Selayang Manglayang

PERCIKAN air hujan jatuh mengembang, di bukit Gunung Manglayang. Udara dingin perlahan meresap ke kulit hingga menusuk tulang. Kesunyian alam telah mengubur segala suara sumbang, yang sebelumnya selalu saja terngiang.

Di bukit Manglayang, sejanak kami menyimpan bayang. Melempar angan melayang tanpa benang. Segala gundah, penat, dan kejemuan hidup sementara tersimpan di tengah-tengah keramaian Kota Kembang. Kami berdelapan, para pencari tanjakan, demi pempertahankan nama kebesaran PasPoed Community, nampak seumpama para pemuda riang. Memang sesungguhnya juga riang.

Air hujan terus mengembang. Lekukan tanah bukit cukup menampung air yang ingin sejenak bergenang. Sebelum tiba waktu mengalir kembali atau menguap ke awang.

Cukup lama dalam suasana hujan yang menyerang, memaksa kami berlindung dalam bangunan warung. Suasana nampak kumuh, memang. Atap yang hampir roboh tertahankan empat kayu setengah keropos; kayu yang sudah cukup tua usianya sebagai tiang. Bangunan tua yang belum mampu membendung hasrat kami untuk bersenang-senang.

Aku mulai menalakan api unggun biar ruangan sedikit hangat dan lebih terang. Maklum, langit sedang dalam suasana murung. Mendung. Berkabung. Sebab hutan tak lagi ramah buat burung. Seperti di sini, di Manglayang.

Hingga pada waktu yang telah digadang-gadang, langit pun mengubah wajah hingga enak dipandang. Sinar mata yang ada di angkasa berbinar seterang mata kami yang selalu senang. Langkah kami bergegas meninggalkan warung. Tentu, kebun Pinus menjadi arena aksi tawa kami selanjutnya; kebun pinus bagi kami bak lapangan lempang. Latar ideal berpose di depan kamera berlensa tele panjang. Sayang, tamasya kali ini hanya ada Tommy, Nurachman Wahid, Wildan Assagap, Lili, Irfan Al-Faritsi, Allan Nukita, Darma Legi, dan Amin R. Iskandar; tanpa Agung.

Di taman pinus, sesekali bercanda dengan burung. Burung yang hinggap dan berpindah dari satu batu ke batu lain yang menyerupai gunung. Seakan sedang berceloteh bahwa kami dan burung sedang sama-sama riang. Mengepakkan sayap mengarungi alam bebas, di udara melayang-layang. Sekalipun tak bersayap, kami tetap mengepakkan angan di angkasa, juga melayang-layang.

Bagi kami, aktivitas seperti ini adalah rutinitas yang dilakukannya sudah sering. Kalau tidak satu minggu, ya satu bulan sekali; yang penting ikatan kami terus tersambung. Dan, bukan hanya di Manglayang. Sempat juga kami berkunjung ke Padalarang dan Galunggung. Ya, begitulah. Kami memilih gunung sebagai tempat singgah karena (katanya) dekat dengan Zat yang Agung. Manusia hanya kepada-Nya pantas berlindung.

Sepulang dari manglayang, harapan kami tak kembali pusing. Manglayang, tentu dari memori takan pernah terbuang. Sekalipun tidak ke Manglayang, kami akan berkunjung ke lain gunung; pada masa mendatang. Kalau waktu dan bertemu dengan nasib untung.

(Geus ah, hese neangan kata nu akhirna “ng”. Itung-itung latihan we ieu mah)

AMIN R. ISKANDAR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s