Kenyataan Berkesinambungan

(Sambungan dari Akibat Lapar)

YA, purnama masih saja menatap bulat. Matanya menyapa setiap apa yang ada di atas hamparan tanah. Meski sesekali awan dan mega menelan langit, tetap saja kekuatan cahayanya tak mampu dibendung; berkelit dan menerobos menyapa elegi bumi. Dini hari memuntahkan embun guna menyapa rerumputan. “Malam Minggu yang indah,” gumam Jhoni. Seharusnya, malam Minggu seperti ini tak dihabiskan bersama laki-laki. Apa lagi memperbincangkan kekuasaan yang tak ada ujungnya. Rasanya suntuk dan hambur kata-kata.

Semestinya. Ya, semestinya, malam Minggu seperti ini dihabiskan dengan sang tambatan hati, kekasih tercinta yang baru jadi harapan serta hanya baru angan-angan; belum mampu untuk dengan tegas mengatakan isi hati. Merajut kasih berdua, menyulam janji di bawah saksi purnama yang tak pernah jalir, menatap hari depan yang indah; masa yang lebih besar dari sekedar memangku jabatan. Masa di mana setiap sudut ruang kehidupan dihiasi kekuatan tiada tara; cinta.Ah, hati Jhoni membatin. “Hari gini masih memikirkan cinta?” kata-kata kebanyakan orang itu hadir di kening Jhoni. Meski demikian, mungkin juga sedikit ketinggalan zaman, Jhoni masih yakin akan kekuatan cinta. Hanya cinta, ya, hanya cinta yang mampu meyuguhkan aslinya tawa, mengikis sebesar apa pun perbedaan warna kulit, usia, keyakinan, kakayaan, dan segala macam musabab petaka menyapa pergaulan manusia. Hanya cinta, yang tak butuh rekayasa.

Asap rokok mengepul dari masing-masing apitan jemari kedua lelaki di pinggir kali itu, menyapa mata rerumputan liar, hingga perih dan menjatuhkan isak kristal pucat; dingin. Lonjakan cacing dalam perut dikalahkan deru angin yang kian kencang. Tak ada lagi penjajak makanan, semua telah kembali ke pangkuan ranjang di kamar masing-masing rumahnya; membawa penghasilan yang tidak merata. Ada yang untung dengan senyum menyungging di mulut. Ada yang rugi dengan kening berkerut. Ada pula yang hanya impas dengan modal dan cukup dengan bekal untuk seisi perut. Seandainya bukan karena satu hal yang bernama kewajiban berusaha, tak lah mudah bertahan dalam keambangan nasib menjadi makhluk hidup; semuanya cukup melaju dalam jalur kepasrahan dan kepatuhan.

Jhoni, yang beberapa kali memangku jabatan sebagai pucuk pimpinan dalam organisasi, kerap iri dengan keharmonisan hidup keluarga sederhana, seperti para pedagang makanan yang telah pada pulang beberapa jam silam. Setidaknya, dalam waktu-waktu ke belakang, Jhoni pernah merasakan apa yang menjadi keirian hatinya. Keluarganya yang sederhana, sebagai petani, di desa sana, di kaki gunung yang tak kan pernah terlupakan, kerap menyuguhkan kehangatan keluarga; makan nasi meski kadang sepiring berdua; rekreasi dengan menanam rempah-rempah di kebun peninggalan tetua, menyaksikan tarian pepohonan tertabrak angin, dan nyanyian burung liar yang tak tertandingi nadanya dengan musik mana pun. Sungguhpun alam memang sahabat paling bersahaja bagi kehidupan manusia.

Sayang, akhir-akhir perjalanan kehidupannya kini, sebagai pucuk pimpinan organisasi, kerap menyita kehangatan itu. Tugas, rapat, kunjungan ke tempat lain, dan urusan mengurus anggota organisasinya sangat menyita waktu. Sulit menemukan waktu untuk sekedar pulang ke halaman kampungnya, pada masa libur studi sekalipun.

Jhoni sadar, dalam hidup, selain membutuhkan modal pinansial, juga terpenting menanamkan berkah dari orang tua. Itulah musabab kenapa bersikukuh menolak jalur politis guna menopang karir hidupnya. Hanya mereka yang memiliki tempat pulang yang mampu mengenyam hidup berbahagia. Tiada rasa sakit yang paling akut daripada tak memiliki tempat pulang sama sekali.

“Aku tak menyuruhmu menjadi raja yang menguasai negara, kawan. Aku hanya memintamu memimpin organisasi kita saja,” Jhoni dikagetkan oleh obrolan yang belum juga rampung. Lamunannya membuyar entah kapan akan menjumpainya lagi. “Tak ada Negara dan Agama yang akan kau hancurkan.”

