Dampak Ekonomi pada Perilaku Perceraian

Oleh AMIN RAIS ISKANDAR

“Perkara halal yang dibenci Allah adalaha cerai”. (al-hadist).

Isi kandungan (matan) hadist di atas, secara tidak langsung mengatakan bahwa cerai adalah perilaku tidak mulia. Dalam ajaran Islam selalu ada hukum kausalitas yang mesti disikapi dengan arif. Jika tidak dikhawatirkan akan menjerumuskan manusia pada kesia-siaan (baca: kehancuran). Cerai dibolehkan manakala memang perlu dan terpaksa harus dilakukan. Dalam ajaran Islam sendiri ada tiga tahapan sebelum akhirnya jatuh pada puncak perceraian.

Tahap pertama adalah peringatan. Baik kesalahan yang timbul dari pihak isteri maupun suami, klarifikasi adalah hal mutlak yang harus dijalani. Tahapan kedua suami diperbolehkan untuk mengasingkan isterinya. Dalam istilah lain suka dibilang “pisah ranjang”, dengan catatan suami dan isteri masih hidup dalam satu atap. Tahapan ketiga dibolehkannya suami memukul isterinya. Tentu atas dasar kasih sayang bukan amarah dan dendam. Sebab sebagai seorang kepala keluarga, suami memiliki kewajiban melindungi isterinya supaya tidak terjerumus ke jalan sesat.

Jika memang dari ketiga tahapan tadi masih juga tidak memberi solusi. Maka di sanalah talaq (ungkapan cerai) boleh keluar dari pihak suami. Setelah cerai kedua belah pihak masih boleh menjalin tali silaturahmi. Artinya betapa Islam mengajarkan tentang sakralitas pernikahan. Sampai-sampai membutuhkan proses panjang agar kesakralannya tidak ternoda. Orang Sunda suka bilang, kalau sudah “nista-maja-utama”, baru hukuman berat boleh berlaku. Ini mencerminkan adanya akuturasi antara ajaran Islam dan falsafah kahirupan urang Sunda.

Sepertinya akulturasi antara faslafah kehirupan urang Sunda dengan Islam itu kian memudar. Masalahnya di tengah-tengah ketimpangan ekonomi, sering memicu terjadinya perang mulut dan kurang akur dalam keluarga. Jangankan di kalangan masyarakat bawah, masyarakt kaya juga tidak sedikit yang melakukan perceraian.

Ironisnya, perceraian kali ini benyak diajukan dari pihak isteri yang merasa tidak terpenuhi kebutuhannya (baca: ekonomi). Kita lihat saja dalam tayangan info tainment. Banyak selebritis mengajukan gugatan cerai pada suaminya. Dengan alasan sudah tidak cocoklah, ada pihak ketigalah, dan  itu ini mereka berdalih untuk mencari kemenangan. Padahal setelah diketahui, tetap masalah klasik yang jadi penyebab, faktor ekonomi yang timpang.

Kasus serupa terjadi di kalangan masyarakat bawah. Salah satu contohnya di Sumedang, sebagaimana diberitakan media ini Jumat (14/03/2008). Hampir pada setiap tahunnya, 1.500 hingga 2.000 pasangan suami isteri mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama Sumedang.

Bedanya adalah; jika kaum selebritis mengajukan gugatan cerai karena tingkat penghasilan lebih besar dari pada suami. Karena kondisi ekonomi hari ini, memaksa masyarakat desa untuk menerima harga kota dengan pengahsilan desa. Artinya harga sembako terus melambung tinggi; di kota dan di desa sama saja. Sedangkan penghasilan antara masyarakat kota dan desa berbeda jauh sekali.

Tentu sebelum merambah lebih besar perilaku perceraian ini. Berbagai lapisan bengsa ini perlu berpikir lebih jauh lagi. Baik pemerintah, kuasa hukum, aparat, dan atau masyarakat itu sendiri. Sebab jika perceraian terus terjadi, berapa orang lagi yang akan dijadikan korban kerasnya arus zaman ini?.*** (Penulis adalah Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Bandung)

 

One thought on “Dampak Ekonomi pada Perilaku Perceraian

  1. Kasus serupa terjadi di kalangan masyarakat bawah. Salah satu contohnya di Sumedang, sebagaimana diberitakan media ini Jumat (14/03/2008). Hampir pada setiap tahunnya, 1.500 hingga 2.000 pasangan suami isteri mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama Sumedang. boleh tanya media apa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s