Transformasi Kepemimpinan

Transformasi Kepemimpinan dan Kreativitas Format Pengkaderan; Upaya Pengembangan Organisasi Kemahasiswaan

“Dalam kerangka perjuangan, kita mesti melangkah secara santun, sopan dan waspada. Janganlah kita gegabah sampai bunuh diri, perjuangan masih panjang”

Pendahuluan

Berkali-kali saya merenungkan peristiwa akbar bangsa Indonesia, mulai dari peristiwa Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, pergolakan politik 1966 dan peristiwa reformasi 1998. Ada secuil rasa kagum dalam ungkapan “luarbiasa” di hati saya. Kemudian kekaguman itu diikuti oleh sebaris pertanyaan sederhana “mengapa dan ada apa di balik semua itu?” Setelah membaca beberapa literatur dan mendengar dari para sejarawan, muncul keterhenyakan luar biasa karena fakta yang menunjukkan bahwa aktor utama terjadinya peristiwa akbar tadi adalah kaum muda (mahasiswa) yang terhimpun dalam organisasi kemahasiswaan.

Meski seluruh mahasiswa merupakan kelas elit intelektual yang dating dari dunia kampus yang, dalam bahasa Gamscian[1] disebut dengan istilah kaum “intelektual organik”. Namun mahasiswa sekaligus aktivis tentunya memiliki nilai lebih. Golongan terakhir ini kerap mengusung ide pembaharuan yang berdiri di atas pijakan idealisme dan moralitas. Sehingga dari kesadaran intelektual tersebut, mahasiswa dapat melahirkan dan mewujudkan gerakan kritis, independen dan humanis (sosialis)[2].

Namun pasca reformasi ini, justeru muncul kehawatiran akan mengendurnya gerakan mahasiswa. Pasalnya, selain faktor perubahan “paradigma zaman”, juga pintu demokrasi yang begitu terbuka lebar dapat menjadi ancaman nyata bergesernya orientasi kaum muda (baca: aktivis). Dalam arti, ide pembaharuan yang dulu berdiri kokoh di atas pijakan idealisme dan moralitas, beralih pijakan ke pragmatisme dan kepentingan material sesaat. Akhirnya kaum muda berbondong-bondong bermain politik praktis. Akibatnya adalah gerakan kritis, independent dan humanis pun akan ikut sirna. Memang tidak salah gagasan yang mengatakan bahwa perubahan juga harus ditempuh dengan jalur kekuasaan. Akan tetapi tentunya ada prosedur tertentu yang tidak boleh dilupakan untuk mewujudkan semuanya.

Trasformasi Kepemimpinan

Kalau kita mau jujur dan berkaca pada sejarah, keberhasilan mewujudkan Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, pergolakan politik 1966 dan peristiwa reformasi 1998 tidak didapat dengan jalan instant (singkat). Paling tidak, minimalnya membutuhkan lima tahun untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang bermutu tinggi, membangun kekuatan dan melakukan konsolidasi. Inilah saya pikir yang disebut dengan prosedur yang mutlak dijalankan oleh organisasi kemahasiswaan. Organisasi yang terdiri dari para elit intelektual dengan disiplin ilmu yang beragam dan kepribadian yang heterogen.

Membangun SDM yang bermutu tinggi merupakan tahapan paling fundamental. Beberapa poin penting yang “wajib” ditanamkan dalam pribadi elit intelektual di antaranya adalah nilai-nilai spiritualitas, intelektualitas dan humanitas. Dalam tahap ini sejatinya tidak dikungkung oleh aturan yang dapat mengerdilkan karakter anggota organisasi. Beri mereka keleluasaan dan biarkan berdiri secara independen. Karena dengan demikian proses pendewasaan pola pikir dan arah gerak akan berkembang dengan pondasi nilai-nilai spiritual, intelektual dan sosial. Tujuannya adalah untuk melahirkan kelas intelektual yang siap melakukan tindakan liberasi, humanisasi dan transendensi[3] persoalan-persoalan masyarakat luas. Baik dalam cakupan masyarakat lokal, regional, nasional, hingga internasional. Moeslim Abdurrahman[4] menyebut elit intelektual ini dengan istilah subaltern intelektuals, intelektual akar rumput[5].

