Makin Pintar Seperti Edison

Oleh AMIN R. ISKANDAR

SEJUJURNYA, saya tidak selalu mengikuti perkembangan PLN. Asal tiap kali diperlukan ruangan tetap terang, saya selalu nyaman. Sesekali padam karena kabelnya terganggu timpahan pohon tumbang atau kawat bandangan anak-anak kala bermain layang-layang, misalnya, itu sedikit kawajaran yang perlu dimaklumi. Namun, kahadiran sistem Listrik Pintar—yakni pembayaran listrik berbayarkan pulsa (token)—pada tahun 2008 benar-benar mengalihkan perhatian saya.

Waktu itu tetangga saya membangun rumah. Otomatis ia memasang listrik baru, agar dapat menempati rumahnya. Karena PLN sudah menerapkan sistem Listrik Pintar, mau tidak mau tetangga saya memasang meteran yang diset dengan deretan angka-angka. Boleh dikata, tetangga saya itu adalah orang pertama yang memasang Listrik Pintar.

Alhasil, tetangga yang satu itu bukan hanya beradaptasi dengan rumah baru, tetapi juga dengan sistem listrik yang baru pula. Beradaptasi dengan rumah baru tidaklah bermasalah, toh ia hanya pindah dari rumah orang tuanya ke rumahnya pribadi. Jaraknya pun tidak terlalu berjauhan. Dalam kata lain, ia tidak mesti berkenalan lagi dengan tetangga dan adat kebiasaan lingkungannya.

Namun, beradaptasi dengan sistem listrik baru itu yang kadang membuatnya repot. Di kampung saya konter pulsa masih jarang. Kalaupun ada, selain jaraknya jauh juga waktu bukanya paling lama sampai selepas magrib. Maklum saja, kehidupan di kampung tak seramai di kota yang dapat hidup 24 jam. Sementara, karena belum mampu menakar pulsa sekian untuk jangka waktu atau pemakaian sekian, listriknya kadang mati hampir menjelang tengah malam. Apa boleh buat, ia mesti kembali ke masa lalu; memanfaatkan lampu bersumbu atau lilin sambil menunggu hari esok. Soal asiknya menonton film di layang televisi, terpaksa dikuburnya dalam-dalam. Begitu dan begitulah sampai akhirnya ia benar-benar hafal dengan kebiasaan listriknya itu.

Selain tetangga saya yang langsung bersinggungan dengan sistem Listrik Pintar, tetangga lain juga ramainya bukan main. Di warung, di majelis ta’lim, di ladang, di kebun, dan hampir di setiap tempat dan waktu—asal ada kesempatan—tak lepas dari obrolan bertemakan: “Listrik Pintar”. Ya, begitulah kurang lebih selama satu bulan. Penggosipnya tentu didominasi oleh kaum ibu. Anehnya, pembicaraan soal listrik token itu seakan tak ada habis-habisnya. Belok sini-belok sana selalu saja ada sambungannya.

Saya yang sesekali mendengar percakapan mereka kerap berkelakar: “Ibu-ibu téh garaduh bakat janten pangarang, nya?” (Ibu-ibu pada punya bakat jadi pengarang, ya?). Tentu hanya gelak tawa sebagai responnya, barang kali mereka sudah terlanjur merasa.

Hari-hari berikutnya, kaum ibu semakin pintar mengarang cerita. Hebatnya, berita yang mengalir dari mulut ke mulut itu—sekalipun tidak pasti dari mana pangkalnya—mampu menyedot minat ibu-ibu lain untuk mengganti meteran listriknya dengan sistem Listrik Pintar. Soal masa adaptasi, bisa berkonsultasi pada tetangga yang memasang pertama kali.

Pada akhirnya, kaum ibu sebagai bendahara rumah tangga kian bertalenta. Selain kian piawai mengalokasikan uangnya untuk pembayaran listrik, mereka juga juga makin pintar mencipta cerita; memijit suami; dan memijit nomor yang tertera pada meteran listrik untuk memasukkan 20 digit nomor yang berderet pada voucher.

Ya. Listrik Pintar memang lahir dari orang pintar. Betapa tidak? Pencetus Listrik Pintar tentu orang yang mampu memikirkan sesuatu sebelum orang lain memikirkannya. Begitulah yang terjadi pada si penemu lampu, Thomas Alva Edison, pada tahun 1879. Karena itu tak heran jika kemudian melahirkan kepintaran-kepintaran baru pada penggunanya. Soal nilai dari ide tersebut, saya teringat salah satu ungkapan Edison: “Nilai dari sebuah ide adalah pada penggunaannya”.

Catatan: Tulisan ini disertakan dalam lomba cerita pengalaman menggunakan Listrik Pintar yang diselenggarakan oleh Baraya PLN JabarBanten.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s