Akibat Lapar

(Sambungan Berdiri di Atas Kaki Sendiri)

“YANG memberatkanku adalah ketika memimpin organisasi dalam keadaan lapar. Kau tahu, laparku lebih sering daripada kenyangku,” Jhoni bertutur lagi.
Malam tetap sunyi. Sahabat Jhoni tak berkata-kata. Entah paham. Entah tidak tau apa makna yang Jhoni ucapkan. “Memimpin dalam keadaan lapar.”
Memang, kedudukan dan jabatan selalu menghembuskan angin segar akan kekayaan. Lapar bisa dimusnahkan. Tapi, keadaan perut lapar selalu menjerumuskan logika pada “kegilaan.” Tak terkecuali bagi Jhoni. Berkali-kali ia berjuang menahan kegilaan logikanya akibat lapar, berkali-kali itu pula ia hampir terjerumus ke jurang gagasan korup. Untung, amanat mendiang ayahnya selalu bersemayam dalam pribadi Jhoni; bersama benda yang dititipkan padanya: “Hiduplah selalu ingat akan waktu dan berdiri dalam bingkai kejujuran.” Malah tak jarang ayahnya muncul dalam mimpi-mimpi malam ketika amanat sebelum wafat terlanggar. Lagi pula, selama menjadi pemimpin di level rendah, tak cukup uang untuk membiayai organisasinya. Tak ada alasan untuk korupsi.Beda level beda pendapatan. Dulu, Jhoni hanya berkuasa dalam lingkup Desa dan Kota. Kini, jabatan level Provinsi sedang menantinya. Entah apa yang jadi pertimbangan orang-orang daerah, sehingga menumpukan harapan pada Jhoni. Dalam posisi inilah Jhoni dihadapkan pada sisi dilematis; mengambil tawaran orang-orang daerah dengan mengorbankan kemerdekaannya, atau berdiri dalam garis kebebasan tanpa menghiraukan segala kekisruhan di organisasinya.
“Karena melihat perjalanan hidupmulah aku datang dan berharap kau maju dalam pencalonan ketua pada Juni yang akan datang,” sahabat Jhoni akhirnya membuka suara.
“Apa maksudmu?”
“Hanya mereka yang pernah merasakan sakitnya kelaparan, akan menanamkan kepedulian bagi orang lain. Seperti pemimpin teladan kita Muhammad saw. Ia terlahir menjadi yatim, tanpa harta, dan tanpa orang tua semenjak dini. Tapi Ia mampu mengubah semua itu menjadi positif,” sahabat Jhoni kian meyakinkan.
“Jangan pernah mengira aku tak berpikir demikian,” jawab Jhoni. “Mungkin, pikiranku lebih jauh dari apa yang kau pikirkan. Kawan, sepertinya kau lupa; siapa yang berdiri di belakang Muhammad saw. Ialah istrinya Khadijah, saudagar kaya raya yang dengan segenap hati memodali segala kebutuhan perjuangan Muhammad. Sementara aku? Siapa yang bersedia seperti Khadijah padaku; menghibahkan harta benda bagi perjuangan agama dan bangsa, tanpa mengharap diberi jabatan dan akses perusahaan? Lagi pula, ini yang jangan sampai kau lupakan. Muhammad menjadi pemimpin teladan karena bimbingan Tuhan langsung turun kepadanya melalui Jibril. Aku hanya insan bergagasan, tapi bukan berarti tak mungkin mengalami perubahan. Idealisme saja tudak cukup, kawan. Aku tetap butuh akomodasi untuk memuluskan laju idealisme. Sepertinya itu sulit dengan keadaanku seperti ini,” lanjut Jhoni panjang lebar.
