Mengenal Diri Lewat Tertawa

  Oleh AMIN RAIS ISKANDAR

PADA tahun 50-an, masa di mana grup pelawak “Srimulat” eksis-eksisnya dalam tayangan televisi. Seorang anak dengan garang bertanya pada bapaknya: “Untuk apa nonton srimulat? Dapat apa saya dari srimulat? Saya pikir hanya menghabis-habiskan waktu saja!!”. Selintas ucapan sang anak memang benar. Nonton Srimulat kita hanya disuguhi ungkapan-ungkapan yang menggelikan. Tentu porsi yang lebih banyak didapat selama nonton adalah tertawa. Toh Srimulat itu kan kumpulan para pelawak.

Tapi lain halnya bagi seorang bapak dari anak yang bertanya. Dengan kematangan usia, yang telah hidup lebih dari empat puluh tahunan. Sang ayah mencoba menjawab dengan tenang dan penuh kebijaksanaan. “Kita ini Nak, sudah lama tidak menjadi manusia. Kita tidak habis-habisnya berperang melawan keinginan-keinginan sempit kita sendiri. Kita sudah lama tidak menjadi manusia Nak, sudah lama sekali”. Demikian tutur sang ayah kepada anaknya.

Jika saja kita menjadi anak dari bapak tersebut, mungkin akan bertanya-tanya. “Lantas apa hubungannya dengan Srimulat?”, iya, kan?. Tapi ada beda antara anak zaman dulu dan sekarang. Dulu, seorang anak cukup diberi peringatan sekali saja. Sekarang, sekali diperingati, sang anak menyusul dengan banyak tanya, tujuannya untuk mengece. Maka tak jarang ada ungkapan seperti ini. “Anak sekarang, dikasih tau malah mengece. Dasar tidak tahu diri”.

Kemudian sang ayah berkata lagi. “Marilah kita mulai proses menjadi manusia (mengenal diri) dengan tertawa. Kita butuh Srimulat, kita butuh Srimulat yang membuat tawa kita kembali menjadikan kita manusia. Kita butuh Srimulat Nak, agar kita mengenal diri kita sendiri”. Dari ucapan sang ayah tadi, tentu terdapat falsafah hidup yang patut dipetik. Falsafah hidup belum dapat sepenuhnya dimengerti oleh anak-anak.

Pertanyaannya adalah; Ada apa dengan Srimulat? Sejauh mana fungsi Srimulat dibutuhkan sebagai proses pengenalan jati diri? Kenapa pula harus dengan tertawa? Apakah kita mampu menertawakan diri kita sendiri?.

Bukan karena nama Srimulatnya saya kira yang terpenting. Melainkan apa yang disuguhkan dalam setiap tampilan Srimulat itu. Tak perduli apa nama grup lawaknya. Sebab Srimulat merupakan salah satu seni popular berlatarkan kehidupan rakyat. Artinya tidak lebih Srimulat mengeksplorasi kehidupan nyata masyarakat dalam kesehariannya. Dari banyolanbanyolannya seakan penonton merasa bahwa itu adalah pengalaman hidupnya. Pengalaman yang ternyata pantas ditertawakan.

Meski berlatarkan gaya hidup masyarakat Jawa, bukan berarti tidak mengena bagi masyarakat lainnya. Bukankah pengalaman hidup itu banyak kesamaan satu sama lain? Dengan menggunakan gaya tutur. Srimulat kerap memberikan gambaran kehidupan yang lugu dan lucu. Keambiguan kata yang diungkapkan, bahkan sampai multi tafsir. Tentu menjadi ciri khas yang tidak bisa dihilangkan. Yang paling penting adalah; kecerdikan dalam kemasan kehidupan yang panjang dalam durasi yang singkat.

Tentu saja lawakan Srimulat tidak akan berbekas pada sembarang orang. Terutama pada siapa saja yang kurang peka untuk belajar. Alhasil tidak akan mendapat contoh untuk mengenal diri sendiri. Kecuali tawa yang kosong tak berisi. Tidak berpikir bahwa yang ditertawakan adalah diri sendiri. Artnya sejauh mana kita dapat menertawakan diri kita sendiri, sejauh itu pula akan mengenal diri sendiri. Di sanalah puncak kesejatian kita sebagai manusia; tatkala kita pandai belajar dari realitas yang ternyata patut ditertawakan.

Sekarang memang grup Srimulat kurang dikenal lagi. Tapi saya pikir ruhnya masih berkeliaran di sekitar kita. Jadi jangan takut kalau kita tidak bisa belajar hanya karena Srimulat telah mati. Masalahnya adalah masihkah ada keinginan kita untuk belajar. Belajar dari tawa orang yang sesungguhnya sedang menertawakan diri sendiri. Parahnya masyarakat sekarang tidak banyak yang berminat belajar. Apalagi sampai menertawakan diri sendiri. Jangankan ditertawakan oleh orang lain.

Padahal jika kita rajin menonton televisi, hampir seluruh stasion televisi menyuguhkan lawakan-lawakan bergaya tutur seperti Srimulat. Meski latar dan isu yang diangkat tidak sepenuhnya dari kehidupan rakyat, tetap saja menggambarkan kehidupan yang butuh perenungan (baca: pembelajaran). Lihat saja acara News.Com dan Demo Crazy di MetroTv, Tawa Sutra di ANTV, Extravaganza di Trans TV, dan banyak lagi tayangan lainnya.

Masih kurangkah wahana pembelajaran kita untuk mengenal jati diri? Coba kita renungkan apa yang setiap hari kita tertawakan bersama taman kita. Dari ucapan, bahasa tubuh, atau kebodohan kita yang jadi bahan tertawaan. Atau jangan-jangan kita juga berbakat membuat gruf lawak seperti Srimulat? Why not?.***

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s