Meninjau Ulang Manifestasi Politik Adiluhung

ORASI

Oleh AMIN R ISKANDAR

Mahasiswa Jurnalistik Universitas Islam Negeri Bandung

Apakah selamanya politik itu kejam?

Apakah selamanya ia datang ‘tuk mengancam?

Belasan tahun silam, Iwan Fals melantunkan sair lagu di atas sebagai penyikapan kritis akan wajah perpolitikan negeri ini. Lagu di atas memotret politik bagaikan binatang pemangsa yang ganas dan siap menerkam apa dan siapa saja yang berani mendekat untuk mengusik, mengganggu, dan atau melawan bahkan membunuhnya (baca:meruntuhkan suatu rezim).

Kendati syair tersebut diciptakan belasan tahun silam, saya pikir tidak mengurangi sisi relevansi syair di atas jika kembali mengangkatnya ke muka publik. Terutama di tengah fenomena hajatan demokrasi yang kian hari semakin ramai (baca:memanas).

Kiranya suara Iwan Fals cukup jadi katalisator suara rakyat banyak yang, menurut hemat saya, merasa jengah menyaksikan wajah politik yang carut marut; memalsukan substansi demokrasi dan menghalalkan segala cara. Sampai mengancam kenyamanan hidup rakyat. Seperti perilaku korup, memenjarakan orang seenaknya, memarjinalkan golongan lain dengan label negatif (pemberontak), bahkan sampai tindakan mengakhiri hidup orang tak berdosa sekalipun. Semua dilakukan atas nama politik. Sungguh wujud politik praktis yang teramat kotor.

Tiba-tiba peristiwa Reformasi datang. Rakyat mungkin dapat bernapas lega. Sebab seiring kelahiran orde paling baru ini, tokoh Reformasi, Amien Rais datang dengan gagasan high politics-nya. Secara sederhana high politics dapat dimaknai dengan politik adiluhung. Artinya adalah politik luhur yang memiliki dimensi moral serta etis dalam praktiknya. Dimensi moral dan etika yang dipakai dan diterapkan di setiap percaturan politik.

Angin segar politik adiluhung setidaknya menumbuhkan harapan dan rasa optimis rakyat ke arah lebih baik. Harapan akan lahirnya wajah politik yang mampu mengoreksi, membenahi, sekaligus memperbaiki kondisi perpolitikan bangsa yang rusak. Membawa daya ketegasan sikap dalam memberantas segala bentuk korup, kecurangan, ketidakjujuran, memerangi segala bentuk ketidakadilan, dan kesanggupan pemerintah dalam menggelindingkan sistem demokrasi dan keterbukaan dalam makna yang sesungguhnya.

Namun, napas rakyat kembali disesakkan oleh kondisi yang lebih kronis. Seperti kasus kematian Munir yang tak kunjung usai, bentrok antargolongan disebabkan oleh kekalahan pemilihan, tindak kekerasan yang semakin akut, mantan pejabat di-bui-kan akibat terjerat kasus korupsi, dan kebijakan pemerintah yang kerap menimbulkan masalah baru di tengah kehidupan masyarakat. Semua mengindikasikan kekurang jujuran, kecurangan, tidak lapangdada, dan masih adanya ketidakadilan di dalam politik. Artinya makna politik masih enggan beranjak dari lumpur kotor kenistaan.

Hal ini tentu mengundang tanya besar akan manifestasi politik adiluhung. Apakah benar politik adiluhung itu ada ? Nyatakah ia ? Atau sekedar retorika kosong sebagai dongeng obat penenang kegundahan rakyat ?

Harapan senantiasa mesti ada. Harapan terwujudnya high politics atau politik adiluhung. Namun setiap harapan akan membutuhkan upaya agar segalanya tercapai. Sesungguhnya, ada satu syarat fundamental yang amat sederhana namun begitu berat. Yakni kesanggupan kita (baca:politisi dan pendukungnya) untuk meletakkan lawan sebagai “aku yang lain”, keberadaannya adalah sebuah keniscayaan. Lawan sejatinya bukan dianggap musuh yang harus ditiadakan bahkan dimusnahkan, melainkan friendly enemy yang derajatnya setara dan perlu dihargai secara proporsional. Itulah yang mesti diusahakan sekuat tenaga.

Meletakkan lawan sebagai “aku yang lain” adalah perbuatan yang sangat sulit, tentunya. Karena dalam tubuh manusia ada hasrat kehewanan yang rakus dan tidak menimbangkan akal sehat. Naluri kehewanan ini akan selalu dan terus mendesak manusia untuk memangsa, menikam, dan menerkam manusia lain. Akibatnya demokrasi (politik) selalu hadir dalam aura ketegangan; kejam dan mengancam kenyamanan dan ketentraman hidup manusia.

Oleh karenanya, perlu kiranya kita sama-sama meletakkan diri satu sama lain sebagai friendly enemy politics. Supaya makna high politics tidak sekedar duduk berdendang di menara gading tapi dapat dibumikan dalam kancah perpolitikan nyata. Sebab itu yang sama-sama kita harapkan, bukan?!. Semoga benar-benar terwujud dan nyata!!. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s