Pindah ke Bandung

MATAHARI baru saja muncul dari dasar timur. Udara mendadak lebih dingin dari biasanya. Kami sudah berkemas. Persiapan telah lengkap, bahkan sejak hari masih malam. Lagi pula, barang yang kami kemasi tak begitu banyak. Hanya setas gendong berisi pakaian dan laptop. Sisanya satu dus bekas mie instan, berisi beras dan makanan ringan pemberian ibu dan nenek. Tak ketinggalan tiga buah piring, dua mangkuk, tiga gelas, dan tiga sendok makan.

Hari itu hari Minggu. Tanggal 19 Mei 2013. Kami, aku kedua istri, mantap pindak ke Bandung. Merajut impian. Menyulam harapan. Menenun cita-cita. Kami hendak belajar hidup mandiri. Keluarga kecil kami baru saja terbentuk setahun, kurang dua minggu, sejak Minggu, 03 Juni 2012.

Memang, dalam rentang waktu satu tahun kami telah dikaruniai seorang anak. Laki-laki jenis kelaminnya. Ia lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Tasikmalaya pada Selasa (02/04/2013) dini hari, tepat pada pukul 03 kurang 10 menit. Saat lahir, berat badannya 3,3 kg dengan tinggi 50 cm. Sungguh anak yang tampan. Berdada sembada. Rambutnya hitam nan lebat.

Sayang, usia anak kami tak begitu panjang. Setelah berperang melawan asfiksia dalam inkubator selama dua hari dua malam, ia meninggal pada Kamis (04/04/2013) sore, pukul 15.00. Tentu ia sudah bernama, Anggara Jati Buana. Soal penyebab kematiannya, kami tak mau menerka-nerka. Kami terima dengan lapang dada, bahwa itu yang terbaik di tangan yang Kuasa.

Hari Minggu masih pagi. Pekarangan rumah telah penuh oleh saudara kami. Adik, kakak, sepupu, nenek, paman, dan bibi. Di rumah ada ayah dan ibu. Lalu kakek masuk sekedar untuk menyalami kami. Dari raut mukanya tampak bahwa kakek sedang kurang sehat.

Tepat pukul 07.10, kami mulai pamitan. Tak ada adegan yang dramatis, kecuali saat istriku dan ibunya berpelukan. Air mata keluar dari sepasang mata keduanya. Maklum, istriku adalah anak perempuan satu-satunya, di antara ketiga saudara laki-lakinya. Lagi pula, di rumah, kini ibu tinggal hanya berdua dengan si bungsu. Ayah dan kakak yang paling besar bekerja di Bandung, begitu pula si adik yang kuliah di Bandung. Kepergian istriku tentu menyisakan kesunyian di rumah.

Selesai pamitan, kami mulai melangkah ke luar rumah. Di pekarangan, semua saudara sudah siap mengantar kami dengan do’a. Namun, sebelum kami benar-benar pamit dan menyalami mereka, terlebih dahulu menjenguk makam anak kami yang terletak di depan rumah, sekedar untuk berpamitan dan menitipkan karinduan yang dalam. Lagi-lagi air mata istriku keluar, bahkan lebih deras dari yang tadi keluar saat berpelukan dengan ibunya. Mafhum, karena setelah menunggu kelahirannya yang cukup lama, anak kami malah lebih dulu untuk menghadap-Nya.

Tak lama kami memandangi gundukan tanah yang berusia 40 hari itu. Kami bergegas kembali menuju pekarangan, di mana saudara kami tengah berkumpul menunggu. Satu per satu kami salami mereka. Tak ada rasa berat hati. Tak ada keragu-raguan. Kami mantap hendak pergi.

Kepergian kami diawali dengan naik motor. Aku membonceng istriku dan ayah membonceng kakak. Kira seperempat jam perjalanan, kami tiba di terminal Singaparna. Selepas itu, kakak dan ayah langsung pulang dengan masing-masing mengendarai satu motor.

Karunia Bakti jurusan Jakarta adalah bus yang kami pilih sebagai alat transportasi penghantar ke Bandung. Dari terminal Singaparna bertolak tepat pukul 08.30. Tak banyak cerita yang hendak kami ingat dalam perjalanan. Kami mulai tidur dalam mobil. Kira pukul 11.30, kami tiba di Cileunyi. Ongkos yang mesti kami keluarkan adalah Rp 25.000/orang.

Untuk sampai ke tujuan yang sebenarnya, kami mesti naik tiga angkutan kota lagi. Pertama-tama naik angkutan jurusan Cileunyi-Cicaheum, turun di Cibiru dengan ongkos Rp 2.500/orang. Lalu naik angkutan jurusan Cibiru-Cicadas, turun di Binong dengan ongkos Rp 4.000/orang. Terakhir, naik angkutan jurusan Kebon Kalapa-Cicaheum atau jurusan Elang-Cicadas, turun di Jl. Gatot Subroto tepat di depan gang ke Gumuruh dengan ongkos Rp 1.000/orang.

Tepat pukul 13.00, kami tiba di kamar kontrakan indah. Ruangannya sama sekali tak luas, berukuran 3 X 1,60 m2. Namun, kami memiliki kamar mandi di dalam kamar, sesuai dengan keinginan. Ongkos sewa kamar Rp 200.000/satu bulan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s