Yang Tenang; Menghayutkan

Oleh AMIN R ISKANDAR

Indonesia, seakan tidak memiliki niatan untuk beranjak dari model politik santun, tenang dan lebih berpijak pada figur sang calon pemimpin. Kemenangan pasangan Capres nomor urut 2 dalam satu putaran dengan perbandingan suara telak, patut kita catat sebagai bukti pernyataan tersebut. Betapa tidak? Sang Presiden terpilih, selama ini menonjolkan karakter tokoh yang lemah lembut, pengasih dan (nyaris) tanpa hawa nafsu. Tutur katanya begitu mendayu-dayu nan kadang sampai melodramatik. Begitu juga dengan pasangannya. Dari wajahnya saja terpancar aura kesahajaan, ketenangan, dan kedalaman budi pekerti. Singkatnya, pasangan ini adalah pasangan yang sama-sama tenang, nampaknya.

Kiranya boleh-boleh saja jika kita bercermin pada kaca sejarah. Setidaknya serpihan sejarah politik bangsa ini pra reformasi. Mudah-mudahan belum pada lupa. Bagaimana santunnya pancaran karakter dari penguasa Orde Baru. Dari tutur katanya hingga gerak langkah fisiknya, begitu gagah dan bersahaja. Karena kesantunannya pula, ia mampu menguasai suatu bangsa hingga tiga puluh dua tahun. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga di dunia, ia pantas dicatat sebagai orang kuat secara politik.

Tidak boleh lupa juga, saking santunnya ia berpolitik, rakyat Indonesia sampai mati kutu, tidak bisa melakukan apa-apa. Jangankan berlaku bak seorang aktivis pergerakan, sekedar berdiskusi demi mengembangkan khazanah keimuan saja, sembunyinya sampai setengah mati, sebab menghindari ancaman penangkapan. Pasalnya, seluruh elemen bangsa (pengusaha-militer) bergabung dalam lingkaran kekuasaannya.

Kini, kita jumpai lagi figur politisi yang santun nan bersahaja, kulit luarnya. Di balik kesantunannya, tertimbun rahasia yang dalam dari berbagai macam elemen yang menjadi kekayaan kekuatan politik. Taruh saja peran intelejen, modal asing dan pengusaha lokal yang menopang kekuasaannya. Sehingga track politiknya begitu menanjak, kuat dan sulit ditumbangkan lawan-lawannya.

Ini, mungkin senada dengan pepetah yang didengar dari sungai di desa sana. “Air beriak tandanya tak dalam, air tenang menghanyutkan.” Entah intuisi entah prasangka. Hasil Pilpres kemarin memicu perasaan bawah sadar saya untuk mengatakan adanya arus deras itu. Apa lagi terbuka lebarnya kesempatan konco Pohon Beringin untuk ikut bagian dalam lingkaran kekuasaan. Alhasil koalisi pemerintah hampir mencapai 70%, tidak ada alasan meski kembali menghimpun kekuasaan yang semau dia.

Tentu saya bukan paranormal seperti Ki Joko Bodo, atau Mama Lauren yang dapat meramal masa depan. Namun, kalau mengamati perjalanan politik. Keberhasilan nomor urut 2 ini ditopang oleh kalangan intelejen yang sangat kuat dan cerdas, di belakangnya. Belum lagi sokongan dana yang entah dari mana asalnya. Bukan saya curiga, tapi kenyataan mengatakan bahwa harta Capresnya sangat sedikit, begitu juga dengan Cawapresnya. Tapi ternyata bisa mengongkosi dana kampanye yang bukan kecil jumlahnya.

Memang ada rumor yang masuk dalam telinga kanan-kiri ini. Bahwa sebenarnya rahasia dana kampanye nomor urut 2 ini terletak dalam lembaga konsultan politik dan opini publik yang berbaju Fox Indonesia. Tentang kebenarannya, semoga ada pihak lain yang sanggup mengungkapnya. Melalui jalur Fox inilah aliran dana –yang masih absurd sumbernya—kemudian tembus ke Capres, bukan Capres yang mengeluarkan dana ke Fox.

Kemudian, saya coba untuk berspekulasi dari tanda-tanda. Dulu, penguasa Orde Baru yang santun tidak kepalang itu, berkendaraan yayasan politk Golkar bernomor urut 2, di tengah-tengah dua partai yang tak pernah menang dalam pemilu. Sekarang juga sama, politisi santun itu berdiri di nomor urut 2 dari tiga pasangan kandidat. Latar belakang ketokohan juga demikian, sama-sama dari kelompok militer yang, secara strategi, sasaran, dan dukungan dari belakang layar tidak akan jauh berbeda.

Namun, sekali lagi, saya hanya ingin mengatakan bahwa ini sekedar spekulasi saja. Tapi bukan berarti tertutup dari unsur kebenaran. Hanya, betapa yang santun, tenang, tidak banyak tingkah dan bersahaja. Ternyata menyimpan muatan isi yang padat. Contohlah bulatan besi yang ketika dipukul tidak begitu nyaring bunyinya. Tapi kalau dipakai alat memukul, bukan main ampuhnya. Beda dengan kendang yang ketika ditabuh riuh suaranya, tapi toh kosong baigian dalamnya.

Kembali lagi pada pepatah permukaan sungai. Kiranya kita tidak mesti tertipu dengan ketenangan permukaan, sebab di dalamnya mungkin tersimpan serpihan kaca pecahan, duri, buaya dan atau piranha yang siap menerkan, melumat dan hanya menyisakan tulang belulang pada akhirnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s