Kelas Sosial Masuki Rumah Tahanan

Oleh Amin Rais Iskandar

Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UIN Sunan Gunung Djati

Dalam beberapa hal, kekuasaan dan harta menjadi ukuran tinggi-rendahnya derajat manusia (status sosial). Orang dihormati dan dituruti berdasar pada kedudukan dan harta. Mau tidak mau hal tersebut harus diakui oleh kalangan masyarakat. Akibatnya kenikmatan hidup tergantung pada jumlah uang yang dimiliki. Hampir senada dengan teori Darwin di bidang Biologi yang mengatakan, “siapa paling kuat dialah yang akan bertahan hidup”.

Kebenaran asumsi di atas dapat kita saksikan dari cerminan rumah tahanan bangsa kita. Pengaturan rencana jawaban saat persidangan Tindak Pidana Korupsi (TPK). Dilakukan pelaku kasus suap Artalyta Suryani dan Jaksa Urip Tri Gunawan dari dalam jeruji besi. Penggunaan ponsel sebagai media interaksi kedua narapidana ini mengindikasikan bahwa kelas sosial juga dapat memasuki rumah tahanan.

Betapa tidak? Dengan status sebagai tahanan titipan KPK. Semestinya diperhatikan dan diawasi secara ketat dan sungguh-sungguh. Sebab, dengan jelas, atas dasar, hukum acara pidana, keduanya ditahan agar tidak berusaha melarikan diri, merusak dan menghilangkan barang bukti dan tidak mengulangi perbuatan pidana.

Faktanya malah dibiarkan (baca: sengaja) asyik memanfaatkan ponsel di dalam penjara. Apalagi Ruang Tahanan (Rutan) keduanya tidak satu komplek. Artalyta ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Bareskrim Mabes Polri sedangkan Urip dititipkan di Rutan Mako Brimob, Kelapa dua. Artinya, mustahil komunikasi terjalin dari jarak jauh kalau tidak ada kebebasan dalam rutan. Kalaupun kebetulan, itu sangat kecil kemungkinannya. Apalagi Artalyta menggunakan posel anaknya. Dari mana Urip tau nomor ponsel anak Artalyta kalau tanpa perencanaan?.

Mengingat Artalyta dan Urip sama-sama ditahan karena kasus suap. Berarti keduanya mampu juga menyuap Polri dan Brimob. Toh uang yang mereka miliki tidak sedikit dan tidak akan habis hanya untuk menyuap petugas penjara. Hanya saja kasus ini menambah bukti untuk asumsi bahwa kekuasaan dan harta dapat membeli kebebasan. Seorang koruptor kelas kakap begitu bebas meski hidup di balik jeruji besi. Sedangkan copet, jambret, dan maling ayam kelas teri harus puas terhunus peluru panas Polisi dan Brimob. Sampai kapan potret suram bangsa ini akan berlangsung?.

One thought on “Kelas Sosial Masuki Rumah Tahanan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s