Krisis Energi Akibat Kerusakan Ekologi

Oleh AMIN RAIS ISKANDAR

SUDAH jadi rahasia umum, Indonesia mengalami krisis energi kian parah. Terutama dalam perlistrikan. Negara dengan persediaan Sumber Daya Alam (SDA) begitu komplit; areal hutan yang luas, kapasitas air melimpah ruah, flora dan fauna heterogen, dan hasil tambang yang tidak sedikit. Tentu menunjukkan ironi tersendiri ketika dihadapkan pada fenomena satu ini.

Betapa tidak? Kekayaan SDA yang tidak terelakkan tadi. Mestinya dapat menyokong dan memenuhi kebutuhan energi Negara. Pasalnya hampir seluruh energi yang dapat dinikmati manusia, tidak dapat terlepas dari unsul-unsur ekologis. Tapi apa boleh buat, fakta menunjukkan Indonesia pada jurang krisis. Kebijakan yang diambil pemerintah untuk pemadaman listrik Jawa-Bali cukup sebagai bukti. Lantas apa dan di mana letak kesalahnnya?

Satu jawaban yang pasti adalah kerusakan alam yang kian parah. Perilaku penggundulan hutan secara bebas dan pembuangan sampah sembarang. Jelas telah banyak mematikan sumber mata air yang ada. Padahal sebagian besar pembangkit listrik di Negara ini adalah berasal dari air. Air yang dibendung dan lalu dialirkan secara deras dengan disambungkan pada alat teknologi. Menghasilkan aliran listrik yang dimanfaatkan masyarakat luas.

Berangsur lumpuhnya (satu persatu namun pasti) beberapa sumber mata air mengakibatkan pada berkurangnya debit air. Imbasnya mengakibatkan tenaga pembangkit listrik berkurang. Sedangkan kebutuhan listrik kian meningkat seiring pertumbuhan manusia yang pesat. Rencana pembangunan Pembangkit Listrik tenaga Batu Bara adalah bukti nyata dari pasokan air yang semakin berkurang. Tidak dapat diandalkan lagi sebagai satu-satunya pembangkit listrik.

“Dosa” Gelombang Kedua

Krisis yang terjadi merupakan “dosa” yang tidak disebabkan secara instan (singkat). Melainkan akibat perjalanan panjang gelombang kedua (modern). Yang menurut Alvin Toffler dalam The Third Wave (Iskandar Alisyahbana, 1985). Gelombang kedua ini ditandai dengan tiga ciri penting.

Pertama, kepercayaan bahwa manusia harus menaklukkan alam. Pemahaman ini mempengaruhi seluruh aliran pemahaman manusia, baik kelompok sosialis meupun kelompok kapitalis; sama-sama percaya bahwa alam hanya merupakan objek yang harus ditaklukkan.

Kedua, kepercayaan bahwa manusia bukan saja menguasai alam, melainkan hasil dari proses evolusi yang lama. Sebagaimana diungkapkan teori Darwin bahwa selalu akan ada suatu “pilihan alamiah”. Di mana yang paling kuat adalah yang akan bertahan hidup.

Ketiga, kepercayaan bahwa sejarah perkembangan manusia selalu akan ke arah kemajuan. Keyakinan ini bukan hanya telah mengakibatkan kerusakan alam, malahan banyak memusnahkan peradaban-peradaban dari bangsa “kurang” maju.

Jelas dapat kita ketahui dari ketiga ciri di atas. Gelombang kedua ini diisi oleh kalangan orang modern yang meletakkan akal di atas segalanya (baca: alam). Sebagaimana dirumuskan oleh “bapak” modern, Rene Descartes, dalam ungkapan Cogito Ergo Sum (aku berpikir maka aku ada).

Artinya, kesemenaan prilaku kehidupan gelombang kedua, mewariskan “pekerjaan rumah” yang berat. Pekerjaan rumah, yang saya kira, tidak cukup dihadapi oleh kalangan beragama saja. Melainkan seluruh kalangan yang memiliki moralitas, integritas, dan niatan baik untuk membangun kearifan ekologis dalam menyelesaikan tugas berat yang dihadapi.

Kreativitas turun, produktivitas turun

Apa boleh buat, mau tidak mau, krisi energi ini mesti dihadapi. Masyarakat mesti puas dengan kebijakan pemadaman bergilir listrik untuk wilayah Jawa-Bali. Kebijakan ini diambil dalam upaya mengantisipasi depisit listrik yang kian parah.

Bagi beberapa kalangan masyarakat (petani, buruh kasar, ojek, tukang becak, sopir angkot, dll). Pemadaman bergilir mungkin tidak begitu jadi persoalan. Sebab keseharian mereka hampir dihabiskan di luar rumah dan relatif tidak memakai jasa listrik selama mengais rezeki. Dengan pemadaman listrik bergilir sekalipun tidak jadi hambatan untuk terus kerja.

Beda halnya dialami beberapa perusahaan menengah atas. Jangankan berjam-jam, beberapa menit saja berarti kerugian menimpa perusahaan. Tingkat kreativitas akan menurun akibat pasilitas pendukung tidak ada. Kreativitas menurun berarti produktivitas pun menurun. Hasil produksi pun akan berkurang. Turunnya hasil produksi berarti berkurangnya keuntungan yang di dapat.

Ambil saja beberapa contoh, seperti; jasa poto copy, rental pengetikan, percetakan, pabrik dan lain-lainnya. Yang sepanjang jasanya tergantung pada aliran listrik. Pemadaman bergilir hadir sebagai macam ancaman baru yang perlu diwaspadai.

Apalagi dalam zaman kemitraan antara produsen-konsumen saat ini. Kepercayaan antara kedua belah pihak sangat dipertaruhkan. Tidak memuaskan sedikit saja berarti ancaman kehilangan mitra (langganan). Lagi-lagi pengusaha akan kehilangan sejumlah keuntungan yang biasa di dapat.

Alhasil, demi terjaganya stabilitas kehidupan sosial-ekonomi. Sudah saatnya mencari alternatif lain. Peran kearifan lokal sangat dituntut untuk menemukan energi alternatif. Selain itu, juga spirit mengindahkan lingkungan teramat perlu untuk kembali menghidupkan sumber-sumber pembangkit energi.***

AMIN RAIS ISKANDAR

Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Bandung,

Mahasiswa Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s