Organisasi Kemahasiswaan dan Nasionalisme

Oleh Amin Rais Iskandar

Mahasiswa Jurnalistik UIN Gunung Djati bergiat di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

DALAM dunia ke-mahasiswa-an, organisasi merupakan wahana aktualisasi diri. Organisasi menyediakan ruang lebar pada mahasiswa untuk mengasah diri (kreativitas), memperkuat mental, mempertajam daya intelaktual, dan menumbuhkan kolektivisme diantara mahasiswa satu sama lain.

Sesuai dengan pengertiannya. Organisasi terwujud atas dasar sekumpulan orang yang terikat suatu sistem baku demi mencapai satu tujuan yang sama. Tanpa mempermasalahkan latar belakang golongan, ras, agama, dan budaya. Orang dapat dipersatukan dalam satu ikatan kuat organisasi. Persaudaraan, toleransi, kepercayaan, dan kebersamaan menjadi ciri mutlak kesejatian organisasi.

Bagi mahasiswa, organisasi adalah penting sebagai kampus kedua setelah kampus akademis di mana mereka menimba ilmu. Dalam artian mahasiswa tidak sebatas mengindahkan konsentrasi studinya, malainkan juga mengindahkan ruh nasionalisme sebagai warga Negara. Hal ini telah terbukti pada periode emas kemerdekaan, revolusi, tragedi three tura, sampai keberhasilan reformasi. Fenomena besar ini lahir dari tangan aktivis kampus yang bergabung dalam organisasi kemahasiswaan.

Hingga hari ini, organisasi kemahasiswaan masih dapat dibilang urgen. Pertama, Imam Ali pernah berkata, “’alhaq’ yang tidak terorganisir akan ditumbangkan kebatilan yang terorganisir”. Mengingat kampus merupakan basis masyarakat terdidik, setidaknya kita optimis, dari “pribadi” merekalah akan lahir konsep-konspe bermutu dalam mengorganisir “alhaq”.

Kedua, organisasi kemahsiswaan nota bene diisi oleh kaum muda. Yang secara mental, integritas, pemikiran, dan tenaga masih segar. Jika bersatu, maka kekuatan dahsyat akan lahir dan akan sulit ditumbangkan kekuatan manapun. Tidak heran jika Soekarno (alm) meminta sepuluh pemuda saja (dari kalangan mereka).

Ketiga, kondisi ke-bangsa-an yang dalam zona carut-marut. Tidak rela kiranya bila terus diabaikan kian tak nentu. Peran mahasiswa yang terhimpun dalam organisasi kemahasiswaan tentu masih dinantikan. Dibutuhkan untuk kembali melakukan pergerakan akbar, manfaat, dan maslahat demi terwujudnya stabilitas bangsa.

Bukankah mahasiswa masih sebagai agen of change? Mari buktikan!.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s