Qurban Bersama Korban

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahakan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qabil) berkata: ‘Aku pasti membunuhmu!’ berkata Habil: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa’,” (Q.S. Al-Maidah: 27).

Daerah saya, Tasikmalaya, adalah salah satu daerah korban bencana gempa Jawa Barat beberapa bulan lalu bersama Bandung dan Cianjur. Memang sudah agak lama, tapi masih menyisakan puing-puing kerusakan rumah, kehilangan mata pencaharian, dan kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Muncullah ungkapan keluh-kesah dan hawatir dari lisan para korban gempa, “akan kah kita menikmati daging qurban tahun ini?”

Biasanya, seperti yang biasa saya saksikan, idul adha merupakan instrument gegap gempita masyarakat di sela-sela ibadah kepada Allah SWT. Kaum berpunya mempersembahkan korban sembelihan untuk dibagi-bagikan sebagai tanda syukur akan nikmat-Nya, kaum miskin menerima daging qurban dengan bahagia disertai doa syukur akan nikmat-Nya, dan terutama anak-anak yang riang gembira melantun takbir sambil mengibaskan kipas membakar sate daging qurban; itulah suasana masyarakat yang tergambar secara kasat mata.

Sementara dalam kedalaman suasana itu ada hal yang tersembunyi bernama semangat pembebasan. Dalam kata lain, segala penderitaan, kesusahan, dan kesulitan hidup masyarakat “disembelih” seiring dengan disembelihnya hewan qurban. Di sinilah Allah mengingatkan bahwa derajat manusia sama tinggi, sama rendah. Si kaya dan si miskin sama-sama menikmati kebahagiaan akibat terbebasnya segala bentuk penderitaan; dalam simbol sama-sama berbagi mencicipi daging qurban dari satu hewan yang sama.

Dalam belantara bencana yang mengguncang –hampir seluruh dunia — dewasa ini, sejatinya semangat pembebasan itu kian menebal. Sebab penderitaan, kesusahan, dan kesulitan hidup sudah pasti menghunjam mental setiap masyarakat, terutama bagi kaum miskin yang terhimpit dalam lingkaran ekonomi global dan para korban bencana alam. Ungkapan keluh-kesah dan hawatir dari lisan para korban gempa, “akan kah kita menikmati daging qurban tahun ini?” adalah bukti penderitaan itu nyata adanya. Dan, kiranya ungkapan itu pantas ada karena jangankan untuk berkurban, memikirkan tempat tinggal yang luluhlantak saja sudah pusing tujuh keliling.

Maka, supaya sebagai rasa syukur dan semangat pembebasan itu lebih mengena, alangkah lebih baik jika ibadah qurban –kaum kaya dan pejabat Negara— dilaksanakan di lokasi-lokasi yang terkena gempa; seperti Cigalontang-Tasikmalaya, Pangalengan-Bandung, sebelah selatan Cianjur, dan daerah-daerah lainnya di Padang sana. Dalam kata lain, kita berqurban bersama korban bencana alam. Dengan demikian, setiap manusia bisa berbagi kebahagiaan dan yang terutama adalah merasakan bagaimana jadi korban gempa. Qurban, bukan amalan seremonial atau pemenuh kewajiban semata tanpa pesan sosial dan moral mulia di dalamnya!

Q.S. Al-Maidah (27) yang saya kutip di atas mengisyaratkan bahwa syariat qurban itu sudah ada semenjak pertama kali ikatan kemasyarakatan diciptakan. Habil dan Qabil – anak Adam dan Hawa — adalah masyarakat pertama yang memanifestasikan pesan semangat pembebasan dari Tuhan. Dalam ayat di atas juga secara tegas diterangkan adanya pesan sosial dalam pelaksanaan qurban; hanya bentuk persembahan terbaik (baca: takwa) yang bakal diterima baik oleh manusia apalagi oleh Allah seperti yang dilaksanakan oleh Habil.

Lebih hebat lagi adalah fenomena qurbannya Nabi Ibrahin a.s. Saking besarnya kepatuhan dan tebalnya ketakwaan Ibrahim a.s. kepada Allah, ia rela mempersembahkan puteranya, Ismail, untuk disembelih (baca: diqurbankan). Tapi, sesungguhnya Allah ingin mengingatkan bahwa setiap apa yang dipersembahkan kepada-Nya dengan penuh kepatuhan dan ketakwaan, akan ditebus dengan yang lebih besar dari rezeki-Nya. Dan Kami (Allah) tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar,” (Q.S. As-Syafaat: 107). Maka, berbahagialah bagi mereka yang berqurban!.

Sebaliknya, sesiapa orang yang hawatir dan enggan berqurban karena takut hartanya berkurang (seperti Qabil), jangankan ridla Allah menghampirinya, Rasulullah sekalipun enggan mengakuinya sebagai bagian dari ummat Nabi Muhammad. Demikian Rasulullah bersabda: Barang siapa yang sudah mampu dan berkenan tetapi tidak melaksanakan qurban, maka jangan sekali-kali ia menginjak ke mushollahku,” (al-hadist). Naudzubillah.

Alhasil, di zaman yang jauh dari masa-masanya Nabi Muhammad Saw., siapa di antara kita yang ingin menjadi sahabat Rasul, yang pasti diakui dan dipersilakan menginjak mushollahnya? Sementara kesempatan itu sudah terbuka lebar; berqurban dengan semangat membebaskan korban bencana alam dari kesulitan, kesusahan, dan penderitaan yang mengimpit kehidupan mereka. Berlomba-lombalah mendapatkan tempat di sisi Allah dan Rasul-Nya. Sebab siapa yang cepat, dialah yang dapat. Wallahualam.

AMIN R ISKANDAR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s