Siti Rayati, Gadis Malang Penentang Korupsi

Oleh AMIN R. ISKANDAR

Untitled-1NAMANYA Siti Rayati, keturunan (ibu) Sunda (ayah) Belanda. Ia tokoh fiktif dalam roman Sunda Siti Rayati, buah tangan Moh. Sanoesi. Karya sastra yang tebalnya 76 halaman ini pertama kali terbit pada tahun 1923 (Penerbit Dachlan Bekti). Tahun ini (April 2013), Penerbit Kiblat Buku Utama menerbitkannya kembali.

Dalam keutuhan roman Siti Rayati, ada relevansi cerita yang tak pernah usang. Pertama, roman ini bercerita tentang seorang bayi yang lahir hasil hubungan ilegal. Orang tuanya tidak menikah. Cerita serupa terjadi belakangan ini, di mana seorang oknum bidan berinisial TM di Cipadung-Bandung menjual-belikan beberapa bayi “terbuang”. Salah satunya Raisa, yang kemudian dirawat oleh Dekan salah satu Fakultas pada Universitas Islam Negeri Bandung.

Siti Rayati lahir bermula dari adanya kesewenang-wenangan Tuan Kontrakan terhadap salah seorang buruhnya, di perkebunan teh Ragasirna. Patimah, ibu Siti Rayati, masih berusia 15 tahun ketika Steenhart merenggut kehormatannya pertama kali. Kemudian kejadian serupa berulang berkali-kali, sampai tumbuh janin dalam rahim. Tidak lama kemudian, ibunya Patimah meninggal. Usahanya meminta pertanggungjawaban Steenhart pun berbuah caci maki hingga penganiayaan. Patimah kian terpuruk dan tak memiliki pilihan lain selain mengelana sambil menanggung cela.Adalah hukum alam, setiap yang mengandung mesti melahirkan. Betapa memprihatinkannya Patimah, seperti tergambar dalam adegan:

“Karék baé kira-kira meunang sapal leumpangna, di palebah Désa Cirayati manéhna (Patimah) kapaksa eureun, teu kawawa, hayang sabrol-broleun.

Tuluy manéhna gagancangan leumpang ka saung di kebon ganas, teu jauh ti jalan gedé, sarta teu kungsi saparapat jam, kalawan henteu hésé, brol baé manéhna ngajuru…, salamet teu aya kumaha-kumaha…

Orok oa-oaan…, indungna hudang nyusutan getihna ku samping, bari luak-lieuk néangan awi, rék nyoéhkeun hinis keur neukteuk tali ari-ari.

Dorodod manéhna narik palupuh saung, tuluy digégél nyoéhkeun hinis, det, tali ari-ari dipotong” (Siti Rayati, hal. 35).

Kisah Siti Rayati memang tidak sepersis kisah Raisa. Raisa jauh lebih mujur, karena sempat mendapat penanganan medis yang layak. Di sisi lain, motif orangtua Raisa menelantarkannya masih misteri: Apakah korban pelecehan seksual? Buah kasih orang tua yang suka sama suka (baca: pergaulan bebas)? Atau karena faktor ekonomi? Untuk menjawabnya kita tak bisa menerka-nerka. Namun, paling tida, Siti Rayati dan Raisa sama-sama memberi pesan; bahwa selalu ada korban dari setiap perbuatan tercela.

Hal lain yang membuat roman Siti Rayati masih relevan adalah keserakahan pemangku jabatan. Wilayah ini tersentuh dalam bagian ketika Siti Rayati sudah dewasa.

Siti Rayati tumbuh dewasa di bawah asuhan seorang bupati. Pertemuan keduanya bermula sejak beberapa menit setelah Siti Rayati lahir. Patimah meninggalkannya di salah satu dangau kebun nanas di Desa Cirayati. Beruntung, setelah sempat akan dimangsa anjing—salah satu jarinya bahkan sudah terkena gigitan—Lurah Cirayati menemukan bayi itu. Sang Lurah lalu menghadiahkan si bayi ke Juragan Wadana, yang begitu lama merindukan keturunan. Semua orang kemudian menganggap bahwa Siti Rayati anak kandung Juragan Wadana, yang tiga tahun kemudian naik jabatan menjadi Bupati.

