Masihkah Ada Peduli Kita?

FEATURE

 “Kondisi ekonomi yang tak kunjung stabil memaksa kami tergerus pada posisi sulit. Andai kami tidak percaya pada nasib, mungkin kami akan putus asa. Zaman sekarang cari duit mesti pake duit juga”. Demikian tutur seorang pedagang keliling sambil duduk-duduk sedikit mengusir lelah.

Oleh:  AMIN RAIS ISKANDAR


Panasnya pancaran cahaya si bola api raksasa terangi pelataran Kota Bandung. Langkah demi langkah diiringinya. Juga laki-laki tua yang di pundaknya memikul beban berat. Bukan sekedar barang dagangan yang nempel di pundaknya. Melainkan istri dan beberapa anaknya telah siap menanti kedatangan sang kepala keluarga membawa laba. Tentu sederhana yang diharap, agar dapur mengepul oleh asap menanak nasi.

Laki-laki yang tidak mau dipublikasikan namanya itu sengaja mengadu nasib mengerahkan tenaga demi melanjutkan kisah hidupnya. Dengan peluh bercucuran basahi tubuh. Nampak sedikit kelelahan dan lekas beristirahat. Tatapan kosong dari matanya beradu dengan pata morgana yang memantul dari panasnya aspal jalanan. Seribu harap hidup lebih baik meski apa pun cara harus ditempuh.

Dua pekan lalu, di Taman Cilaki itu, bukan barang pertama ia beristirahat. Tapi telah bertahun-tahun usaha ia jalani. Andai saja tidak pasrah pada nasib dan percaya pada takdir. Mungkin telah lama ia tinggalkan propesi yang tidak kunjung membantu dirinya menjadi lebih kaya. Sejak kulit muda masih segar hingga tua dengan kulit keriput. Sebagai kaum urban tidak pernah berganti propesi, setia pada usaha jualan alat-alat pembersih lingkungan.

Dengan menggadaikan rasa malu, gengsi. Tak jarang berkeliling menysuri jalan-jalan sempit di tengah himpitan gedung-gedung Kota menjulang langit. Dalam hatinya ia bertutur lirih. “Betapa banyak orang beruntung. Mereka dengan mudahnya berusaha dan membangun gedung-gedung mewah. Sedangkan aku hanya berjalan kaki dan tidur dalam gubuk kumuh di pinggir kota. Nasib memang kejam, seakan tidak pernah memberi keadilan pada setiap insan”.

Di sela-sela langkah-langkah gontainya. Lelaki tua si pedagang sapu itu sekali-kali memandangi plang yang bertuliskan “PANTI LANSIA”. Masih di Taman Cilaki. Karena kerasnya atmosper dunia tidak sedikit yang frustasi dan kehilangan kesehatan akal. Orang gila bertebaran di mana-mana.

Sedikit sekali tempat berteduh kalbu bagi mereka. Sehingga dengan tidak sadar harus tidur di emperan atau trotoar. Dicaci, dimaki, dan kesana-kemari diberi cibiran dan usiran.

Tak mengenal panas juga guyuran hujan. Keringat tetap saja basah dan dingin rasanya. Himpitan unstabilitas ekonomi memaksa mereka berjuang melawan kerasnya tantangan dunia. Masihkah ada peduli kita pada nasib kita sendiri?***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s