satu buah khuldi
berdua dikutuk Tuhannya
jajaki dunia fana
di lembah cinta
nafsu birahi merata
berdua bernafsu bangun keluarga
tanpa iman yang dibawa
di lembah cinta
Iblis cipta surga
dalam indah terpana
menggiring insan ke neraka
di lembah cinta
ladang hijau tiada berupa
semua putih bak cahaya
Di lembah cinta
Tasikmalaya, 2008
Srieviekandie
Andai harus katakan pilihan
pertama mesti ditentukan;
itu adalah sosokmu yang
timbun segudang soal
teka-teki yang sulit ku
urut dalam susunan silang.
Raut muka yang terpancar
dari warna putih kulitmu.
Meski bukan segala putih
bermakna cantik; mata dan hatiku
dengan jujur mengatakan
putih kulitmu adalah
cantik raut mukamu.
Sesekali berusaha kumenyapamu
seakan kau angkuh, luhur, dan jutek.
Tapi… aneh!! Dalam bingkai
tabir ruang-waktu
kau begitu supel nan ramah.
Walau aku rasa hanya sementara.
Andai ada kata kasih yang
harus aku bina; ingin rasanya bersamamu.
Kuobati lipur yang mengubur
setiap asa saat senjakala
tiba.
Kujadikan kau seratus persen
energi pembangkit
spirit hidup yang lama redup,
tenggelam nun hampir pupus.
Siapa pun dan apa pun itu; kujadikan
kau jagoan yang kalahkan segala.
Angin bukanlah arti,
badai pula kan kuabai.
Apa lagi hujan, biar saja
tanah menyerapnya
denga keikhlasan.
Andai dikata sah
aku gambarkan kau dalam
metafor keindahan; kau laksana altar
di belakang rumahku
di dusun sana
pada kala pagi dan sore.
Semilir angin dinginkan
segala penat pikir dan redam
segala kelenjar adrenalin sepanjang hari.
Matahari terbit nun terbenam
menyipuh kepatuhan isi
padi dengan percikan emas
lebih dari sekedar karat.
Gemerincik riak air di kolam,
sungai nan kali
adalah simponi dalam
genre klasik aluni ketegangan ati.
Seketika aku serasa dalam
wahyu Tuhan tentang surga.
Andai jarum jam memoriku
diputar kencang; akan kuhentikan
di satu digit saat ibu
berkata dalam amanat kepergian.
“Jodoh adalah satu sepanjang hayat;
salah pilih adalah salah jalan,
sekali melangkah kan sulit cari jalan kembali.
Kewajiban sejarah jangan sampai ternoda”.
Andai boleh aku berangan nun jauh
ke upuk hari tua; ingin kau
jadi induk buat seluruh
arjuna dan srikandiku kelak.
Meski aku bukan
Semar pula Arujuna
dalam legenda pawayangan.
Bandung, 10 Juni 2008
Rindu
Cahaya mega seakan kelabu
Saat kusadar kau tiada di sampingku
Aku rindu Srievikandie (?)
Namun seakan kau ragu
Dari seberang negeri
Aku datangi dengan sepucuk surat
Harapku kau dapat pandangi
Langit luas tak bertiang
Di sana berusaha aku berdendang
Jangan pernah kau ragu
dengan luapan rindu yang
bergebu gejolak darah yang
menderu dan aku rindu kepadamu
Srievikandie, aku datang
Kau menghilang
Suatu waktu kan menjelang
dan aku tektau;
ke mana terbang (?)
Kepadamu rindu
Bersamamu ingin bercumbu
…………… ?