Posisi Siti Rayati yang berada di bawah asuhan pejabat, serta mengenyam pendidikan yang layak dari guru Belanda di Betawi, membuat pola pikirnya kian berkembang. Ia gemar membaca buku, salah satunya Max Havelaar karya Multatuli (nama pena Eduard Douwes Dekker). Hubungan asmaranya dengan seorang jurnalis ternama, NN, di Semarang secara otomatis kian menjernihkan alam pikirnya.

Muncullah konflik antara Siti Rayati dengan ayahnya. Yang menjadi pasal, si ayah bersikeras menjodohkan putrinya pada orang yang sederajat dengan maksud menjamin kebahagiaanya. Sementara Siti Rayati kukuh menolak, karena tahu identitas calon suami yang diajukan ayahnya. Dalam keyakinan Siti Rayati, calon suami tawaran ayahnya itu justru yang akan menyiksa dirinya. Simak cuplikan ini:

“Nyiksa..?” saur ramana kagét.

“Sumuhun…, tokh ku Mama seueur nu dipindingan…, siga naker anu Mama henteu uninga téh….”

“Dipindingan…, na kumaha kitu, Ti?”

“Ari nu dibui lantaran maling duit, saha Mama? Teu acan lami deui kénging surat mantéga…, saha éta? Lain éta maksad Mama téh? Naha ku Mama éta teu dicarioskeun? Émutan abdi ayeuna mah moal nanjung deui, margi kagorénganana kasalahanana ditémbongkeun ku maranéhna sorangan” (Siti Rayati, hal. 59).

Sementara dalam kesempatan yang lain, ayah dan anak itu bercakap-cakap:

“Dupi mobil ti Babah Kim

Long téh, ka pengker, sabaraha diartosanana?”

“Is da éta mah pokna ogé méré, Ti, naha kumaha kitu, aya naon…?”

“Ah, teu aya nanaon, ngan éta baé asa béréhan teuing, kawas aya pangarahna, moal cara kuda adu nu ti Karta mah ti Ciwaru? Geuning ari omongna mah ngahaturanan, keun baé montong diartosan…, ari pék…, sanés méh nyilakakeun ka Mama?” (Siti Rayati, hal. 67)

Dari sini dapat tergambar bahwa mental korup para pejabat merupakan penyakit lama. Caranya nyaris tak berubah, misalnya Anas Urbaningrum menerima gratifikasi mobil Harrier seperti dalam pengakuan M. Nazaruddin; Rudi Rubiandini, Akil Mochtar, dan Setyabudi Tedjocahyono menerima suap uang tunai—baik rupiah maupun dollar. Barangkali yang berevolusi hanyalah penggunaan kode saat korupsi. Misalnya kata “buku”, “meter”, “apel Malang”, “komandan”, “lurah”, “cantik”, dan “ijazah” yang hanya dapat dimengerti oleh satu komplotan koruptor saja.

Justru yang paling menarik adalah roman Siti Rayati berusaha menunjukkan bukti bahwa mental korup bukan warisan Belanda, melainkan kecenderungan setiap penguasa di manapun juga. Dan pada akhirnya, seumpama kisah dalam Kitab Suci, cerita dalam karya fiksi yang kaya imajinasi selalu menyimpan pesan suci, paling tidak sebagai bahan tuntunan untuk diikuti atau malah peringatan agar dihindari. Karena itu, barangkali, karya sastra seperti Siti Rayati mesti tetap lestari. Paling tidak, melalui karya sastra Siti Rayati menemukan cara untuk membersihkan laku kotor (baca: korup) ayahnya.

Artikel ini pernah dimuat dalam Harian Pagi Tribun Jabar edisi Sabtu (19/10/2013).

One thought on “Siti Rayati, Gadis Malang Penentang Korupsi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s