Demonstrasi yang Transformatif

Oleh AMIN RAIS ISKANDAR

Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Bandung Kuliah di UIN Sunan Gunung Djati.

ADALAH benar jika berbagai aksi demonstrasi lahir dari peran anak muda. Lebih tepatnya boleh dikata dari kalangan mahasiswa. Sebut saja aksi demonstrasi 1966 yang dikenal dengan tritura (tiga tuntutan rakyat) yang berisi; turunkan harga, bubarkan PKI, dan jalankan UUD 45 dan pancasila secara murni dan konsisten. Disusul kemudian tahun 1974 dikenal dengan peristiwa malari; aksi penolakan terhadap masuknya produk asing ke dalam negeri.

Semangat mahasiswa tidak pernah surut. Meski setiap pergerakan akbar yang mereka (mahasiswa) lakukan selalu menelan tumbal (korban) jiwa. Buktinya pada 1998, reformasi berhasil digelindingkan dengan peran aksi mahasiswa yang juga menelan tumbal (korban) jiwa. Setiap korban reformasi diberi “kehormatan” sebagai pahlawan nasional. Apa benar pantas demikian? Padahal buya Hamka pernah berkata pada beberapa aktivis mahasiswa di masanya. “Kita ini jangan sampai mati konyol, perjuangan masih panjang”. Itu mengindikasikan bahwa perjuangan membenahi kondisi bangsa ini tidak cukup hanya oleh aksi satu hari (baca: waktu singkat).

Terakhir, di tahun ini, sepuluh tahun pasca reformasi, meski bukan satu-satunya aksi demonstrasi yang tercatat, digelar besar-besaran dan kembali memakan korban. Apakah salah aksi turun ke jalan? Tentu tidak. Hanya, saya pikir perjuangan mesti membangun bukan membuat suasana semakin keruh. Layaknya memancing ikan di air bening, selain enak dipandang juga nikmat dirasakan, bersama. Membangun sejatinya berpikir kritis dan menghasilkan langkah kreatif, efektif, dan tentu saja solutif.

Sebagai agen social of change, sudah seharusnya mahasiswa berdiri di barisan terdepan. Karena anak muda selalu memiliki pikiran dan semangat muda, bisa bermental kuat, siap atau berani ambil resiko, dan memiliki jiwa revolusioner. Dengan modal-modal tadi diharapkan melahirkan kesadaran kritis dalam setiap diri mereka (mahasiswa).

Kesadaran kritis yang dimaksud, adalah sebagaimana yang dirumuskan Paulo Freirre. Yakni kesadaran yang menunjukkan bahwa demonstrasi tidak selamanya turun ke jalan; berteriak dengan keras, membawa spanduk besar, dan (maaf) menyodorkan nyawa untuk dijadikan “tumbal”. Kesadaran kritis yang menghasilkan nilai trensformasi dengan langkah kreatif, efektif, dan solutif. Buktinya Paulo Freirre sendiri mengambil langkah memberdayakan masyarakat pedalaman Brazil. Selain bertani juga memberikan pendidikan dengan bertahap. Saya kira ini lebih demontratif dan tidak kurang esensif dari aksi turun ke jalan.

Tujuannya adalah untuk menularkan kesadaran kritis pada setiap orang. Bagusnya lagi, Paulo Freirre tidak menjebakan diri pada kesadaran naif yang mengambil langkah sok jadi pahlawan. Yang perlu diingat, masalah rakyat bukan hanya masalah BBM, tapi bagaimana memiliki mental yang kuat untuk berpikir jernih dan sama-sama mencari solusi keluar dari masalah harga BBM. Mari berdemonstrasi dengan kreatif, epektif, dan solutif (transformatif).***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s