Metamorposa Perubahan

Oleh AMIN RAIS ISKANDAR

Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Bandung Kuliah di UIN Sunan Gunung Djati.

TERMA perubahan adalah salah satu tema yang santer dibicarakan pasca reformasi bangsa ini. Apakah ada keinginan adanya perubahan? Jawabannya adalah pasti. Setiap warga negara sebuah bangsa yang hampir “degradasi” ini memiliki harapan adanya perubahan ke arah lebih baik. Hidup stagnant dan atau terpuruk adalah perkara membosankan bahkan dapat menggiring pada prustasi.

Sebelum beranjak lebih jauh, mari sejenak beranalogi pada makhluk metamorposis. Kupu-kupu adalah salah satu binatang yang merindukan perubahan, selain bagi dirinya juga memberi perubahan bagi alam di sekitarnya. Langkah awal yang ditempuh justru tekad mengubah dirinya sendiri sebelum mempersembahkan perubahan pada yang lain. Ia beriktiyar mengubah diri dari seekor ulat yang dicaci-maki menjadi satu pemandangan yang elok nan dirindukan setiap musim semi tiba. Meski ia rela membayar mahal dengan berlama “puasa” untuk meraihnya.

Pelajaran metamorposis ini, kiranya dilupakan para penghuni bangsa ini. Para pejabat dan elit politik lebih asyik menggunakan kata “perubahan” sebagai mantra, jampi “pelet” penarik simpati rakyat dalam visi misi menjelang pemilu. Padahal jika diamati, berapa banyak hal yang telah diubah bangsa ini. Undang-undang diamandemen, kabinet pemerintahan dirombak, dan banyak kebijakan telah dikeluarkan. Semua atasnama “perubahan”. Mari tanya mana perubahan itu? Sudah adakah apa yang diharapkan atas nama perubahan?.

Perubahan memang tidak bisa dielakkan. Perubahan telah nampak di hadapan kita. Lantas, perubahan macam apa yang dapat kita rasakan? Kondisi bangsa semakin kacau; kemiskinan kian menjadi, angka pengangguran meningkat, kekerasan atasnama agama bermunculan, kasus aktivis Munir terkatung-katung selama empat tahun, korupsi tidak pernah surut, dan banyak lagi kasus lainnya. Inikah yang diinginkan dari setiap tema perubahan? Tentu bukan itu yang sama-sama kita harapkan.

Alhasil, laiknya manusia yang bersifat dinamis; berkembang dari waktu ke waktu, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dan senantiasa melakukan mobilitas yang jelas nan pasti. Tentu identitas (baca: tanda) seorang dinamis adalah adanya perubahan signifikan yang ditunjukkannya. Masalahnya, sebuah perubahan harus diperjuangkan. Perjuangan mewujudkan perubahan adalah upaya untuk bisa mengubah diri. Seperti kupu-kupu tadi.

Maka tiada lain, untuk mendambakan perubahan positif bangsa ini. Setiap penggerak bangsa harus memiliki tekad mengubah dirinya sendiri sebelum berwacana mengusung tema perubahan. Apa gunanya reformasi diagungkan jika mental yang dibawa masih mental lama (mental korup); hasrat menguasai, syahwat memperkaya diri, dan mental penjajah masih dibawa untuk menjajah saudara sendiri. Mulailah belajar bermetamorposa dari kupu-kupu demi bangsa ini, bangsa kita bersama.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s