Berdiri di Atas Kaki Sendiri

SABTU sore, langit masih cerah. Laki-laki itu masih tertidur pulas di kamar sempit. Beralaskan kardus dan Koran. Remang-remang lampu kamar selamanya menyala. Maklum, kamarnya berada dalam himpitan lingkungan kumuh, sulit untuk sinar matahari sekedar menyapa ruangan itu. Tak ada bunyi detak jam dinding, toh tidak ada jam yang menempel di sana. Hanya buku, pakaian kotor, sepatu lusuh, dan handphon out of date yang berserakan di atas lantai. Oh, ketinggalan. Ada gabus putih menempel di dinding sebelah utara. Sederet puisi warna-warni penuhi gabus itu. Tak ada seorang sahabat si laki-laki pun yang kuat membacanya. “Jiwa yang Merdeka,” adalah tulisan di gabus bagian atas.

“Jhoni..,” saat gelap malam mengecup elegi langit teriakan itu datang mengetuk pintu. Ya, Jhoni, nama laki-laki kurus berambut gimbal, masih tertidur pulas dalam kamar di atas tumpukan hurup; koran, kardus, dan buku. “Bangunlah Jhoni. Malam sudah jam Delapan,” suara dari luar kamar lagi.

“Janganlah berteriak. Masuk saja. Pintu tidak dikunci,” suara lirih Jhoni mulai terdengar. Tubuh masih terbaring, mata kuyu, dan rambut masih belum berbaris rapi. “Kau muncul dalam waktu yang kurang tepat, kawan. Baru saja aku makan satu sendok,” tutur Jhoni yang sudah mulai duduk. Sahabat yang baru datang itu pun sudah ada di samping Jhoni.

“Bagaimana kau bisa makan, sementara kau dalam keadaan tertidur?”

“Ketahuilah, kawan. Dalam seharian ini aku mencoba terapi tidur. Ingat pepatah ibu, dulu. Kalau kau lapar, sementara tak ada makanan untuk dicerna, tidurlah sampai laparmu sirna. Kita takan mati karena tak makan satu hari.”

“Bergegaslah ke kamar mandi, lalu kita akan keluyuran lagi dan mencari makan. Ingat kawan, ini malam Minggu.”
Tanpa mandi, cuma gosok gigi, cuci muka, basuh tangan hingga sikut, basahi kepala, dan bersihkan kaki hingga matanya yang sampai detik ini tidak bisa melihat. Jhoni mendirikan “hobi” menyembah Tuhan yang bersemayam dalam jiwanya. Jhoni pernah berkata kalau hobinya itu sama sekali bukan untuk mengusir lapar. Tapi amanat ayah sebelum ber-sayonara dengan dunia dan keluarga. Ayahnya bilang, “hiduplah dalam ingatan akan waktu dan bingkai perilaku dengan figura kejujuran. Di sanalah kamu akan menemukan kemerdekaan sejati.”

# $ #

Berjalan beriringan, menyusuri jejak-jejak yang tadi pagi dilewati, Jhoni dan sahabatnya menuju tempat yang tak pasti. Seperti biasa. Malam Minggu merupakan ritual para kaum muda. Merayakan masa lajang dengan ingar-senang. Percikan-percikan cahaya dari lampu jalanan, bising suara kendaraan bermotor, dan remaja-remaji yang bergandengan tangan; mengawasi langkah keduanya.

“Ke mana tujuan kita?” Tanya Jhoni.

“Jangan banyak tanya dulu. Orang merdeka tak terkungkung dengan tujuan. Setiap langkah kita adalah pengembaraan ispirasi yang terpenggal.”

“Ah.., seperti biasa kau. Jangan mengejekku dengan mengulang setiap celotehanku. Ciptakanlah kata-kata baru, jangan sekedar meniru. Itu baru kau merdeka.”

“Jangan belagu kau, Jhoni. Aku tahu, kau pun meniru dari buku yang kau lahap setiap waktu itu.”

