Karena Jengot dan Topi

Oleh AMIN R ISKANDAR

SUDAH bagian dari tabiatmu menyapa jejak yang tak pernah ditanam sebelumnya. Sepanjang kisah tualang. Sejauh tempuhan musafirmu hanya menghampiri hembusan angin asing. Jika tidak menunggangi roda bermesin, maka kedua kakimu tidak pernah bosan untuk mengantar hasrat ingin tahumu. Bilalah tidak di kota, maka di desa, atau di gunung, dan hingga di pesisir pantai sana, peluhmu membasuh sekuat kau bertekad. Hingga akhirnya kembali mengering berupa riwayat hidup yang tak tercatat tetesan tinta.

Hari itu, hari ke 22 dari sang Juli, tahunnya kepunyaan Bapak 2009. Ada pun kenamaan akan hari, pembacalah yang berhak mencari. Sampailah petualanganmu menyapa permukaan Gedung Kedutaan Besar Negeri Kangguru, Australia. Gedung dengan simbol hewan Kangguru itu, letaknya persis dalam apitan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Gedung Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Tentu saja, segalanya dalam naungan Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai Presiden Negara RI yang entah siapa menghormatinya.Sementara, suasana jalanan, pecah bising dengan bunyi mesin metromini, taxi, busway, hingga mobil si kaya yang mengkilap body dan kacanya. Seluruhnya berpacu, beradu cepat, mengejar harapan masing-masing hasratnya akan isi dunia.

Syahdan kau menyibak tetesan peluh yang menorobos sela-sela topi di kepalamu. Punggung? Sudahlah tentu bukan berupa hitungan. Sebab menjadi keniscayaan menjadi basah di tanah Batavia ini. Namun bukanlah dirimu jika sampai mengatakan “sudahlah sampai di sini” dari petualangan panjang itu. Sebab segala maksud, yang entah bagi apa dan siapa, belum kunjung kau temukan. Walau hanya dalam permukaan garis finis.

Baru saja kau berniat melewati Gedung Kedutaan itu, dua bodyguard menghampirimu. Dengan alat pendeteksi di tangan, entah apa nama alat itu, tidaklah kau paham betul. Kedua pria berseragam itu menghadang langkahmu. Tentu tindakan orang asing sebabkan kau kaget. Belum habis pula rasa kagetmu, sang bodyguard memintamu menanggalkan tas, dengan penuh hormat dan kesopanan.

Tidaklah kau berharap ada perdebatan di sana. Apalagi di pinggir jalan raya di kota besar. Kau tahu itu bukan ruang perdebatan yang efektif. Toh siapa mereka? Belumlah tentu satu kelas dengamu, yang mampu berdiri sama tinggi, duduk sama rendah, dan berbicara sama fasih. Karena kau sepenuh diri insyaf, kau tak bisa berbicara begitu fasih.

Sebab enggan membuka tas. Kau berikan saja pada sang bodyguard. Biar mereka periksa sendiri, pikirmu.

Dari dua bodyguard itu. Meriksa tas milikmu-lah yang satu. Sementara satu lainnya, memandang parasmu lekat-lekat dan penuh teliti. Seakan tidak hendak melewatkan sepenggal bagian saja dari tubuhmu. Dengan bermula dari ujung topi hingga ujung kaki, ia sapa dengan sungguhnya. Sementara kau acuh saja. Menengadahkan muka sambil membelai jenggot tipismu. Tentu kau jujur, kalau itu bukan tindakan kesombonganmu. Hanya gaya, sekedar gaya.

Selidik punya selidik, sebab kau heran mengapa begitu ketatnya penjagaan suatu gedung. Ternyata, yang menjadi sebab adalah adanya desas-desus, bahkan datang dari lisan mantan pelaku teroris, bahwa ciri-ciri teroris adalah bertopi. Bukan berpeci? Selain itu pula, di bawah dagunya bertumbuhan bulu, katanya. Apalagi, kau melewati itu gedung kedutaan beberapa hari pasca meletusnya bom Mega Kuningan. Jaraknya tidak begitu jauh dari sana.

Jelaslah kini, kau yang bertopi dan berjenggot diwaspadai. Diperiksa meski sekedar niat melewat saja. Syahdan, kau memandang legitimasi yang sama dari peristiwa itu. Dipukul rata. Kalaulah Ibumu tahu yang tinggal di desa sana. Ia mungkin akan berkata dalam istilah “disakompetdaunkeun.”

Di sini, kau memandang ada keuntungan bagi satu pihak dan kerugian bagi pihak lain. Untung bagi si pencukur jenggot, setidaknya pemotong rambut, sebab akan banyak orang yang memotong jenggotnya. Demi menghindari “fitnah” teroris dan menghindari tindak penangkapan. Kesialan justru akan menimpa pedagang topi. Orang hendaknya enggan membeli topi. Toh tidak akan terpakai sebab menghindari kecurigaan akan teroris.

Beda halnya ketika kakimu menggapai halaman Gedung Kedutaan Besar Uni Emirat Arab. Tidak ada penjagaan. Tidak ada bodyguard yang menghadang. Padahal, jarak dari JW Marriott sangatlah lebih dekat, jika dibandingkan dengan Kedutaan Besar Negeri Kangguru. Hanya potret Syekh Ahmad Yasin, memandang langkahmu bisu. Apa mungkin karena sama-sama berjenggot dan memiliki penutup di kepala? Biarlah publik lebih tahu korelasi segalanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s