Adu Popularitas atau Krisis Pigur?

Oleh AMIN RAIS ISKANDAR

Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Bandung kuliah di UIN Sunan Gunung Djati

ADU popularitas pigur politisi bangsa ini tidak henti-hentinya diungkap ke muka publik. Satu dan lainnya silih berganti. Satu tenggelam diganti oleh yang lain. Sayangnya, silih ganti nama pigur seakan tidak mau beranjak dari sosok-sosok lama (tua). Seperti tidak ada niatan melakukan transformasi kader terbaik bangsa. Lalu kapan kesempatan kaum muda untuk berperan dan berkiprah? Jika yang terjadi selalu begitu.

Betapa tidak? Menjelang pemilihan kepala Negara (baca: presiden) 2009 nanti, justeru yang muncul adalah tokoh-tokoh lama. Sebut saja Megawati, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Wiranto, Prabowo, Amien Rais, dan mungkin ada lagi. Nama-nama tadi nota bene bukan nama baru dalam arena pertarungan politik tertinggi bangsa ini. Bahkan kini orang mulai mengukur seberapa besar popularitas tokoh-tokoh politik di atas.

Yang tidak kalah menarik adalah fenomena yang menunjukkan persentase popularitas Megawati di atas Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Disebut menarik karena cukup alasan untuk dibilang unik. Mungkin kita belum lupa, satu peristiwa di mana SBY terdepak atau didepak dari kabinet Megawati periode lalu. Tiba-tiba SBY muncul sebagai calon presiden pada saat prestasi kepemerintahan Megawati sebagai presiden drastis anjlok.

Kontan popularitas SBY melesat tinggi sekaligus menyalip popularitas Megawati. Puncaknya, SBY unggul atas Mega dalam perebutan nomor satu bangsa. Kini satu momentum datang seakan membuka kesempatan untuk pembalasan. Kegamangan (unconcistensi) SBY dalam memimpin negara dimanfaatkan Megawati untuk menarik simpati rakyat yang sempat “tercuri”. Beberapa kali Megawati melontarkan kritik pedas pada pasangan SBY-JK. Termasuk ungkapan yang berisi; “pemerintah kali ini (SBY-JK) seperti penari poco-poco, maju selangkah-mundur selangkah, ke kanan selangkah-ke kiri selangkah, tidak pernah beranjak dari tempatnya”.

Kini fakta menunjukkan popularitas Megawati berada di atas popularitas SBY. Meski demikian, bukan berarti saya meramal atau berharap kalau Megawati akan kembali jadi Presiden tahun depan. Justeru yang jadi catatan, saling salip popularitas antara dua tokoh lama ini memperkuat asumsi minimnya pigur dalam tubuh bangsa ini.

Padahal salah satu pesan yang dibawa para reformis adalah munculnya pigur-pigur baru. Bukan menyaksikan berkutatnya tokoh-tokoh lama beserta mental lamanya. Tidak fair saya kira jika meningkatnya popularitas Megawati karena selalu disandingkan dengan piguritas Soekarno (alm) yang jelas jauh tidak setara. SBY pun demikian, akan sulit mendapatkan kembali kepercayaan (simpati) rakyat. Mengingat performa kepemimpinannya kian tidak membaik. Alhasil inilah saatnya muncul generasi baru jika memang berniat (?). Wallahua’lam bissawab.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s