Home Schooling bagi Anak

Oleh Amin Rais Iskandar

Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UIN Sunan Gunung Djati

Peringatan hari anak sedunia sejatinya tidak jadi ajang peringatan yang sia-sia. Peringatan yang diekspreisikan secara berlebih (pesta, hura-hura) yang bersifat simbolis dan seremonial. Sehingga kehadirannya tidak lebih dari sebatas angin lalu yang hadir satu kali tiap tahunnya. Tapi bagaimana hari anak ini menumbuhkan renungan positip yang mendorong kemaslahatan anak.

Sebab hukum alamiyah mengharuskan seorang anak tumbuh besar, jadi dewasa dan pada akhirnya tua, sebelum berpuncak pada kematian. Untuk mengisi hari dewasa dan tua bukan merupakan perkara mudah dan sepele. Melainkan butuh persiapan yang matang, terencana, dan tentu saja positif. Sebab berdasar pada hukum kausalitas, nasib manusia di hari tua itu tidak akan jauh dari apa yang dipersiapkannya sedari muda. Artinya, hari tua adalah akibat yang disebabkan oleh hari muda.

Satu pemikiran Filosof Yunani klasik, Aristoteles. Mengatakan bahwa persiapan terbaik untuk mengisi hari tua adalah pendidikan. Makna pendidikan bukanlah makna sempit. Tidak terpatok pada jenis sekolah formal yang ternama dan berbiaya mahal. Tapi pendidikan yang benar-benar memenuhi kebutuhan anak. Tentu pendidikan yang menjamin kehidupan masa tua si anak lebih baik.

Mengingat porsi interaksi anak libih banyak di rumah (bersama orang tua), boleh dikata 75% di rumah dan 25% di sekolah. Setidaknya yang lebih tau betul kebutuhan anak adalah orang tua di rumah. Orang yang mengerti sifat anak tentu mengerti pula bagaimana mendidik dan mengayomi anaknya. Di sini berarti perlunya ada “sekolah (dalam) rumah” (home schooling) bagi anak. Tapi bukan berarti menapikan peranan guru di sekolah.

Thomas Alpa Edison patut jadi contoh keberhasilan home schooling. Anak cerdas yang “terusir” dari sekolah formal ini, berhasil jadi orang sukses dengan menemukan lampu untuk pertama kali. Keberhasilannya merupakan buah dari ayoman, asuhan, dan didikan yang didapat di rumah sendiri. Inilah bukti bahwa orang yang mengerti sifat anaknya, tau juga apa yang mesti dilakukan untuk memenuhi kebutuhannya.

Setidaknya, di hari peringatan hari anak sedunia ini. Dengan kondisi ekonomi kurang stabil (carut-marut), ongkos transfortasi dan biaya pendidikan mahal. Home schooling kiranya dapat dijadikan solusi. Yang penting anak tidak sama sekali buta pendidikan. Peringatan hari anak sedunia kali ini, sedikit banyak, menuntut peranan orang tua untuk sungguh-sunggu mendidik anaknya.***

One thought on “Home Schooling bagi Anak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s