Setelah tersedianya SDM yang mumpuni, maka dengan sendirinya kekuatan organisasi akan terbangun. Selanjutnya adalah melakukan transformasi kepemimpinan demi pengembangan organisasi dan melancarkan konsolidasi organisasi. Itulah kiranya kenapa organisasi kemahasiswaan dibangun dengan tahapan berjenjang, seperti; pimpinan lokal kampus (komisariat/rayon), pimpinan cabang (kota/kabupaten), pimpinan daerah/wilayah hingga pimpinan pusat.

Artinya, dengan adanya upaya transformasi kepemimpinan, organisasi kemahasiswaan tidak akan sampai kehabisan tenaga (baca: kader). Karena tuntutan untuk mencari kader pengganti akan sama tingginya dengan proses “pengorbitan” kader yang sudah “jadi” (mengikuti proses panjang pengkaderan) untuk ditransformasikan ke jenjang lebih tinggi. Seperti Cokro Aminoto mengkader Soekarno, Semaoen, dan Kartosoewirjo. Ketiga tokoh tersebut sama-sama tumbuh besar karena proses pengorbitan kepemimpinannya tidak mengalami kemandegan, sekalipun terdapat perbedaan ideologi yang kentara di antara mereka. Bayangkan saja Soekarno, yang jadi ketua partai pada usia 26 tahun. Dengan demikian, organisasi kemahasiswaan akan selalu berkembang dan mendapatkan tenaga yang segar. Di mana orang-orang muda terus saling berganti di dalamnya dengan membawa gagasan-gagasan baru dan kreativitas yang baru juga.

Akan berbeda ceritanya apabila transformasi kepemimpinan ini mandeg (stagnant). Organisasi kemahasiswaan harus menanggung resiko menampung kader-kader lama (baca: tua) dengan ego dan gagasan lama. Hal ini akan mengakibatkan konflik internal dan berdampak pada stagnasi gerakan. Kader-kader muda akan mengalami kesulitan berkembang di bawah bayang-bayang (intervensi) kader-kader tua.

Kreativitas Pengkaderan

Rasanya semakin sulit langkah pengembangan organisasi di abad ke-21 ini. Karena perkembangan zaman yang sangat pesat, begitu dahsyat mempengaruhi “pandangan hidup” manusia. Seperti gaya hidup hedonis, apatis dan pragmatis. Apalagi menimpa mahasiswa dengan jiwa muda di dalam dadanya. Berbicara jiwa muda, selain berbicara segudang talenta yang dapat digali dan dilatih, juga berbicara soal kerentanan dan unstabilitas pendirian[6].

Contoh kongkrit dapat kita kaji dari fenomena kehidupan nyata. Di mana mahasiswa yang tidak minat pada organisasi lebih dominan dari para aktivis. Bahkan di kampus UNPAD Jatinangor, terdapat organisasi kemahasiswaan yang terpaksa “bubar” karena sama sekali kehabisan kader penerus dan sebagian lainnya harus berjuang mati-matian demi mempertahankan eksistensinya dengan jumlah kader belasan saja[7]. Cukup miris memang, jika melihat kondisi kaum muda yang kehilangan spirit kebangsaannya.

Artinya, perlu adanya kreativitas dalam menyusun format atau metode pengkaderan yang lebih menarik dan akomodatif tapi tetap edukatif. Seperti kegiatan yang menghibur, pembinaan spesialisasi keilmuan dan pengembangan minat dan bakat selain kajian keilmuan yang dianggap menjemukan. Seperti pengembangan profesi, rekreasi, bakti sosial, olah raga dan pentas seni. Paling tidak memberi stimulus awal pada mahasiswa untuk ikut serta berorganisasi. Setelah itu bisa dilanjutkan pada penggugahan “kesadaran kritis”[8] sebagai mahasiswa yang mengemban tanggung jawab moral sebagai elit intelektual (agen of change). Penyadaran yang dimaksud adalah penyadaran dari gelombang arus kehidupan yang melenakan. Seperti gaya hidup hedonis, apatis dan pragmatis.

Apalagi dalam kondisi bangsa yang sedang berupaya belajar berdemokrasi (transisi). Di mana “pintu” kebebasan berpendapat sangat terbuka lebar. Kreativitas pola pengkaderan harus benar-benar dipikirkan secara matang. Terutama dalam upaya penyadaran mahasiswa. Yang perlu ditekankan adalah bahwa bukan berarti “kesadaran kritis” selalu condong pada tindakan ricuh, anarkis dan melakukan kekacauan di mana-mana (aksi jalanan). Melainkan, “kesadaran kritis” merupakan sikap penerimaan akan hak setiap individu untuk hidup bebas tanpa tekanan dari pihak lain dan bukan untuk jadi penekan orang lain.

