Poros Tengah Pendidikan Politik

Oleh Amin Rais Iskandar

Mahasiswa Jurnalistik UIN Gunung Djati aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

SEJATINYA pendidikan politik segalanya ada dalam partai politik. Segala hal menyangkut pembelajaran politik diwujudkan dalam tataran praksis. Siapa saja dapat jadi “pemain”, asal ia berani masuk dalam ruang partai politik. Jika tidak, maka selamanya akan jadi “penonton”.

Sayangnya akhir-akhir ini, justru, minat massa akan partai politik begitu kecil. Fenomena kemenangan golongan putih (Golput) di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Adalah bukti riil sikap pembelotan massa akan wujud partai politik. Hal ini bisa saja disebabkan oleh kecilnya keberpihakan yang dilakukan para elit politik. Akhirnya stigma yang tumbuh dalam pikiran massa hanyalah kepura-puraan. Pendidikan politk pun akan tersumbat.

Segala yang diteriakkan partai politik–mengenai visi misi partai–dalam media massa dianggap angin lalu dan bualan belaka. Karena sampai hari ini, semua yang berhasil memikat simpati massa–hingga ia sukses jadi penguasa–ternyata tidak becus merealisasikan apa yang diikatakan sebelumnya. Kondisi sosial-ekonomi semakin carut marut adalah bukan yang diharapkan massa.

Seandainya fenomena di atas terus berlanjut. Bangsa ini terancam akan menjamurnya politik afatis. Massa akan semakin banyak membelot ke golongan putih. Tentu cita-cita demokratisasi di tubuh Indonesia akan lama terwujud. Apa ini yang diharapkan? Jawabnya adalah bukan.

Di sini peran mahasiswa sangat dibutuhkan. Setidaknya sebagai jembatan penghubung antara dua lepel politik yang berbeda. Pelaku politik di satu pihak dan massa di lain pihak. Artinya, mahasiswa berdiri sebagai poros tengah dalam pendidikan politik. Berperan sebagai opinion leader yang mengemban tugas memberi pencerahan pada massa.

Dalam menjalankan peran berat ini, mahasiswa mesti optimis dirinya mampu berperan. Setidaknya, dengan segenap pengetahuan yang didapat, mahasiswa memiliki seribu satu cara, daya, dan upaya untuk melakukannya. Pada masyarakt informasi, mahasiswa harus mampu melakukan “penerjemahan-penerjemahan” apa yang ada dalam media massa. Mulai dari proses kampanye politik hingga iklan ke-pigur-an calon penguasa.

Dengan demikian, kehadiran mahasiswa sebagai middle polic, akan memuluskan laju pendidikan politik yang tersumbat akibat ulah partai politik. Mahasiswa sebagai kaum terpelajar kritis. Tidak diharapkan ikut menjibunkan diri dalam Lumpur kotor politik “pura-pura” yang senang umbar janji dan lantas diingkari. Wallahu a’lamu bissawab.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s