“Ah,” Jhoni mendesah.

Sulit juga berbicara dengan politisi zaman ini. Mungkin benar, pikirnya, menjadi politisi tak butuh keluasan wawasan, ketajaman berpikir, apa lagi kepekaan perasaan. Sepertinya, kebanyakan politisi waktu ini akan sepakat; bahwa politik hanya membutuhkan banyak suara, bahkan tak masalah bila sampai harus dibeli dengan biaya mahal. Visi, misi, gagasan, serta janji, cukuplah dibingkai dengan kecerdikan menyulam keindahan senyuman penuh tipuan; selesai perkara merebut tahta. Sungguh pendirian yang sangat memuakkan benak Jhoni.

Sambil mengambil langkah pulang, Jhoni menggandeng pundak sahabatnya. “Kau coba pikirkan kembali apa yang baru saja menguap dari lisanmu, kawan,” katanya lirih namun tegas. “Jangan mentang-mentang lidah tak bertulang serta bibir tak berkerangka, kau seenaknya mengumbar kata. Kau tahu siapa aku. Kau tahu apa yang tertempel di dinding-dinding kamar tidurku. Bahkan kau tahu apa yang menjadi alas tidurku; rangkaian kata yang tiap hari menjadi makanan kajianku. Mudah untuk memahami apa yang kau katakan tadi.”

Malam hampir menjemput pagi. Biarlah sang mentari yang mengecup bumi. Dalam pikir Jhoni, tak perlu lah repot-repot menjadi saksi kemesraan mentari bersama bumi; keduanya sama-sama setia menyimpan rahasia dalam bahasa masing-masing. Hanya manusia yang sulit dipercaya. Mulutnya selalu gatal meracau mengundang suasana jadi kacau.

# $ #

KAMAR tidur kontrakan Jhoni masih menyediakan temaram saja. Bohlam berkekuatan 25 watt tidak terlalu berlebihan. Asal memberi cahaya secukupnya, tidak kegelapan laksana di gua dan jelas menyinari setiap hurup buku yang dibacanya. Seperti cahaya hatinya yang konsisten memberi cahaya semangat hidup mandiri. Bergantung pada orang lain hanya menyisakan rasa sakit saat ditinggalkan dan hanya dibekali penghianatan. Lagi pula, Jhoni telah cukup terlatih dengan yang nama pentingnya menjadi pelopor dari pada sekedar menjadi pengekor.

Bagi Jhoni, memimpin suatu organisasi sama saja dengan memimpin satu Negara. Pucuk pimpinan adalah raja. Anggota merupakan rakyat yang sejatinya diayomi, yang sakit diobati dan yang sehat cukup menghibur, bila tak memiliki kemampuan medis, diperhatikan kesejahteraan hidupnya, dibangun keterampilan pribadinya, dan didewasakan; hingga masing-masing dari mereka mampu tumbuh besar dan mandiri pada masa masing-masing jalan hidupnya. Terlebih dari itu, memimpin organisasi merupakan jenjang kepemimpinan yang suatu hari akan sampai pada puncaknya.

Hari ini boleh saja memimpin organisasi kemahasiswaan, kepemudaan, atau apa pun. Esok hari harus siap memimpin Negara secara luas. Karena itu, tak ada alasan berleha-leha dalam proses pembelajaran. Sukses membangun masyarakat dalam skala kecil adalah bekal kesuksesan membangun masyaraat luas seperti dalam konsep kenegaraan.

Kenyataan itu sifatnya berkesinambungan!!!

Tentu tak dapat dipungkiri, bila dalam perjalanan kepemimpinan sejak dini sudah berani melaku korup, maka demikian pula di masa dewasa saat memangku jabatan dengan keberlimpahan kesempatan yang menjanjikan; memberi ruang lebar kesempatan meraup banyak kekayaan. Ya, alasan inilah, kenapa Jhoni menyarankan sahabatnya untuk kembali memikir ulang apa yang diucapkan sahabatnya.

“Maaf bila kurang nyaman. Inilah tempat tidurku, berantakan. Kita akan sama-sama merasakan bagaimana mengarungi tantangan hidup sebagai masyarakat kurang beruntung,” tutur Jhoni sambil merebahkan tubuhnya.

Lampu yang hanya temaram dipadamkan, hanya dengan mendiami ruang gelap, mata manusia bisa beristirahat secara total. Memetik bunga mimpi pun tak canggung dalam lelap tidur yang mendengkur.

(Akan terus bersambung)

AMIN R ISKANDAR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s