Tasikmalaya, 2008
Untuk Srievikandie; Lagi
Di sini aku bersama mentari
Duduk bersama menghitung hari
Kuingat dan kutanyakan hari Srieviekandie
Mentari adalah setia bersamaku
Meski tetap ia bisu
Andai mentari dapat bicara
Kan kubisikan kata cinta
Untuk Srieviekandie yang kucinta
Walau mentari itu diam,
Tetap ia tak bisa digenggam
Kuingin Srieviekandie bahgia
Tapi tak tau kuharus gimana
Kucoba walau aku tak berdaya
Mentari tidak pernah berdusta
Tapi tetap tak bisa dititipi cinta
Kini berharap hari Srieviekandie tiba
Biar orang kan anggap aku gila
Kocoba sesuatu yang tak kupercaya
Bandung, 2008
Butir-butir Cinta
Butir-butir cinta
Bernyanyi bertelusur kuncup bunga
Indah dan hanya kita berdua
Disapa ramah kupu-kupu putih
Di atas kepalanya ada abu
Hitam, namun ia tak malu
Butir-butir cinta
Dengan tiba-tiba
jatuh lalu, berlalu membuka
Dan tiba-tiba disapa
Keindahan sayap-sayap kupu tua
memberi restu kupu-kupu muda
untuk menghisap madu cinta
butir-butir cinta
hanya untuk Adam-Hawa
Inderamayu, 2008
Tiba-Tiba Aku Rindu
Tiba-tiba saja aku rindu
Kala angin sore berhembus
Menembus pori-pori kulitku
Hamparan hijau luas
di atas hitam berlapis
Dan buah padi
yang kuning keemasan
itulah ladang masa kecilku
Saat terbangkan
layang-layang kehidupan
dengan benang-benang cita
semua tertinggal dalam hampa
satu-dua aku melangkah
dan sekian tahun aku tidak mengambah
ladang luas, bukit dan lembah
tempat kutemukan arti lelah
tiba-tiba saja aku rindu
kala waktu senja
datang tiada sengaja
mengabarkan waktu pulangku
Lampung, 2008
Dewi
Itu punya siapa
Perhiasan indah dunia
Bila tiba senja kala
Berdiri di pesisir sengaja
Cinta yang tulus
Di atas desir angin yang mulus
Dalam berdiri
Hanya satu yang dicari
Seorang dewi
Dewi yang hadir dari pelangi
Menuju kebeningan hati
Bandung, 2008
Beri Aku Satu Jalan Saja
Kau yang duduk
bertumpang kaki
di bawah pohon rindang kampus.
Ingin ku menyapamu dengan pelan
Seperti embun pagi mengecup bumi
Selekat tatapan ramah mata saling menyapa
Kau yang aku baru tau namamu
Beri aku satu jalan melangkah menujumu
Sebesar keramahan sungai
biarkan laju air menuju muara luas lautan
Seluas kemurahan laut
yang beribu ikan dapat
nyaman dalam naungannya
Setinggi keanggunan langit
hingga setiapnya dapat pandangi.
Kau yang duduk bertumpang kaki
Dan hanya baru kutau namamu saja
Beri aku jalan melangkah ke arahmu.
Bandung, 2008
Bersama Purnama
Bersama purnama
Aku mengingatmu
Kasih…………. (?)
Kau yang baru mudik
Dan kini kulihat kau duduk
Manis dengan temanmu, akrab
Kutulis bersama purnama
Puisi ini bernama
“Srievikandie”
Sebagai pembentang rindu
Yang lama bergebu untukmu
Sungguh tiada salah
apa yang dikata
“Hati bukan untuk dipungkiri”
Bandung, 2008
Menanti Harmoni
Masih aku dalam sendiri
menghisap asap di beranda
tak kuasa menanti harmoni
bersamamu
Sedang asa tetap menyala dalam asa
Apa perlu aku bertanya pada angin
Tentang rapuhnya barak nurani
yang kian kemari keras berteriak
itu kah kekuatan cinta ?
beribu suara bersua
dalam ke-tidak tegaan telinga
yang memaksa dengarku sedia
adalah tiada boleh orang bersangka
diri berdiam tidak pantas dikata
aku hampir kelu
seakan hampir padam bara bergebu
masih saja aku menanti harmoni
bersama segenap totalitas nurani
Bandung, 2008
Di Sela Ringkih Langkah nan Lamban
Dan masih jauh jarakmu tuk kugapai
Di sela ringkih langkah nan lamban
Mujurku ajarkan game anak tempo hari;
Mengejar setiap layang yang putus
Membidik titik dalam jarak jauh
Menarik kenyal karet merah
Dan melempar kartu keberuntungan
Pula masih aku melangkah
di bawah temaram dzubur kunang-kunang
dalam iringan lambayan kuncup daun
juga tabuhan gerincik air
apa masih pantas semedi di gunung
atau berporak di pantai
sedangkan jalan mengundang turun
di bawah temaram yang remang-remang
Bandung, 2008
Harmonimu Menyapa
Harmonimu menyapa
dengan kidung kerinduan
pada sela kerlip bintang-bintang
angkasa malam.
Pohon-pohon asmara yang
rimbun daun disusuri
terang cahaya harmonimu.
Sedangkan kidung kerinduanku
memandang lekat.
Masih dalam lingkaran harmonimu
Kucatat sajak-sajak kasmaran
Kutaburi dengan bumbu asmara
biar terasa penuh aneka aroma.
Harmonimu menyapa
dengan kidung kerinduan;
aku masih menikmati
dan menunggu sapaan kemudian.
Bandung 2008