Merdeka dan Kemandirian

Oleh Amin Rais Iskandar

Mahasiswa Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati, Aktivis IMM Kota Bandung

KONSEKUENSI logis dari kemerdekaan adalah kesiapan hidup mandiri. Pencapaian perebutan kemerdekaan dari tangan penjajah secara sadar membawa spirit untuk berdikari (berdiri di atas kaki sendiri). Tidak lagi bergantung pada orang asing, mempertahankan segala apa yang telah didapat, dan kepercayaan diri untuk membangun merupakan langkah yang harus ditempuh.

Keberanian Soekarno untuk membacakan teks proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, merupakan wujud dari niatan hidup mandiri. Pasalnya, beliau sebelumnya menyetujui satu kesepakatan dengan penjajah (Belanda). Di mana sebelum kemerdekaan “diserahkan” pihak penjajah kepada pribumi (Indonesia). Pihak penjajah menegaskan, bahwa jika Indonesia ingin merdeka, maka segala macam terkait dengan infrastruktur yang telah dibangun adalah menjadi hutang, harus ditanggung pribumi. Soekarno sepakat dengan itu. Alhasil, hutang VOC pun menjadi hutang bangsa Indonesia. Hingga hari ini (kemerdekaan ke 63) jerat hutang bangsa Indonesia kian menggelembung.

Disusul dengan kebijakan Soekarno yang memutuskan hubungan dengan Negara lain (asing), termasuk Amerika. Langkah menuju kemerdekaan yang hakiki sesungguhnya sudah dimulai. Soekarno menegaskan bahwa bangsa ini harus bisa berdikari (berdiri di atas kaki sendiri). Proses nasionalisasi aset-aset Negara juga dilakukan. Sampai kebudayaan asing sekalipun sempat diwaspadai Soekarno waktu itu. Lagi-lagi saya berpendapat bahwa merdeka berarti mandiri, berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) dalam segala bidang.

Namun sayang, perjalanan panjang kemerdekaan Indonesia (selama 63 tahun), pasca lengsernya Soekarno. Ternyata kembali memberi ruang pihak asing untuk masuk hingga melahirkan bentuk penjajahan baru. Penguasaan perusahaan dalam negeri oleh pihak asing, dominasi pengaruh budaya Barat, hingga bentuk penjajahan kaum pribumi. Lagi-lagi memperpanjang catatan penjajahan bangsa ini. Benarkah Indonesia ini telah merdeka? Bisakah hidup mandiri? Berdikari?

Kehadiran buku Prof. Dr. M. Amin Rais, “Agenda Mendesak Bangsa SELAMATKAN INDONESIA”. Kiranya dapat memberi jawaban akan kemerdekaan Indonesia yang dipertanyakan.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s