Mencari Kejujuran yang Hilang

ORASI

Oleh AMIN R ISKANDAR

Mahasiswa Jurnalistik UIN Gunung Djati Bandung

DALAM perjalanan dari Jln. Sancang ke Cibiru, Bandung. Saya menggunakan angkutan kota (angkot). Di tengah-tengah perjalanan, saya dihadapkan pada peristiwa ketegangan antara sopir angkot dan penumpang perihal ongkos. Di satu sisi penumpang bersikeras memaksa ongkos turun sesuai harga BBM yang telah turun. Di sisi lain sopir enggan menurunkan ongkos sedikitpun. Untung saja ketegangan keduanya tidak berkepanjangan, karena direrai oleh mobil angkot yang melaju. Meski demikian, kedua belah pihak masih menyimpan kekesalannya masing-masing.

Beda halnya dengan fenomena yang dijumpai manakala menikmati jasa Damri. Setelah membayar ongkos sebesar Dua Ribu Rupiah seperti biasa, tanpa diharap-harapkan, kondektur mengembalikan uang sebesar Dua Ratus Rupiah. Secara hitungan materiil, kita mungkin akan sepakat, bahwa uang kembalian tersebut bukanlah nilai uang yang besar. Tapi jelas menunjukkan nilai kejujuran dalam mengembalikan hak yang sepatutnya milik orang lain. Perilaku demikian juga menghadirkan rasa kedamaian di hati para penumpang.

Fenomena yang saya jumpai dalam perjalanan itu, sekilas terlihat sederhana bahkan mungkin sepele. Tapi saya percaya pada satu pepatah orang besar yang mengatakan: if you want to be a big man, please you think the small thing. Jika ingin menjadi besar, mulailah berpikir dari hal-hal yang terkecil. Dari fenomena sederhana (kecil) di atas, kita dapat mengurai fenomena besar bila berusaha menkontektualisasikan dengan kondisi kebangsaan akhir-akhir ini.

Contoh sederhana adalah fenomena mencuatnya hasrat beberapa daerah di Indonesia untuk memisahkan diri, baik dari level nasional maupun regional. Di level nasional, Aceh dan Papua bersikeras untuk berpisah dari Negara Indonesia. Sebelumnya Timor Timur sudah memproklamasikan diri merdeka dari Negara Indonesia. Di level regional, Pangandaran menginginkan pemekaran daerah dari Kabupaten Ciamis dan Tapanuli dari Provinsi Sumatera Utara. Provinsi yang lebih dahulu memisahkan diri adalah Provinsi Banten dari Provinsi Jawa Barat.

Khusus pemekaran daerah, isu ini muncul mengatasnamakan demokrasi dan otonomi daerah. Namun jika diamati lebih cermat, maka kita akan menemukan fakta bahwa faktor dominan tuntutan pemekaran daerah ini lebih didasari oleh persoalan pinansial. Seperti pembagian hasil sumber daya alam yang ditarik dari daerah-daerah pedalaman ke pusat kota tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, bahkan boleh jadi ada yang tidak dikembalikan. Hal ini terjadi sesuai fakta menjamurnya perilaku korup yang kian hari kian menjadi hingga level pemerintahan lokal.

Akhirnya daerah yang merasa kurang diperhatikan (dirugikan) mulai jengah dan menunjukkan sikap berontaknya dalam bentuk tuntutan pemekaran daerah. Bukti bahwa ini merupakan bentuk pemberontakan masyarakat, tercermin dari tragedi kerusuhan di gedung DPRD Sumatera Utara 3 Februari kemarin. Sangat disayangkan memang, aksi massa menuntut pembentukan povinsi Tapanuli ini sampai menelan korban. Tidak tanggung-tanggung, korban yang jadi ‘‘tumbal’’ pemekaran daerah adalah Ketua Dewan Abdul Aziz Angkat yang merenggang nyawa. Itulah kiranya konsekuensi yang diakibatkan oleh amarah yang tidak terbendung karena haknya dikekang.

Mungkin akan beda jadinya bila tuntutan pemekaran daerah Tapanuli dibicarakan dengan arif, bijak, penuh keterbukaan dan dilengkapi oleh kejujuran pemerintah dalam memberikan hak warganya. Misalnya yang terjadi di Pangandaran kabupaten Ciamis. Tuntutan pemekaran daerah sama muncul. Bedanya, yang ini disikapi pemerintah kabupaten Ciamis dengan terbuka. Hasilnya ? seperti kita ketahui, tidak ada kejadian yang meresahkan masyarakat di sana, apalagi harus sampai menelan korban.

Pada akhirnya, kita dapat menarik benang merah dari semua tragedi kurang mengenakkan akhir-akhir ini. Setidaknya menemukan fakta bahwa bangsa ini telah kehilangan ‘‘setengah kejujuran’’ dalam mengembalikan hak rakyatnya. Meski demikian patut kiranya kita optimis akan ditemukannya ‘‘kejujuran’’ itu. Setidaknya kita dapat bercermin dari sosok kondektur Damri, walau Ia bekerja di tempat yang sederhana, tapi mampu menyamankan hati orang lain dengan tulus mengembalikan hak penumpangnya. Bukan bercermin dari sosok sopir yang memilih bersitegang dengan penumpang demi keuntungan sebelah pihak. ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s