Puasa, Metamorfosa Kesucian Diri

FORUM

Oleh AMIN R ISKANDAR

SATU bulan penuh setiap tahunnya, umat muslim diwajibkan menahan diri (puasa) demi mencapai derajat ketakwaan. Kewajiban berpuasa ini khusus ditujukan bagi orang beriman (al-ladziina aamanuu), di luar orang beriman tidak berlaku. Sebagai “undangan” khusus dari Tuhan, selayaknya kehadiran Bulan Ramadhan disambut dengan gegap gempita ummat muslim. Seperti menerima undangan khusus dari kekasih hati. Nurcholis Majid pernah mengungkapkan. “Betapa indahnya berjumpa dengan bulan Suci Ramadhan terutama bagi anak di usia belia”.

Pasalnya ada tradisi khas seiring datangannya bulan ini; ramainya munggahan, bahagianya melepas dahaga saat buka, hangatnya mesjid waktu tarawih, uniknya makan sahur sembari melawan kantuk, dan tentu saja saat lebaran bersambut. Segala tradisi ini cukup menanamkan romantisme bagi pribadi anak. Setidaknya menyimpan kerinduan akan kedatangan Ramadhan kembali.

Jika puasa —dengan berbagai ke-khasan-nya— diwajibkan bertujuan mencapai derajat ketakwaan (la’allakum tattaquun). Maka pernahkah kita bertanya mengapa harus datang setiap tahun? Berdasar pada kaidah bahasa Arab, kalimat “la’alla” digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang pasti terwujud. Berarti derajat ketakwaan pasti diraih oleh orang yang sungguh-sungguh puasa. Tidak cukupkah dengan menunaikannya sekali seumur hidup? Layaknya kewajiban ibadah Haji bagi setiap hamba yang mampu.

Kiranya Itu sebab penulis memandang adanya pesan metamorfosa kesucian diri di dalam puasa. Esensi puasa tidak semata menahan lapar, haus dan merokok. Mealin ada yang lebih utama dari semua itu. Seperti melatih solidaritas kemanusiaan melalui rasa lapar yang dapat dirasakan setiap orang, kepatuhan keagamaan, sikap saling menghargai, mengekang hawa nafsu dari sikap materialistis-biologis (duniawi). Makudnya puasa merupakan jembatan penghantar manusia untuk menggapai mahligai ketakwaan tertinggi.

Secara logika, semakin tua usia seseorang, mestinya semakin piawai dalam menjalankan ibadah puasa. Mengingat tahun demi tahun pembelajaran akan makna puasa didapatkan. Namun fakta terkadang berbicara lain. Tidak sedikit jumlahnya yang semakin tua usianya malah semakin jengah menghadapi bulan puasa. Oleh karenanya puasa selalu hadir sebagai mediator pencuci diri dari segala kotoran (dosa).

Beberapa perbuatan yang dapat memperkeruh kefitrahan diri manusia adalah seperti korupsi, mencaci, memaki, mengumpat, menindas, mengabaikan kemiskinan, menelantarkan anak yatim dan segala perbuatan yang menimbulkan kerusakan. Untung, Islam datang untuk membebaskan ummatnya dari jerat-jerat kotoran (dosa) tadi melalui puasa. Sebagaimana diungkapkan Raharjo (2004), Islam agama pembebasan.

Logis kiranya kenapa kewajiban puasa selalu datang tiap tahun. Yakni untuk men”dewasa”kan keimanan dan membebaskan manusia dari segala hasrat (libido) akan materi, kebutuhan biologis, dan godaan akan kenikmatan duniawi. Dalam konteks Indonesia kekinian, puasa diharapkan memberikan reflesi lebih dalam bagi ummat manusia (muslim) untuk keluar dari kubangan lumpur dosa; korupsi, suap, menindas, mencaci, mengumpat, mengabaikan kemiskinan dan segala hal yang menimbulkan kerusakan.

Seperti tradisi mudik yang kerap dilakukan kebanyakan masyarakat urban Indonesia menjelang lebaran. Mudik berarti kembali ke tempat asal di mana setiap orang dilahirkan ke dunia. Meski bertahun-tahun hidup di daerah lain seakan tidak ada rasa bosan untuk kembali ke tempat asal. Puasa pun boleh jadi demikian, yakni me”mudik”an diri pada asal mula manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci).

Tentu syaratnya adalah kewajiban puasa mesti didukung dengan niat tulus-ikhlas hati penuh kesungguhan. Laiknya seekor ulat yang menahan diri dari sikap merusak, menahan nafsu (materi, biologi, duniawi). Ia (ulat) mengasingkan diri dalam balutan penderitaan berupa kepongpong tanpa makan dan minum. Maka ia berakhir pada keindahan wujud bernama kupu-kupu. Kehadirannya dirindukan alam sebagai instrumen keindahan musim semi. “Bisakah kita kembali pada kesucian (fitri)?”

AMIN R ISKANDAR

Mahasiswa Jurnalistik UIN Gunung Djati Bandung

Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)

Bergiat pada Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s