Persib Maung Bandung sang Fenomenal; Ahistoris?

Oleh AMIN RAIS ISKANDAR

SELALU bermain cantik, memiliki materi pemain berkualitas tinggi, suporter terbanyak nan panatik, dan pernah mengukir sejarah prestasi selangit. Itu mungkin stigma awal bagi Persib. Klub sepak bola Jabar yang cukup penomenal dan terkenal. Diusianya Tujuh Puluh Lima tahun tentu bukan usia muda jika diukur dengan usia manusia. Mestinya semakin matang dan lebih berkembang dewasa. Baik manajemen klub, materi pemain, suporter, dan tentu saja prestasi yang diukir dari atas lapangan hijau.

Betapa tidak disebut fenomenal. Persib, dengan materi pemain mayoritas berasal dari tatar Sunda. Pada tahun 1994 mencatat sejarah penting percaturan sepak bola Nasional. Setelah melibas PSM Makasar di partai final 2-0. Persib berhak memboyong piala Presiden ke Bandung. Dengan sambutan meriah para suporter (bobotoh) di Bandung. Persib secara langsung menanamkan rasa kebanggaan luar biasa di benak setiap warga Jabar. Yang paling penting, sejak hari itu Persib membumikan piala Presiden di Bandung hingga sekarang. Berhubung Kompetisi Persyarikatan di tutup pada tahun itu. Luar biasa kan?

Sejak tahun itu PSSI memutuskan untuk menggelar Liga Indonesia menggantikan Kompetisi Persyarikatan. Meski demikian ketajaman ”taring” si Maung Bandung tidak menumpul. Buktinya Persib berhasil menjadi juara setelah mengalahkan Petro Kimia di partai puncak. Skor yang tercipta 1-0 untuk Persib dengan gol tunggal ciptaan Sutiono.

Bukan hanya itu, pada tahun yang sama. Persib Bandung mewakili Indonesia mampu menembus perempat final pada laga Liga Champion. Bahkan Indra M Tohir dinobatkan sebagai pelatih terbaik se Asia. Hingga sekarang hanya Indra M Tohir satu-satunya pelatih dari Indonesia yang mencicipi prestasi pelatih terbaik se Asia. Tentu bersama tim solid sekelas Persib si Maung Bandung.

Prestasi Menurun

Di atas adalah sederet catatan manis bagi Persib. Catatan sejarah sepak bola Nasional yang siapapun dan di manapun mengakuinya. Tentu kita berharap catatan sejarah tidak pernah melupakan kedigjayaan Persib.

Namun entah mengapa. Pada putaran Liga Indonesia ke dua, prestasi Persib kian menurun bahkan menyusut. Persib hanya mampu menembus partai delapan besar sebelum akhirnya tersingkir. Bahkan pada tahun 1998 Persib berkutat pada zona degradasi. Untung saja situasi dan kondisi menyelamatkan Persib untuk tidak terdegaradasi dengan dibubarkannya kompetisi.

Laiknya orang yang terserang penyakit lumpuh. Sejak masa itu Persib sulit bangkit. Walau kompetisi kembali digelar. Persib hampir tidak dapat menemukan perporma terbaiknya, nyaris tidak ada prestasi yang terukir. Usaha untuk bangkit dilakukan pada tahun 2002. Dengan mendatangkan trio pemain asing plus pelatih asal Polandia. Persib berharap dapat kembali meraih prestasi semanis dulu. Tapi usahanya tidak membuahkan apa-apa. Bahkan kembali terperosok ke jurang papan bawah klasemen sebelum diselamatkan oleh Joan Paez.

Puncaknya pada tahun 2006 kemarin. Persib jelas-jelas terdegradasi. Lagi-lagi situasi dan kondisi menyelamatkan posisinya. Bencana alam yang menimpa Jawa Timur memaksa bebarapa klub mengundurkan diri. Akhirnya PSSI sepakat untuk menghapus sistem degradasi.

Pertanyaannya adalah mengapa hal tersebut mesti terjadi? Apa yang dianggap kurang dari Persib? Mengingat permainan cantik masih ditontonkan di lapangan hijau. Materi pemain tidak kalah berkualitas dari klub-klub lain. Para bobotoh masih tetap sepenuh hati mendukung dan tidak kurang panatik. Bahkan ada hal menarik nampak dari lapangan hijau. Tidak sedikit eks pemain Persib yang merumput di klub lain justru menunjukkan kualitas permainan yang bermutu. Lebih baik dari sebelumnya, ketika masih bergabung bersama Persib.

Kiranya seluruh lini dari pecinta Persib perlu berpikir keras. Mulai dari manajeman klub, pelatih, pemain, sampai pada bobotoh. Jangan sampai terbilang bahwa Persib ahistoris. Tidak pernah berkaca pada sejarah kejayaan masa lalu. Jika dulu bisa, mengapa sekarang tidak. Sebab saya pikir tidak ada yang berkurang dari persib sedikitpun. Kucuran dana dari pemerintah hingga Rp. 16,5 milyar, jangan keluar sia-sia. Pemain bagus bukan kebanggaan semata. Spirit bobotoh tidak surut. Lupakan kepentingan sesaat. Maju dan jayalah jaya Persib!!!.***

5 thoughts on “Persib Maung Bandung sang Fenomenal; Ahistoris?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s