“V”

Oleh TEGUH IBN BHARADY

Sungguh setiap tempat memiliki penunggu yang setia. Apa pun itu. Akan ditunggu oleh jiwa-jiwa yang bergantung padanya. Meski raga membawa ke mana pun pergi, jiwa akan tersisa dan setia menunggu tempat yang dicintainya. Setidaknya ditunggu dalam kenangan dan kerinduan yang membelenggu. Maka darinya, setiap raga yang berkelana akan diikuti jiwa yang menyimpan kerinduan untuk kembali pada tempat asal kecintaannya.

Seperti yang menimpa Teguh. Pemuda berparas lebih tua dari usianya. Kerap termenung dengan beribu gagasan yang mengembang dalam kerinduan yang sangat untuk mengantar jiwa ke tempat yang dicintainya, sepenuh hati. Sambil menyandarkan punggungnya di tiang bendera, Teguh memandangi langit dengan tatapan kosong, seorang diri. Sekosong jiwanya yang selalu terbang melintasi kali di samping rumahnya, gundukan tanah yang menimbun jasad Bapaknya, juga keringat Ibu yang selalu membasuh tubuh keriput nan legam terbakar matahari. Tak terasa ada genangan basah dimatanya; banjir dan membasahi pipi yang berjerawat. “Huh!!! Jangan menangis kawan, engkau seorang lelaki.” Gumamnya menasehati diri sendiri. Tangan kanan menyapu pipi hingga kering. Namun masih menatap ke langit luas.

Dalam keheningan malam, tak peduli sedingin apa udara menusut pori-pori, tidak apa juga kegelapan. Teguh selalu menjaga tempat itu. Tempat di mana berdiri tegak Tiang bendera di tengah halaman. Tiang tempat insan mengibarkan selembar kain berwarna yang dijahit. Beberapa orang bahkan sampai mensakralkan kain itu. Dengan alasan nasionalisme, kecintaan, dan entah apa lagi alasannya. Orang-orang siap bertempur demi menjaga selembar kain itu tetap berkibar. Namun bukan karena alasan itu Teguh menunggu tiang yang kokoh itu.

* * *

Dalam kesendirian. Teguh termenung membatin. Hatinya terasa pahit nan pedih setiap kala mengingat wanita keinginan hatinya. Wanita yang Ia panggil “V” sudah terpahat dalam di dinding-dinding hatinya yang tinggal sepenggalan. Cinta tidak terungkap lebih tepatnya. Entah apa alasannya. Teguh nampak kecut untuk urusan wanita yang satu ini, “V”. Padahal, urusan komunikasi adalah bidang study yang digelutinya, empat tahun lama pula.

“Salahku adalah menanamkan rasa cinta sebelum sempat aku mengenali wanita itu.” Ujar Teguh suatu kesempatan saat ditanya sahabat-sahabatnya tentang “V”. “Akibatnya, cinta itu sulit berbunga apalagi berbuah.” Lanjutnya. Hal yang mengherankan tentunya bagi seorang aktivis mahasiswa terkemuka. Pejabat mana yang tidak bisa dikenalinya? Tapi saat dihadapkan pada “V”? jangankan mengajak jalan, sekedar bercengkrama pun Teguh tidak pernah diberi keberanian. Entahlah!! Mungkin itu misteri bagi cinta yang tulus, sejati.

Hatinya semakin menanggung rasa pahit yang tak terkira. Oleh karena “V” mengambil cuti kuliah. Entah untuk berapa lama. Mungkin selamanya? Huh!! Hatinya semakin mengeluh. Sebab, walau kata cinta tak terungkap dalam kiasan lisan, Ia masih menyimpan harapan cintanya berlabuh bila “V” berada bersama dalam satu kampus. Setidaknya berlabuh dalam dermaga retina yang saling menyapa. Pasalnya, percakapan yang terbangun atas pondasi retina mata itulah yang paling indah. Lebih indah dari peristiwa duduk berdampingan tanpa percakapan. Keindahan yang tidak setiap orang dapat melihatnya dengan kasat mata. Lebihnya eksotisme yang diakibatkan oleh sebab lidah tidak pernah berbahasa selain senyuman saling berbalas, dalam jarak yang jauh pula. Sungguh tanda hati yang bercengkrama dalam bahasa masing-masing. Peristiwa seperti itu adalah yang selalu dijalaninya. Ketika “V” berdiri dihadapan majalah dinding kampus. Di sana pula Teguh menuangkan syair-syair yang terungkap dari retina mata setiap bercengkrama bersama pujaannya. Meski sedikit berdegup hatinya, Teguh akan setia menunnggu dan mengawasi sampai “V” benar-benar membaca syair-syairnya. Syair yang tercipta khusus bagi “V” seorang diri.

Bagi Teguh, senyuman bibir berhias aura muka yang bersih dan bersahaja dari wajah “V” akan selalu dirindukan. Pasalnya dari sanalah satu-satunya daya inspirasi kehidupan mengalir dalam syair-syair indah. Syair yang menimbun keaslian maha karya yang sekian lama beku dan kering. Inspirasi senyuman “V” melebihi bunga-bunga yang mengembang di taman. Lebih dari guguran daun tersibak angin di tepi pantai saat matahari terbit dan terbenam. Jauh lebih tajam dari sekedar debur ombak air laut pasang di malam purnama. Senyuman “V” adalah senyuman terdahsyat yang mengalahkan segala-galanya. Raga “V” yang membawa langkah dalam tempuhan jarak jauh dan tak terukur. Akan menyisakan kerinduan yang membelenggu dalam wujud penantian akan perjumpaan kembali, perjumpaan yang belum tentu terkabul. Huh!! Malang bener nasib Teguh.

Sejujurnya, Teguh mengakui, daya tarik “V” adalah bekas luka yang tersisa di dagu “V”. Luka itu seakan menimbun rahasia yang menarik minat Teguh untuk mengungkapnya lebih jauh. Luka yang jarang ditemukan pada sembarang wajah wanita, apalagi secantik “V”. Tanda yang khas berarti menyimpan sesuatu yang khas pula. Unik dan sulit ditemukan di sembarang tempat tentunya. Perpisahan dalam rentang jarak dan waktu yang jauh, akan menyumbat aliran ketertarikan akan pengungkapan rahasia lebih dalam.

* * *

Malam yang semakin larut mengubur suara-suara manusia dalam gundukan sunyi. Teguh terbangun dari lamunannya saat langit menggambarkan jajaran bintang membentuk hurup “V” dengan bulan sabit sebagai alasnya. Pemandangan itu pula yang memaksa Teguh untuk bangkit dan memalingkan wajah dari langit luas. Rambut panjangnya terurai di pundaknya. Sesekali melambai-lambai bebas akibat sibakan angin yang berhembus kencang ; dingin dan mengeringkan kulit wajahnya.

Teguh mulai bangkit. Dalam jejak langkahnya yang pertama, Ia menyisakan beberapa patah kata yang mungkin akan dicarinya kembali keesokan hari. “Hatiku seakan bulan sabit di langit, tersisa hanya sepenggalan setelah utuh sebelumnya. Meski bintang menemaninya, ia tetap bukan bulan yang mengisi kesempurnaan sepenuhnya. Aku hanya berharap, saat aku duduk di tempat ini kelak, hatiku kembali bulat penuh, seperti purnama, sebelum waktu kehancuran benar-benar tiba.”

Tulisan ini dipublikasikan di Majalah Senat Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Gunung Djati Bandung (Februari 2009)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s