Percakapan di Malam Natal


Oleh TEGUH IBN BHARADY

pohon natal1TOPAN adalah seorang mahasiswa yang sedikit dikenal di kampusnya. Tapi bukan karena kepintaran atau kenakalanya. Melainkan karena ia seorang yang tidak teratur, aneh dan–kata sahabat-sahabatnya—tak tentu pegangan hidupnya, tak terarah. Kadang bergerombol tapi sering dijumpai dalam kesendirian. Ia bagaikan orang asing di tengah-tengah keramaian, terkenal dalam kehening-sepian.

Seperti di suatu malam, ia duduk termenung seorang diri. Punggungnya disandarkan pada tiang bendera di halaman depan kampus kuliahannya. Sesekali kepala mendongak ke atas, mamandangi langit luas, tak jarang sampai merebahkan tubuh di atas tembok yang menghampar. Nampak awan samar-samar berkejaran disiram gemerlap cahaya bintang, tidak sampai terang karena bulan bukan pada waktu purnama di mana ia menampakkan diri seutuhnya.

Sungguh kehidupan Topan teramat sepi, sunyi dan sering hanya sendiri. Kesendiriannya malam itu bukanlah kali pertama ia alami. Meski tidak setiap hari, tapi orang kerap menjumpainya termenung di tempat yang sama, di malam-malam dingin sekalipun. Bahkan di musim hujan, aktivitasnya hampir tidak jauh berbeda, ia baru akan berteduh jika hujan benar-benar turun. Kalau nasibnya mujur, ia akan mendapatkan teman tiba-tiba dan ditinggalkan tiba-tiba pula.

Suatu kali Topan terdengar bertutur kepada Éci. Éci adalah sahabat karibnya yang sedari awal masuk kuliah kerap bersama. Sahabat yang kesunyian hidupnya tidak jauh beda dengan dirinya. Ia berkata “Tahukah kawan, apa yang membuat kita merasakan penderitaan yang teramat akut?”

Sahabatnya diam tidak menjawab.

Merasa tidak ada respon, Topan menjawab pertanyaannya sendiri. “Menjadi orang yang terbuang dari generasinya adalah insan yang paling malang di alam kehidupan ini, kawan.” Katanya. “Aku kerap membayangkan betapa menderitanya si Binatang Jalang yang terbuang dari kumpulannya, Chairil Anwar. Saking kesepiannya, ia sampai tak sadar mengucapka ‘hidup adalah kesunyian masing-masing’, hingga enggan berbagi nasib. Dan itu hampir menimpa nasikku.” Lanjut Topan dengan suara sedikit terdengar pendar, tanda penghayatan dari lubuk hatinya yang dalam, penuh luka. “Segalanya didapat dan dihabiskan sendiri, siapa yang sengaja untuk peduli?” akhir dari ucapannya.

***

Malam semakin larut, Topan masih duduk seorang diri. Angin sepoi dengan udara yang dingin, bukan lagi makhluk asing menyapa tubuh ceking Topan hingga menusuk-nusuk tulang. Entah apa yang ada dalam kepala yang terbungkus oleh rambut hitam, gondrong dan terurai tanpa aturan. Apa yang dirasakan di dalam benaknya dan apa yang dipikirkan malam itu? Entahlah, misteri.

Tiba-tiba Ia merasakan getaran ringan di pahanya, disusul dengan gerak tangan kanan yang masuk ke saku celana, tidak lama kemudian tangannya ditarik dengan menggenggam sesuatu. Ternyata getaran itu berasal dari peringatan nada sambung pesan handphon milikinya. Dengan menekan beberapa tombol, Topan dapat membaca isi pesan yang diterimanya.

Ia membaca. “Hilangkan rasa benci di hati, buang rasa benar sendiri, wujudkan keharmonisan hidup beragama dengan mengucapkan ‘SELAMAT NATAL’ bagi saudara agama kita.” Demikian yang tertulis dalam pesan singkat tidak dikenal pengirimnya. Karena belum tercatat identitas si pengirim di dalam handphon Topan.

pohon natal burj al arabNampaknya Topan baru sadar kalau malam itu bertepatan dengan malam perayaan hari besar umat Kristiani, Natal. “Bahagianya umat Kristiani malam ini,” pikirnya. Mereka dapat berkumpul bersama keluarga, menyalakan lilin, bernyanyi riang bersama, menatap pohon natal yang terang dengan lampu warna-warni, dan siap-siap menanti Sinterklas yang memberikan hadiyah saat bangun dari tidur. Tidak seperti dirinya yang duduk seorang diri, laksana anak hewan kehilangan induknya. Ingin rasanya Topan mengucapkan selamat Natal pada penganut ajaran Kristiani. Tapi siapa? Topan tidak tahu harus mengucapkan itu pada siapa kecuali mengucapkannya secara perlahan ke langit tinggi. “Selamat Natal, wahai hamba Tuhan yang setia pada ajaran-Nya.” Katanya lirih.

Tidak lama setelah mengucapkan kalimat “selamat Natal”, Topan teringat pada pesan singkat di handphonnya. Lantas ditulisnya kalimat “Buat apa Agama?” dan dikirim kemudian.

“Terserah pada insan di Dunia; mungkin untuk dicaci atau dipuji, mungkin untuk dibenci atau dicintai, mungkin untuk dijauhi atau didekati… mungkin kamu punya opsi lain?” Demikian balasan yang datang dari seberang diakhiri dengan kata tanya.