Keduanya kembali dimakan sunyi. Hanya gemerincik air, denting jangkrik saling sahut, dan tarian angin yang sesekali membelai rambut Jhoni yang mulai kusut. Kian malam, malam Minggu itu semakin ditinggalkan oleh mereka yang memadu kasih. Entah pada pergi ke mana, entah bersembunyi dalam benda apa. Padahal satu jam yang lalu tepi sungai ini masih ramai. Tanpa sengaja, Jhoni sempat melihat mereka yang berselimut semak-semak kering, bersembunyi dalam kaca-kaca mobil yang sengaja di tutup rapat, ada juga yang kemudian pulang karena, mungkin, di rumah lebih asyik dari pada di bawah semak dan dalam mobil. Entahlah, Jhoni bosan memikirkan apa yang mereka lakukan. Hanya purnama ini, yang selalu Jhoni rindukan, seperti merindukan tambatan hatinya; menjadi saksi malam-malam bisu dengan segala dusta dan keterbukaannya.
# $ #
“Jangan terlalu khawatir. Setelah menjadi ketua nanti, kau akan mudah mendapatkan apa yang kau inginkan. Kedudukan yang tinggi setara dengan daya tawarnya nanti. Kau takan kesusahan hidup lagi,” kali ini sahabat Jhoni menghembuskan rayuan kesenangan bagi Jhoni.
“Kau ingin mengatakan bahwa aku tidak akan kelaparan?”
“Persis Jhon, dari pada kau hidup seperti ini. Tidur di kontrakan kumuh. Makan jarang. Tubuh dan hidupmu tak teratur. Orang bergagasan besar sepertimu tak sepantasnya hidup bak perilakunya para pengemis. Ayolah Jhon, aku butuh jawabanmu malam ini. Biar aku yang memobilisasi massa daerah. Aku bisa janjikan kemenanganmu dalam pemilihan enam bulan yang akan datang,” Jhoni kali ini benar-benar dipaksa.
Jhoni menatap mata lelaki di sebelahnya, dengan tatapan tajam. Setelah sekitar dua menit saling beradu tatapan, bibir Jhoni menyungging sedikit saja; senyum ironis keluar lagi untuk keduakalinya. Tangan Jhoni mulai menepuk-nepuk pundak sahabatnya. Kali ini tawanya pecah. “Kawan,” katanya sambil mengangguk-anggukkan kepala.
“Apa harus aku berbicara lebih detil supaya kau paham. Aku lebih memilih kelaparan dalam keadaan seperti ini. Kalaupun aku musnah, aku hanya menyisakan kemusnahan bagi diriku saja. Dari pada harus kelaparan dalam keadaan keberlimpahan jabatan. Sebab laparnya para raja akan memusnahkan agama dan Negara. Kau tahu apa akibat dari perilaku mereka yang korup? Mereka telah menghancurkan wibawa agama yang dianutnya. Mereka telah menelan hak rakyat sehingga menjadi sengsara dan mengemis-ngemis. Kesengsaraan melahirkan kenekatan guna mencari nafkah. Lahirlah kejahatan di mana-mana. Kau tahu apa ujung dari peristiwa ini? Negara mana pun yang dipimpin oleh raja yang lapar akan hancur di jarah kejahatan yang tak terbendungkan. Kejahatan yang sengaja diciptakan,” Jhoni semakin kukuh.
“Karena kau tahu semua itu maka kau harus menjelma menjadi pemimpin bijak dan jauh dari perilaku kelaparan. Tidak banyak yang berpikir seperti itu di kelompok kita. Manyoritas dari kita hanya mengejar kekayaan sebanyak mungkin dari jabatannya.”
“Aku tak yakin bisa melakukannya. Sekuat apa pun keyakinan akan suatu hal, tak menutup kemingkinan akan runtuh juga. Surga dari jabatan dan uang sulit sekali dibendung. Sekali saja aku terperosok ke dalamnya, aku yakin akan sulit menemukan jalan kembali. Maafkan aku, kawan. Biarkan aku terbang bebas dahulu dengan sayap-sayap kemampuan yang kumiliki. Bila tiba waktunya nanti; tak akan ada keraguan lagi bagiku untuk melakukan segala hal.”

(Lagi-lagi bersambung; juga kapan-kapan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s