Perusak Prestasi Gemilang KPK

Oleh AMIN RAIS ISKANDAR

Anak Bangsa Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UIN Sunan Gunung Djati

KEHADIRAN Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah terbukti efektif. Dengan kecerdikan dan kepiawaian dalam mengaudit kekayaan pejabat, KPK telah berhasil menyeret banyak koruptor ke jalur hukum. Alhasil, keberadaannya menjadi momok menakutkan yang siap memberantas segala praktik korupsi. Kinerja KPK perlu mendapat acungan jempol. Mengingat pekerjaan yang digeluti penuh resiko tinggi. Tidak jarang melibatkan keluarga dan kerabat sendiri.

Sangat disayangkan, prestise gemilang torehan KPK dalam upaya menindak pelaku korupsi ternoda. Ironisnya penodaan kinerja KPK dilakukan oleh aparat yang semestinya menjadi partner kerja (baca: kuasa hukum). Karena KPK tidak memiliki kewenangan menghukum tersangka. Seyogyanya mendapat dukungan kuasa hukum dalam memuluskan proses pemberantasan praktik korupsi. Bukan malah menjadi penghambat jerih payah KPK.

Perilaku kotor yang dilakukan Artalyta dan jaksa Urip Tri Gunawan dalam penjara. Nyata sebagai bukti tidak adanya niatan baik untuk bekerja sama antara KPK dan Polri. Parahnya lagi, pembicaraan kedua napi tadi dilakukan melalui hand phon. Padahal jelas-jelas setatus Artalyta dan jaksa Urip adalah tahanan titipan KPK. Sengaja dititipkan supaya tidak melarikan diri, merusak dan menghilangkan barang bukti dan mengulangi perbuatan pidana.

Secara sederhana dapat dipahami kalau keduanya adalah “penjahat” yang berhasil diseret KPK. Tapi harta dan kekuasaan telah berhasil mengelabui kuasa hukum (Polri) untuk memberikan kebebasan menggunakan pasilitas. Akibatnya penjara kehilangan “keangkeran”nya dan tidak ditakuti para pelaku pidana. Hal ini memperpanjang catatan kebobrokan moral yang siap menghambat i’tikad mulia memperbaiki citra bangsa. Terutama yang dilakukan KPK.

Artinya, kinerja KPK dalam memberantas praktik korupsi akan terus kandas. Selama tidak mendapat dukungan pihak lain (baca: kuasa hukum) yang jadi eksekutor. Jika tidak ingin semua upaya KPK sia-sia, sejatinya tidak ada privileges dalam rumah tahanan. Si miskin atau si kaya pelaku kejahatan tetaplah penjahat yang mesti dihukum. Itu adalah keniscayaan.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s