Ayah dan Baju Lebaran

SYAZWAN umurnya hampir genap dua tahun. Dia anakku. Pandai benar dia bicara. Kami sering berbincang, terutama seputar kuda, merpati, ayam, dan ikan (termasuk lele dan belut).
Beberapa kosa kata yang khas keluar dari lisan Syazwan adalah: Wakati = téwak japati (tangkap burung merpati); wakago = téwak hayam jago (tangkap ayam jantan); dan acing, etut, eunang, geung = mancing, jetut, beunang, ageung (lempar kail, tarik, dapat (ikan), besar) sambil memetakan tangannya. Kerinduan akan keempat jenis hewan itu sering terbawa ke dalam mimpinya. Setiap menyaksikan dia mengigau, aku suka tertawa sendiri. Dia anak yang luar biasa.
Bagiku, menjadi seorang ayah mesti memiliki kesanggupan untuk melihat masa lalu diri sendiri. Mungkin, Syazwan adalah cermin yang paling dekat untuk masa kecilku; meski aku sendiri tidak begitu yakin kalau masa kecilku persis seperti dirinya.
Kesanggupan untuk melihat masa lalu memberiku kekuatan, bahwa setiap tantangan yang Syazwan berikan mesti aku kalahkan.
Syazwan selalu menantangku di pagi hari. Dia jarang sekali bangun kesiangan. Begitu adzan subuh berkumandang, matanya terjaga, lalu memohon digendong ke kamar mandi untuk buang air seni. Dia juga tidak pernah rewel jika untuk sementara waktu ayahnya ini pergi sembahyang di masjid.
Tantangan bagiku adalah sepulang dari masjid—aku termasuk orang yang suka mengantuk sehabis subuh. Begitu aku menghampirinya, Syazwan menyambut dengan perintah, “Tos acuk = gentos acuk!” Maksudnya, aku harus mengganti baju. Dia bagaikan jenderal, dan aku adalah perajuritnya. Bagiku, perintahnya itu bukanlah perkara yang berat.
Sejurus kemudian, Syazwan pasti menggenggam jari telunjukku. Lalu dia menuntunku ke bibir pintu, seraya membuat titah, “Buka! Meng, luar = ameng ka luar (buka pintu, kita main ke luar)”.
Tugasku memberi dia pengertian: di luar masih gelap, udaranya terlalu dingin bagi kondisi tubuhnya yang sedang menjalani rawat jalan untuk enam bulan. Sungguh, kadang anakku tidak cukup diberi pengertian dengan kata-kata. Dia selalu meminta alasan yang nyata.
Ku singkab gordeng kaca depan rumah, “Tuh, poék kénéh (lihat, di luar masih gelap),” kataku meyakinkan.
Untunglah, Syazwan bisa juga mengalah, walau untuk sementara waktu. Jadi, aku masih bisa baringan di kasur (sambil curi-curi kesempatan tidur), sementara dia bermain di sampingku, dan ibunya seperti biasa mencuci baju.
Syazwan selalu ingat betul kapan jadwa untuk ke luar dari rumah. Kira jam enam, dia akan menarik kain yang menyelimuti tubuhku. “Lepan.., lepan.., = tilepan-tilepan (lipat selimbutnya!),” katanya. “Meng, luar, tos aang = (urang) ameng ka luar, tos caang (kita main, di luar sudah terang)”.
Tidak ada alasan untuk menolak. Kubereskan tempat tidur, sambil memberi pilihan, “Wakati, wakago?”
“Wakati!” jawabnya.
“Wakago, wé?!” aku menggoda.
“Wakago,” katanya sambil menganggukkan kepala. Semangat benar dia.
“Hayu.”
Kami, dua sekawan, ayah dan anak, setiap pagi mesti keluar rumah untuk mengganggu istirahat merpati atau si ayam jantan. Dia sudah mengerti betul, bahwa untuk menangkap merpati, kami membutuhkan jagung.
Hah.., Syazwan. Kapan kau bisa menantangku dengan kalimat, “Apa (begitu Syazwan memanggilku), iraha mésér acuk lebaran? (Ayah, kapan kita beli baju lebaran?)”. Untuk sementara, tantanganmu diwakili oleh ibumu, Nak.

Bandung, 19 Juni 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s