Jum’at

Oleh AMIN R. ISKANDAR

DALAM sibakan angin panas, kau berdiri mematung. Seraya dengan itu kau lempar pandangan kosong dalam puing-puing pepecahan. Hari ke 17 dari bulan Juli 2009 itu, yang kalangan agamawan (islam) mengatakan hari terbaik, tempat waktu mustajab untuk berdo’a, dan hari ketika Tuhan melemparkan hamba-Nya yang beriman ke dalam surganya. Meninggalkan kesan memilukan dalam sanubarimu. Ketidak percayaan, kegalauan dan kekecewaan beraduk-baur menjadi satu. Kau tampak pucat tanpa nyawa.

“Padahal, semalam tadi aku memandangmu hingga larut. Dari tempat ini pula. Dan masih aku kagum akan keelokan paras dan ketinggian bangunanmu.” Gumammu lirih, tidak menentu siapa orang yang kau tuju, dalam ucapanmu. “Namun kini, jangankan menarik orang untuk mampir dan menginap, sekedar lewat di dekatmu mungkin sangat enggan.”Sementara sebagai pekuli tinta, tanganmu tak kuasa mengangkat kamera di kanan. Apalagi menekan tombol demi menggambar sisa reruntuhan dengan cahaya. Tanganmu bergetar, gigimu berbunyi. Menahan amukan di dada. Hanya mata saja yang menyapa pecahan kaca, besi yang membengkok dan percikan darah yang masih basah nan bau anyir. Tidak lagi terpikir wilayah profesi dan kemanusiaan yang terwarnai nilai-nilai moral.

Masih saja kau tidak mau beranjak dari tempatmu berdiri. Meski sekeliling komplek Hotel Ritz Carlton dan JW Marriot masih riuh diserbu pandangan orang, dari jauh. Garis pembatas yang dipasang polisi membentang tegas, melarang orang sembarang mencampuri kawasan ledakan.

Dalam pikirmu mengembang satu angan. Apa sengaja orang meledakkan bom di hari mulia ini, agar sang mati lantas di lemparkan Tuhan ke surga-Nya. Pun pelaku merasa benar-benar syahid karena mati di hari itu. Atau karena dilatari ketidak insyafan sebagian kalangan yang tak suka. Bagi dirimu memang sudah tak jadi persoalan ini berada di Indonesia atau bukan. Tapi kau selalu dipercaya sebagai orang manusiawan peduli sesama, kedamaian, dan keasrian hubungan kehidupan dunia. Tak mengherankanlah jika jiwamu dilimpud nafsu, amarah yang tiada batas. Tapi tetap mesti diingat, bahwa kau sesungguhnya tidak tahu apa-apa. Ke siapa pantas marah, ke mana mesti meluapkan nafsumu.

Kau baru saja menjadi insyaf, ketika layangan anganmu dipecah sesosok tinggi besar yang menabrakmu. Sosok berambut pirang berkulit bule melangkah tergesa-gesa. Koper dan tas besar disandangnya sekaligus. Entah apa yang dibicarakan dalam bahasanya yang nat-nit-not. Hanya kau hanyut dalam prasangka, paling-paling mereka berharap segera beranjak dari negeri penuh misteri ini.

Selepas menengok angka jam yang terpasang di sebelah kanan dari tanganmu. Lekaslah kau pergi memenuhi kesadaran ketuhanan.

#          #          #

Matahari itu kian meninggi. Untuk ukuran udara di Jakarta, yang hampir seluruh bangunan tinggi ditutupi kaca. Jangankan hari segitu, malam pun cukup memeras keringat. Seiring gerak langkahmu, kau abaikan basah dipunggung dan dahimu. Kalau di tangan dan di kaki, itu sudah tentu kau tak hiraukan. Ingin hati memang lekas tiba di rumah Tuhan, tapi apa daya, pemandangan tadi membuatmu lunglai, gontailah langkah-langkahmu.

Tibalah kau di halaman rumah Tuhan dalam cerita yang dipersingkat. Namun tidak lantas mengambil air pembasuh muka, kedua tangan, kepala, dan sepasang kaki sebagai syarat sahnya ibadahmu, kepada Tuhanmu.

Hanya mengambil tempat duduk dan memutar pandang di sana. “Oh, biginilah kebiasaan orang kota menjumpai Tuhannya,” pikirmu. Sungguh berbeda dengan apa yang biasa kau alami di dusunmu jauh, di kaki bukit gunung Galunggung. Dalam perjalanan sang imam memberikan ceramah di atas mimbar. Sekelompok anak sekolah dasar memangku Koran, menawarkanna. Barang kali kau mau beli, untuk membantu tambah-tambah nafkah dan biaya sekolah mereka. Belum lagi bagian pemuda yang lewat dari ukuran dewasa, menggoyang-goyangkan tangan, menyikat sepatu para tuan-tuan kantoran. Persetanlah segala apa yang disampaikan sang imam di depan sana, seakan ada di pikir mereka.

Aku masih saja duduk, menunggu giliran mendapatkan air pembasuh muka, kedua tangan, kepala dan sepasang kaki yang bermata. Namun tak kunjung kebagian. Karena begitu banyak orang dalam antrian. Dan sayang, di tengah-tengah penantian, sang air habis nan kering. Kandaslah harapanmu untuk menyapa tuhanmu dengan ritual.

Meski demikian adanya, kau tidak juga beranjak dari tempat dudukmu. Rasa penasaranmu belum habis. Akankah si anak penjual koran bekas dan penyemir sepatu akan ikut bagian dalam penyapaan Tuhan? Karena itu kau tetap saja diam di tempatmu. Hilir mudik peserta ritual berdatangan. Harapan mereka sama, ingin kebagian jatah pemenuh syarat sahnya ibadah, air. Tapi ya apa mau dikata, toh dari tadi airnya sudah habis.

Ada yang bersikeras dengan membeli air Aqua botol. Dengan air itu ia bersuci. Kau jumpai di sana pemandangan yang unik. Yang mana membasuh tangan seadanya saja, tak sampai ke sikut sebagaimana diajarkan Tuhan pada ummatnya.

Ya., beginilah mungkin kemuliaan ini hari bagi sebagian orang. Termasuk kau, yang ketika jamaah bubar, tukang semir bubar, tukang korang bekas bubar, dan kau pun bubar dengan mereka. Kau hanya jadi penonton hari itu.

Dalam kepergianmu, kau berguman lirih. “Karena model ibadahnya seperti ini, maka tidaklah heran hotel itu meledak.” Sambil tertawa sini, kau lantas melanjutkan. “Apa hubungannya. He he he.” Tutup mulutmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s