Harapan dari semua itu tiada lain terbangunnya kerangka perjuangan yang lebih santun, sopan tapi penuh sikap waspada. Selain mempertahankan organisasi dari ancaman “pembubaran,” juga untuk mengembalikan peran mahasiswa ke ranah –seperti yang dikatakan Ali Syariati— “tugas sucinya”[9] sebagai intelektual sekaligus cendekia. Sehingga tidak terjebak di “jurang” kekerasan, anarkis, dan kericuhan seperti yang sering disaksikan di media massa. Dalam kata lain, mahasiswa tidak berlaku “bunuh diri” di tengah jalan perjuangan. Sebab untuk memanjat “pohon reformasi” ini masih panjang dan berharap besar pada para aktivis mahasiswa.

Penutup

Semakin lama perjuangan mahasiswa bukan semakin ringan, akan tetapi akan semakin berat dan rumit. Tentunya semua itu sesuai dengan situasi, kondisi dan perkembangan zaman yang memiliki cerita masing-masing. Jika dulu mahasiswa harus berhadapan dengan “musuh” berwujud pisik penjajah, sampai-sampai harus mengangkat senjata. Sekarang justeru berhadapan dengan dirinya masing-masing dan pengaruh pemikiran dan kebudayaan yang melenakan. Tentu strategi “memerangi” itu tidak cukup dengan mengangkat senjata. Akan tetapi dengan pikiran yang lebih cerdas, lues dan arif bijaksana, sekaligus kesadaran untuk merasakan “jajahan laten” tersebut.

Maka melalui tulisan ini, saya berharap selain menambah kesadaran diri pribadi untuk mewujudkan “misi suci” sebagai intelektual dan cendikia. Juga dapat memberi sumbangsih pada rekan-rekan seperjuangan di organisasi kemahasiswaan untuk lebih giat dan kreatif dalam mengembangkan organisasi kemahasiswaan. Karena mau maupun tidak, kita harus sadar bahwa sebagai mahasiswa berarti sekaligus di pundaknya ada tugas mulia untuk melakukan perubahan ke arah yang selalu lebih baik.


[1] Gramscian adalah golongan atau kelompok pengikut paham sosiolog Antonio Gramsci

[2] Selengkapnya dapat dibaca di buku Yuddy Chrisnandi, Beyound Parlemen; Dari Politik Kampus Hingga Suksesi Kepemimpinan Nasional, Transwacana, 2008.

[3] Liberasi, Humanisasi dan Transendensi adalah trilogi itelektual profhetik Kuntowijoyo.

[4]Antropolog terkemuka Indonesia.

[5] Selengkapnya dapat dibaca di buku Yuddy Chrisnandi, Beyound Parlemen; Dari Politik Kampus Hingga Suksesi Kepemimpinan Nasional, Transwacana, 2008.

[6]Selengkapnya baca J. Darminta, SJ. Praksis Pendidikan Nilai, Kanisius, 2006.

[7]Informasi ini didapat setelah berbincang-bincang dengan salah satu aktivis mahasiswa UNPAD Jatinangor.

[8]Kesadaran kritis adalah kesadaran untuk memposisikan manusia pada fitrahnya yang selain berhak untuk bebas juga memiliki tugas mulia terhadap kondisi sosial di sekitarnya. Proses penyadaran ini pernah dilakukan Paulo Freire pada sekelompok buruh dan tani di daerah Timur Laut Brazilia. Selengkapnya baca buku Paulo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas, LP3ES, 1972.

[9]Ali Syariati berkata: “Misi suci kaum intelektual dan cendikiawan adalah membangkitkan dan membangun masyarakat bukan memegang kepemimpinan politik negara, dan melanjutkan kewajiban dalam membangun dan menerangi masyarakat hingga mampu memproduksi pribadi tangguh, kritis, independent, dan punya keadilan sosial tinggi” (1996).

One thought on “Transformasi Kepemimpinan

  1. Tulisan ini merupakan naskah yang memenangkan lomba sayembara menulis yang diselenggarakan SMF Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Gunung Jati Bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s