“Sembarangan, kau. Buku mana yang telah mengatakan ungkapanku itu. Bahkan, untuk memikirkan satu kalimat aneh saja kuhabiskan waktu satu minggu. Kau tahu itu kan?” begitulah percakapan dua sekawan, terdengar samar-samar.

Memang, Jhoni sering mengungkapkan kata-kata aneh secara tiba-tiba. Ketika sedang berkumpul misalnya, Jhoni lebih banyak terlihat termenung saja. Seakan-akan ia hanyut dalam negeri khayali yang ia ciptakan sendiri. Negeri kesunyian dalam lingkaran negara keramaian. Dalam suasana itu pula, Jhoni siap mengejutkan teman-temannya dengan kata-kata misterius. Nyaris tidak nyambung dengan alur obrolan forum tongkrongan. “Makanya, jangan terlalu banyak membaca buku. Biar kau tidak seperti orang kesurupan,” begitu biasanya olok-olok yang menohok Jhoni. Tapi, bukan Jhoni namanya kalau ia sanggup meninggalkan buku; hanya sekedar karena olok-olok sahabatnya.

# $ #

Makan sudah. Kini tinggal minun dan merokok. Meski terkesan tak senonoh, Jhoni bukanlah tipe orang pengkonsumsi alkohol. Dulu, ia tidak seperti kini. Penampilannya selalu rapi, teratur, sopan, dan berbudi luhur; kira-kira itulah gambaran orang yang baik hatinya.

Adalah bermula pada masa mahasiswa tingkat Dua, Jhoni mulai berkenalan dengan dunia aktivis. Di sini. Dalam dunia aktivis. Mata Jhoni menatap dunia labih luas. Kemunafikan, kebohongan, dan kepalsuan yang dibalut dengan niat demi rakyat, adalah musabab kejengahan hidup Jhoni mulai hadir. Seakan benar sedang melaku tindak pembangunan, padahal kerusakan dan penindasan yang sesungguhnya. Ia pun tak segan berbicara lantang. Kritik, hujat, dan kekecewaan kian deras keluar dari lisan Jhoni cukup pedas. Mata Jhoni pun kian hari kian menyala penuh kebenaran. Tapi, kebenaran seakan tertekan dengan kedustaan yang terlanjur menggurita.

“Jhoni, sengaja aku datang jauh-jauh menemuimu. Ada mandat dari daerah-daerah lain agar kau selamatkan organisasi kita,” kata sahabat Jhoni.

“Itu bisa kita usahakan. Bulan depan, ada kegiatan yang bisa memenuhi persyaratan kelayakan kau jadi pucuk pimpinan. Ayolah, mereka membutuhkanmu.”

“Apa yang harus aku selamatkan? Sementara setiap upaya melaku penyelamatan, kebencian kian hari kian menumpuk. Alih-alih menuju kondisi lebih baik, rasanya, musuhku semakin bertambah banyak saja.”

“Hai Jhoni, sadarlah. Sejak kapan kau selembek ini? Matamu selalu menyala penuh semangat. Ke mana Jhoni sahabat yang aku kenal?”

Jhoni tertegun sementara. Senyum simpul mengembang sedikit saja. Seperti biasa menandakan ada hal ironis yang ia pahami. “Ada satu hal yang belum pernah aku ucapkan padamu, kawan. Mungkin juga takan pernah terucapkan. Bila tiba dengan masanya nanti, kau akan tahu dengan sendirinya,” kata Jhoni.

“Apa maksudmu?”

“Percuma saja kau tahu. Lagi pula, takan lama dari sekarang, aku akan meninggalkan semuanya. Meski kutinggalkan, yakinlah kawan, aku takan pernah melupakannya.”

“Jadi, percuma aku datang menemuimu?”

“Bila niatmu hanya membujukku, tak lebih, maka semuanya jadi percuma. Tapi, jika kau datang padaku karena persahabatan kita, tentu tak percuma. Kau telah menyelamatkanku dari kelaparanku hari ini. Aku hanya ingin menikmati kemerdekaanku untuk masa-masa ini.”

(Bersambung kapan-kapan)

3 thoughts on “Berdiri di Atas Kaki Sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s