Sopir

“Tuhan…,” pekik dalam hatinya.

Sementara adzan magrib hampir berkumandang.

Matanya menoleh ke kiri-ke kanan.

Rambutnya tak terbasuh sedari pagi,

pun begitu dengan mukanya.

“Tuhan…,” pekik dalam hatinya, lagi.

Perjalanan masih jauh.

Terbayang dalam memori: anak dan istrinya

sedang duduk berhadapan

di ruang tengah rumah,

memandang mangkuk kosong menunggu isi.

“Tuhan…,” pekik dalam hatinya, lagi, lagi.

Ia membanting setir, perlahan.

Lalu menengok sejenak ke belakang:

“Penumpangku hanya dua orang…”

“Tuhan…,” pekik dalam hatinya, lagi, lagi, dan lagi.

Sementara ibu jarinya tak pernah diam.

Klakson terus berbunyi tiap kali orang berlalu lalang di pinggir jalan.

Lagi-lagi yang diberi isyarat menggelengkan kepala.

“Tuhan…,” hatinya tak mampu lagi memekik.

Sementara kubah mesjid telah puluhan terlewati;

antara Kalapa-Caheum.

Semua kini ramai dengan kumandang adzan.

Ia enggan pulang ke rumah.

Anak dan istrinya masih menatap mangkuk kosong.

Sambil menatap wajah ibunya, si anak berkata lirih:

“Sudah waktunya buka, Bu…”

Jl. Gumuruh No. 37, Bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s