Kembali Topan terdiam, menatap langit luas dan terlihat ia menarik napas panjang. Seakan-akan ada pertanyaan misterius yang ia ingin mencari jawabannya di langit. Pesan singkat yang baru saja dibacanya ternyata terlalu berat dipahami bagi seorang manusia yang alpa akan pengetahuan nan sepi akan pengerti.

Topan kembali menulis “Kenapa demikian? Lantas apa itu agama? Kenapa pula kau suruh aku tuk ucapkan selamat Natal pada mereka? Bukankah terserah insan di Dunia?” kali ini Topan memburu dengan tergesa, jelas menandakan adanya rasa kepenasaran.

“Memang demikian nyatanya. Agama adalah pesan suci dari langit yang tidak sedikitpun membawa noda. Pesan langit untuk dibumikan dalam kehidupan sebagai ujian keta’atan manusia. Sejatinya manusia segan untuk menodainya.” Orang yang masih belum Topan kenali itu membalas.

Tidak lama kemudian handphon Topan bergetar dan di sana tercatat: “Ucapan selamat sekedar untuk menghargai sesama insan. Sebab, untuk saling menghargai selalu membutuhkan lisan yang kerasan. Semoga saja keharmonisan hidup menjadi nisan keniscayaan.”

Topan semakin penasaran hatinya. Jantungnya bergolak kencang hingga terasa berdegup. Pikirannya ikut melompat-lompat. Kali ini lama sekali ia berpikir, sampai hanphonnya ia tanggalkan dari genggaman untuk sementara waktu. Tiba-tiba langit berubah menjadi layar kaca yang besar baginya. Di sana ia menonton siaran langsung manusia menyembelih manusia atas nama Tuhan, kekerasan atasnama agama, pemerasan dengan kedok dakwah, sampai sebuah peperangan akbar yang disucikan. Tubuhnya menggigil kencang seperti orang yang demam parah; ngeri, takut, marah, sedih, dan entah perasaan apa lagi yang teraduk dalam dada Topan yang naif, awam, dan nista.

Dalam kegamangan akal sehat, ia mengambil handphon dan tanpa kesadaran menuliskan. “Keharmonisan yang dilukis dengan darah, lisan kerasan yang mematri dogma, yang satu mendominasi yang lain, itukah maksud keniscayaan yang diharapkan?” Tulisannya dengan cepat dikirim pada orang yang kini tidak lagi peduali untuk ia kenali.

“Darah tumpah karena lisan yang kurang kerasan, karena hati yang tidak bersuci, karena naluri rakus kehewanan yang tidak sanggup letakkan orang lain sebagai ‘aku yang lain’.” Katanya dari seberang.

Untaian kalimat kali ini begitu enak didengar tapi cukup pedas untuk dirasakan. Terutama bagi Topan yang sering dengan ucapannya lukai hati orang lain. Lidah yang lancang memaksa Topan berkata sembarangan, tidak disaring, dan asal berbunyi. Hal ini menandakan kedangkalan ilmu. Kedangkalan ilmu berakibat pada kepongahan etika. Kepongahan etika berujung pada murka yang berbuah saling melukai. Ia pun sadar dan teringat pada nasehat sahabatnya, Eci yang mengungkapkan sabda Rasul yang menyatakan bahwa: “Apabila telah sempurna akal manusia, maka sedikitla dalam berucapnya.” Namun kali ini, Topan terganjal dengan kalimat “memosisikan orang lain sebagai ‘aku yang lain’”. Ia pun menulis. “Kenapa harus menjadi aku yang lain? Apa maksudnya?” dan dikirimkannya.

“Bukan menjadi aku yang lain, tapi menempatkan orang lain sebagai aku yang lain. Artinya orang lain adalah makhluk yang sama dengan kita, keberadaannya sebuah keniscayaan demi terwujudnya pluralitas kehidupan.”

pohon natal di resto burj al arab dubai

“Mengapa harus demikian.” Tanya Topan lagi.

“Sebab dengan demikian satu sama lain tidak akan saling menyakiti apalagi sampai melukai, sekalipun berbeda pandangan, pendapat, bahkan keyakinan. Menyakiti orang lain sama halnya dengan menyakiti diri sendiri, apalagi mengatas namakan agama bahkan hingga disucikan. Itulah bentuk penodaan manusia terhadap pesan langit yang suci tadi.” Kata orang yang entah dari mana datangnya.

Kali ini Topan memilih untuk lebih banyak berpikir. Ia berhenti untuk bertanya, tidak lagi membalas pesan singkat dari orang asing yang entah siapa, dari mana, dan agama apa yang dianut-diyakininya. Banyak bertanya bukanlah tanda orang pintar. Sebaliknya, hidup yang manusiawi adalah hidup yang direfleksikan, bukan dipertanyaka.

***

Hujan mulai turun. Tetesan air gerimis satu-persatu jatuh tepat di wajah Topan. Dingin, perih, dan tubuhnya semakin menggigil. Di sela ketidakstabilan tubuh dan pikirannya, ia menyempatkan untuk bergumam. “Mungkinkah yang baru saja datang dan pergi adalah malaikat?” Malaikat yang datang menyuguhkan hadiah terbesar di malam Natal, walaupun sebatas percakapan yang singkat.

Serbuan air hujan yang semakin kerap memaksa Topan mengangkat bahu, bangun dan melangkahkan kaki dengan ucapan lirih penuh makna. “Selamat hari Natal, kalaupun bukan untuk orang lain, biar bagi diriku sendiri.”

4 thoughts on “Percakapan di Malam Natal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s